This nice Blogger theme is compatible with various major web browsers. You can put a little personal info or a welcome message of your blog here. Go to "Edit HTML" tab to change this text.
RSS

Wednesday, 14 October 2009

PENANGANAN GANGGUAN W ICARA ANAK AUTIS DENGAN MENGGUNAKAN SPEECH THERAPY DENGAN METODE ABA (APPLIED BEHA¬VIOUR ANALYSIS)

A. Latar Belakang
Pendidikan di Taman Kanak-kanak diperuntukkan bagi ana usia 4 samapi 6 tahun. Pendidikan ini bertujuan untuk memfasilitasi seluruh aspek perkembangan anak supaya dapat berkembang secara maksimal dan merupakan suatu upaya untuk mempersiapkan anak masuk sekolah dasar. (Kurikulum Taman Kanak-kanak, 2004). Pada masa kanak-kanak merupakan masa (golden age) yaitu masa keemasan dalam perkembangan anak, dalam masa golden age ada sebagian anak mengalami gangguan dalam perkembangan psikisnya. Perkembangan psikis yang timbul harus segera mendapat penanganan supaya anak dapat hidup normal.
Pada kehidupan yang serba modern ini banyak gangguan yang terjadