This nice Blogger theme is compatible with various major web browsers. You can put a little personal info or a welcome message of your blog here. Go to "Edit HTML" tab to change this text.
RSS

Saturday, 23 August 2014

SENTRA BERMAIN PERAN

Sentra bermain peran adalah pusat belajar bagi anak-anak uisa dini. Anak-anak usia 2-3 tahun, 3-4 tahun, 4-5 tahun menyukai hal-hal yang imajinatif. Anak-anak bermain dalam berpura-pura dan menirukan pengalaman yang di dapat dalam dunia nyatanya. Dalam kegiatan main di sentra main peran anak dapat mengembangakan kemampuannya bersosialisasi, mengikuti prosedur, bereksperimen dan berbahasa.
Di sentra main peran ada tahapan perkembangan yang digunakan sebagai penilaian bagi guru, tahapan perkembangan itu sebagai berikut:

1. Agen Simbolik (diarahkan pada apa/siapa atau siapa yang menerima tindakan).
2. Pengganti Simbolik (menggunakan alat-alat sebagai pemeranya).
3. Kerumitan Simbolik (jumlah dan kerumitan adegan, menggunakan naskah pendek dalam konteks yang sama).
Agen Simbolik 1
Anak pura-pura melakukan kegiatan.
Contoh:
1. Anak pura-pura makan, tidur, atau minum;
2. Anak pura-pura menyisir atau menyikat rambutnya;
3. Anak-anak pura-pura berbicara dengan menggunakan telepon mainan.
Agen Simbolik 2
Anak pura-pura mengarahkan kegiatan sederhana pada temannya atau benda.
Contoh:
1. Anak memberi makan atau memandikan boneka;
2. Anak meletakkan boneka di tempat tidur;
3. Anak mendorong mobil-mobilan di lantai.
Agen Simbolik 3
Anak mengambil peran pura-pura secara aktif, tetapi tidak diarahkan kepada orang lain. Anak juga dapat menentukan peran untuk mainan atau benda. Anak tidak terlalu banyak bertanya untuk main peran. Mencari petunjuk-petunjuk sesuai yang ditentukan. (Misalnya: Anak meletakkan stetoskop di leher dan mendengarkan denyut jantung temannya atau boneka, tetapi tidak berkata “Saya dokter”). Anak dapat memahami tanda-tanda atau mengikuti temannya dalam kelompok main peran. (Contoh: Teman bertindak sebagai pilot pesawat, anak menentukan perannya sebagai penumpang pesawat).
Contoh:

  1. Anak-anak pura-pura menjadi seorang guru dan membaca keras kepada boneka, teman lainnya, atau hanya pura-pura seseorang mendengarkan;
  2. Pura-pura menjadi binatang;
  3. Pura-pura menjadi sopir mobil;
  4. Pura-pura memainkan kuda-kudaan kecil berlari ke kandang atau makan rumput kering (peran mikro).

Agen Simbolik 4
Anak tidak mengambil peran aktif, tetapi sebagai sutradara. Anak sebagai sutradara dengan mengarahkan teman atau mainan lainnya sebagai pelakunya. Ia mengatur tindakan dan memberitahukan pada temannya apa yang harus dilakukan (terlihat sebagai pemimpin).
Contoh:

  1. Anak pura-pura menjadi ibu yang memberi makan boneka bayi;
  2. Anak berlagak seperti seorang sutradara, memberitahu temannya apa yang harus dilakukannya.

Pengganti Simbolik 1
Anak menggunakan benda nyata, dengan cara yang tepat, untuk menirukan sebuah kegiatan.
Contoh:

  1. Berpura-pura makan dengan menggunakan sendok betulan;
  2. Menggunakan baju dan sepatu untuk berperan menjadi ibu;
  3. Menggunakan telepon sungguhan untuk berpura-pura berbicara.

Pengganti Simbolik 2
Anak menggunakan alat yang sesungguhnya untuk menirukan fungsi benda dengan tepat. Alat dapat berbentuk seperti benda aslinya walaupaun dalam ukuran kecil.
Contoh:

  1. Pura-pura memberi makan boneka dengan botol mainan;
  2. Pura-pura menyanyi atau mengayun bonekal
  3. Pura-pura memasak lapisan ikan dalam panci penggoreng;
  4. Pura-pura sedang duduk di bis atau pesawat dengan menggunakan sebuah kursi adalah tempat duduk lainnya.

Pengganti Simbolik 3
Anak menggunakan alat atau benda yang mungkin sama atau berbeda dengan benda yang sesungguhnya.
Contoh:

  1. Menggunakan sepotong kayu sebagai lilin;
  2. Menggunakan tempat tidur sebagai kendaraan;
  3. Menggunakan kayu sebagai kuda.

Pengganti Simbolik 4
Anak tidak menggunakan benda untuk bermain peran atau benda hayalan yang tidak ada secara fisik. Pura-pura bermain dengan sesuatu yang tidak ada. Anak bercakap dengan peran pura-pura.
Contoh:

  1. Minum dari cangkir hayalan;
  2. Berbicara pada telepon hayalan dengan pegangan tangan ke telinga;
  3.  Pura-pura makan biskuit atau kue (yang tidak nampak);
  4.  Pura-pura menjadi gajah, menggunakan tangan sebagai belalai.

Kerumitan Simbolik 1
Satu tindakan/adegan yang terpisah dengan benda, teman, atau diri sendiri.
Contoh:

  1. Pura-pura minum atau makan atau tidur;
  2. Pura-pura mengendarai truk pasir;
  3. Pura-pura berbicara menggunakan telepon;
  4. Bergaya merangkak pura-pura menjadi kucing/anjing, dll.

Kerumitan Simbolik 2
Satu tindakan/adegan pada dua atau lebih benda atau teman-temannya dengan menggunakan benda atau gagasan yang sama. Tindakan sama diulang-ulang dengan benda atau teman-teman yang berbeda.
Contoh:

  1.  Pura-pura makan lalu menyuap boneka atau temannya;
  2.  Pura-pura menyikat rambut sendiri, lalu boneka atau temannya;
  3.  Pura-pura mengisi air ke dalam cangkir;
  4.  Pura-pura memeriksa karcis dari teman-temannya.

Kerumitan Simbolik 3
Tindakan/adegan yang berhubungan. Dua atau lebih tindakan yang berhubungan dalam tema main pura-pura yang sama. Anak dapat dapat keluar dan masuk kembali ke peran tertentu. Dalam bermain mencakup dua atau lebih tindakan yang berhubungan.
Contoh:

  1. Mengaduk dan menuangkan minuman lalu meminumnya;
  2. Mengisi keranjang dengan pasir, mengeluarkan pasir untuk membentuk “kue ulang tahun”, meletakkan batang lilin di atasnya dan menyanyi “Selamat Ulang Tahun”;
  3. Mencuci baju, membilasnya, dan menjemurnya di tali jemuran;
  4. Memakai celemek, memasak makanan di kompor, menaruh makanan di piring lalu ditaruh di meja.

Kerumitan Simbolik 4
Anak memainkan keseluruhan naskah atau naskah hidup. Naskah dapat menjadi nyata atau hayalan di mana urutan-urutan tindakan simbolik berkaitan dengan tema. Anak tidak keluar dari peran. Tindakan membutuhkan beberapa pengelolaan dan perencanaan awal. Anak secara jelas bermain pada tema dan tetap bertahan dalam bermain peran sampai selesai.
Contoh:

  1.  Naskah waktu makan: Memasak makanan, menyediakan, dan makan;
  2.  Naskah Bayi: Memandikan, mengenaikan baju, memberi makan, mengayun, dan meletakkan bayi ke tempat tidur;
  3. Naskah rumah makan: Duduk di rumah makan, memesan makanan, dan makan.

Selain itu ada tahap perkembangan sosial :

Tahap 1:
Perilaku Tidak Peduli
Anak tidak bermain, tetapi menunjukkan “perilaku tidak peduli.”

Tahap 2:
Perilaku sebagai Penonton
Anak memperhatikan anak lain yang sedang bermain. Mereka mungkin berkomunikasi secara lisan, tetapi tidak ikut bermain.

Tahap 3:
Bermain Sendiri
Anak mulai bermain, tetapi sendiri, sepenuhnya ia mengatur diri sendiri.

Tahap 4:
Bermain Berdampingan
Anak bermain dekat dengan anak lainnya, tetapi mereka bermain sendiri-sendiri. Mungkin mereka merasa senang dengan kehadiran anak lainnya, tetapi belum bekerjasama.

Tahap 5:
Bermain Bersama
Anak bermain bersama dengan anak lainnya dalam satu kelompok. Mereka mungkin bertukar bahan main, tetapi tidak ada tujuan yang direncanakan (belum bekerjasama).

Tahap 6:
Bermain Bekerjasama
Anak bermain bersama dengan anak lain dan memiliki tujuan yang direncanakan. Mereka bekerjasama dan saling berperan.

Kegiatan main di sentra main peran:

main peran makro


main peran mikro

Sayangilah Sewajarnya

Memiliki seorang anak adalah sebuah amanah dari Allah. Anak titipan dari sang pemberi kehidupan yang perlu dijaga, dirawat dan didik. Namun, kadang dalam proses menjaga, merawat, dan mendidik itu orang tua sebagai pihak penerima amanah mempunyai rasa tanggungjawab yang terlalu besar sehingga terlalu sayang, sehingga anak merasa terlayani dan akhirnya sulit lepas dari ibu khususnya.
Ketika semua terpenuhi oleh ibu, anak menjadi kurang mandiri dan tergantung pada ibu.
Waktu anak memasuki masa-masa awal sekolah, anak begitu sangat tergantung pada sang ibu sehingga sulit untuk berpisah dari ibu. Masa-masa inilah, masa tersulit bagi anak untuk berpindah dari rumah ke sekolah. Anak berada di lingkungan baru dan orang-orang baru. Anak terlepas dari zona amannya dan harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Saat inilah peran ibu sangat besar, ibu yang terlalu sayang pada si anak pasti akan merasa berat untuk melepas anaknya, dan begitu juga si anak akan merasa lingkungan ini tidak nyaman, dan akan "menangis".
Ketika melihat anak menangis ibu akan gundah (sedih, kasian), bantuanlah yang akan datang disitulah anak akan melihat celah untuk memanipulasi sikapnya. "Aku nangis mama datang", aku nangis, aku dibantu mama". Kalau hal itu terus terjadi kapan anak akan mandiri??.
Seorang ibu seharusnya sudah punya keyakinan, 1) menangis itu untuk meluapkan emosi, 2) menangis membuat tubuh anak akan sehat karena semua badannya ikut bergerak, 3) Menangis tidak membahayakan anak. Dengan mempunyai keyakinan seperti itu ibu akan siap untuk mengajak anak belajar dilingkungan baru yaitu sekolah. Masa transisi dari rumah ke Sekolahpun akan berjalan dengan lancar. Dan anak akan mudah untuk beradaptasi.
Menyayangi terlalu berlebihan membuat anak tidak mandiri. Sayangi anak dengan sewajarnya, sesuai kebutuhan anak. Bantuan yang berlebihan membuat anak-anak sulit untuk berkembang. "Ibu yang baik,  adalah ibu yang tahu kebutuhan anaknya, ibu yang baik, ibu yang memberi kesempatan anaknya untuk belajar, walaupun itu sulit bagi anak untuk melakukan.
Ibu, tak selamanya engkau menemani anak-anakmu, memanjakannya seperti dia masih bayi. Dia akan tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa. Demi membantu anakmu dikemudia hari fasilitasi dia sesuai kebutuhannya. Upaya ini akan berguna baginya suatu saat nanti, di saat engkau tak mampu selalu membantunya untuk memenuhi kebutuhanya dan bertahan dalam setiap masalah dan kesulitan dalam hidupnya.
Educating our children is not just about imposing a body of knowledge on them. Rather, it involves preparing children from the early years for the world in which they will come of age. It means instilling a love for lifelong learning, creativity, self-expression and an appreciation for diversity.

Mendidik anak-anak kita bukan berarti mengajarkan kepada mereka sekumpulan ilmu pengetahuan semata. 
Lebih penting lagi, mendidik berarti mengajarkan kepada anak-anak kita sejak usia dini, kemampuan untuk siap dan mampu menghadapi tantangan dunia masa depan yang akan menjadi ajang hidup mereka nantinya.

Sunday, 20 January 2013

Asupan Gizi yang Tepat untuk Membantu Mengembangan Mutiple Intelligensi Pada Anak

    Anak adalah periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah, kemudian berkembang setara dengan tahun-tahun sekolah dasar. Pada masa ini anak-anak dalam masa golden age yaitu masa yang terbaik untuk mendapatkan berbagai macam stimulasi pada otak dan tubuhnya, sehingga jika kita memberikan stimulasi yang tepat pada usia ini anak akan memampu mempunyai kecerdasan jamak (multiple inteligensi) dan mempunyai pertumbuhan tubuh yang optimal.
   Perkembangan dan pertumbuhan anak dipengaruhi oleh tiga hal yaitu: gen, nutrisi dan  lingkungan. Gen pada seseorang memang tidak dapat diubah. Gen merupakan sifat pembawaan yang diperoleh dari keturunan orang tuanya. Selain gen, kecerdasan anak juga ditentukan oleh asupan gizi yang cukup yang diperoleh dari makanan. Karena itulah para ahli selalu menganjurkan anak harus diberikan makanan dengan gizi seimbang, beragam, dan mengandung empat sehat lima sempurna.
Hal ini karena gizi yang baik dapat merubah kehidupan anak, meningkatkan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, melindungi kesehatannya, serta meletakkan fondasi untuk masa depan produktivitas anak. Oleh sebab itu, pemberian gizi untuk anak menjadi kewajiban yang harus diperhatikan oleh para orangtua.
   Orang tua diharapkan selektif dalam memilih makanan untuk anak. Orang tua perlu mempertimbangkan nilai gizinya. Terutama pada makanan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangnn anak, seperti susu. Susu untuk anak usia 1-3 orang tua diharapkan harus selektif, dan mengerti kandungan susu yang diberikan kepada si buah hati. Pada usia 1-3 tahun anak-anak membutuhkan asupan gizi seperti Kolin, Prebiotik, dan Anti Oksidan. Kolin,  zat yang sudah dibutuhkan sejak anak masih dalam kandungan, ini karena kolin berpengaruh pada perkembangan otak janin yang berkaitan dengan memori. Prebiotik, Komponen makanan yang tidak dihidrolisa / dicerna usus bagian atas sehingga mampu memacu aktifitas pertumbuhan selektif bakteri usus yang menguntungkan bagi kesehatan. Antiaksidan, zat yang mampu memperlambat atau mencegah  radikal bebas. Zat-zat di atas ada di dalam susu Enfagrow A+ http://www.meadjohnson.co.id/our-brands/enfa/enfagrow-a yang mampu melindung dan menjaga balita usia 1-3 tahun yang sedang dalam masa tumbuh kembang. Pada saat tumbuh kembang anak membutuhkan nutrisi tersebut untuk membantu perkembangan tubuhnya dan perkembangan otaknya. Dengan mampu mengoptimalkan perkembangan otak secara maksimal berarti mampu memfasilitasi anak agar dapat mengembangkan kecerdasaannya. Jika anak mempunyai perkembangan otak yang optimal dan didukung oleh stimulasi untuk mengembangkan kecerdasannya, maka anak akan dapat mempunyai kecerdasan jamak/multiple intelligensi yang bermanfaat bagi kehidupan anak di masa yang akan datang.
   Stimulasi yang perlu diberikan oleh orang tua atau dewasa di sekitar anak adalah faktor ketiga yang terpenting bagi tumbuh kembang anak. Anak dengan mempunyai gen yang baik serta asupan gizi cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan serta stimulasi kecerdasaannya didukung oleh lingkungan yang baik maka anak akan tumbuh dan berkembang dengan optimal.
   Kecerdasan pada manusia meliputi Linguistic intelligence/Kecerdasan berbahasa, Logical-mathematical intelligence/kecerdasan logika matematik, Spatial intelligence/kecerdasan spasial, Bodily-Kinesthetic intelligence/kecerdasan bodi kinestetik, Musical intelligence /kecerdasan musikal, Interpersonal intelligence /kecerdasan interpersonal, Intrapersonal intelligence/kecerdasan Intrapersonal, dan Naturalist intelligence/kecerdasan natural. Tujuh kecerdasan ini ditemukan oleh Howard Gardner dalam teorinya multiple intelligensi. Setelah adanya tujuh kecerdasan tersebut kemudian berkembang menjadi 4 kecerdasan lainnya yang didalamnya antara lain: Spiritual intelligence, Exsistentialistic  intelligence, kuliner intelligence, Intuisi intelligence. Semua kecerdasan itu diberikan kepada setiap anak manusia dan semua tergantung pada orang tua atau orang dewasa di sekitar anak yang memberikan asupan gizi dan lingkungan yang baik serta stimulasi yang tepat agar semua kecerdasan anak dapat berkembang dengan optimal.

Thursday, 10 January 2013

Sentra main peranku


Sentra main peran merupakan tempat anak untuk menuangkan imajinasinya dalam kegiatan pura-pura. Anak sangat menyenangi kegiatan yang menirukan kehidupan orang tua atau orang dewasa di sekitar. Berbagai kegiatan yang anak-anak lakukan memberikan bekal untuk kehidupan anak jika sudah dewasa. Dalam kegiatan bermain, rasa simpati, empati dan saling membantu dan menyayangi sesama dibangun.

Wednesday, 4 May 2011

SENTRA PERSIAPAN


Sentra persiapan adalah pusat kegiatan bermain untuk mempersiapkan anak mengenal tulisan, huruf dan menghitung. Kegiatan ini guna membantu anak mempersiapkan diri memasuki sekolah dasar.
Persiapan Kemampuan Membaca
(VISUAL, AUDITORY & KOORDINASI
GERAKAN OTOT BICARA)
Membaca adalah aktifitas belajar yang dominan memerlukan indera visual dan juga melibatkan fungsi penginderaan lain di otak.
Kemampuan yang diperlukan untuk membaca
         Mengenal bentuk
         Mengenal perbedaan bunyi huruf
         Mengenal rangkaian (pola)
         Mengenal perbedaan intonasi

Persiapan Kemampuan Menulis
         Visual Attention/recognition: perhatian visual mengenai bentuk huruf-huruf dan mengenalnya kembali
         Motorik: gerakan motorik halus (fine motor)
         Visuo senso motorik: gerakan tangan yg dikoordinasikan oleh mata dan rasaan propioseptic
         Visuo Spasial: kemampuan menempatkan posisi tubuh dalam ruang atau posisi alat gerak terhadap tubuh
Visual auditorik memori: mengenal kembali apa yang pernah ditulis dan di dengar
Kemampuan yang diperlukan untuk membaca dan menulis
         Mengenal bentuk
         Mengenal perbedaan bunyi huruf
         Mengenal rangkaian (pola)
         Kekuatan jari-jari tangan
         Kelenturan gerakan  pergelangan tangan

Main yang mendukung keaksaraan untuk anak usia 1-2 tahun
                     Bernyanyi lagu dengan irama sederhana yang diulang-ulang disertai gerakan sederhana
         Membacakan buku yang sudah dikenal anak
         Mengajak anak bertepuk tangan mengikuti irama
         Menyebut nama anak dengan perlahan menurut suku katanya.
         Bermain dengan berbagai bentuk
         Bermain puzzle tunggal
         Melibatkan anak saat membereskan mainan yang sudah digunakannya untuk mengenalkan klasifikasi.
         Memperkuat motorik kasar anak dengan membolehkan anak berlari, dan bergerak bebas, serta melatih kekuatan motorik halusnya dengan cara memegang, meremas, menjumput, menjepit, merobek kertas, dll.
Kegiatan yang mendukung kemampuan menulis anak 2-3 tahun
         Membuat coretan pada kertas besar dengan crayon atau spidol.
         Membuat coretan dengan batang kayu di tanah atau pasir
         Melukis dengan cat jari
         Menjepit biji-bijian atau buah-buahan terbuat dari kayu dengan wadah dan penjepit.
         Mengocok air sabun dengan alat pengocok telur
         Meremas: daun, koran bekas, parutan kelapa, ublek, tanah lempung, playdough, dll.
         Mencetak playdough, tanah liat, pasir basah dengan cetakan huruf
         Kegiatan menggunting: kertas bekas dengan berbagai ketebalan, daun, atau bahan lainnya
         Gambar tahap menggunting
         Gambar tahap menggambar/melukis
         Gambar tahap meronce
         Gambar tahap menulis
Main keaksaraan untuk mendukung kemampuan membaca anak usia 4-6 tah
          Buku – buku – buku – buku
         Membolehkan anak untuk memilih buku cerita yang diminatinya
         Menuliskan nama anak, lalu anak menyusunnya dengan menggunakan kartu huruf
         Menuliskan kegiatan yang dikerjakan anak, misalnya menuliskan menu bila praktek memasak, menuliskan ceritanya.
         Mendiskusikan kata baru yang didapatkan dari buku bacaan.
         Bermain menyelesaikan kata, misalnya bo + la = bola
         Menggabungkan kartu suku kata dengan mencocokkan kata yang telah dibuat kader
         Memancing kartu huruf sesuai nama sendiri
         Mencetak huruf dengan playdough sesuai dengan namanya
         Mencari kartu yang bertuliskan nama temannya
         Membaca puisi yang memuat kata-kata yang hampir sama hurufnya, misalnya Tari senang menari, Tari juga senang berlari, dst
         Membuat cerita dari kumpulan kalimat yang diucapkan anak. 
         Menuliskan nama anak dengan mengubah huruf awal dengan huruf yang sedang diperkenalkan, misalnya mengenalkan huruf S, nama Kania jadi Sania, Tiara menjadi Siara, dst. Anak diminta untuk membaca nama dan menebak nama siapa yang dituliskan.
         Mengelompokkan nama binatang yang huruf depannya sama, misalnya katak, kura-kura, kadal, dst.
Penataan Ruang Sentra Persiapan
 Pijakan awal main sentra persiapan


Pijakan saat bermain




Wednesday, 6 April 2011

Sentra balokku

 Aku sedang bermain di sentra balok.
Aku mau membangun berbagai bangunan dari balok.

Bangunan menaraku sudah jadi kawan, saatnya aku berfoto bersama bangunanku.
Bu guru foto aku yach, maniskan aku.

Sunday, 3 April 2011

METODE BCCT

  1. BCCT merupakan metoda yang memfokuskan kegiatan anak di sentra-sentra, sudut-sudut atau area-area dengan membangun kemandirian anak
  2. Anak mempunyai naluri sebagai peneliti yang aktif dan kreatif, karena itu anak harus menjadi sentral dalam proses pendidikan
  3. Bcct memungkinkan anak aktif menemukan sendiri pengetahuannya melalui sentra-sentra (sejumlah kegiatan main yang mengarah pada sebuah titik pusat)
  4. Tiap sentra dikondisikan untuk mengembangkan/ membangun  5 domain perkembangan anak : afeksi, kognisi, psikomotor, bahasa dan keterampilan sosial
  5. Di setiap sentra berisi kegiatan main : sensori motor (syaraf-syaraf indra), main peran (bahasa dan interaksi sosial), dan main pembangunan
  6. Ada beberapa sentra yakni sentra : bahan alam, main peran, balok, seni dan persiapan
  7. Bcct bukan satu-satunya metoda untuk padu/paud, tetapi bcct memberikan prinsip-prinsip paud yang universal, serta saat ini merupakan metode yang sudah dipahami oleh direktorat padu/paud
FILOSOFI, yang mendasari:
          Anak-anak akan tumbuh dengan baik jika mereka dilibatkan secara alamiah dalam proses belajar.
PENDEKATAN PERKEMBANGAN, menganggap anak:
          Pembelajar aktif yang secara terus menerus mendapatkan informasi mengenai dunia lewat permainan
          Mengalami kemajuan melalui tahapan-tahapan perkembangan yang dapat diperkirakan
          Individu yang unik yang tumbuh dan berkembang dengan kecepatan yang berbeda

PRINSIP UTAMA
          KONSTRUKTIVISME
Anak membangun pemahaman mereka sendiri dengan cara mensintesa pengalaman-pengalaman baru dengan apa yang telah mereka pahami sebelumnya
          METODOLOGI YANG SESUAI DENGAN PERKEMBANGAN
Semua anak berkembang melalui tahapan perkembangan yang umum, tetapi pada saat yang sama, setiap anak juga adalah makhluk individu dan unik
          PENDIDIKAN PROGRESIF
          Pendidikan merupakan proses sepanjang hidup, bukan proses yang akan berhenti dalam satu fase.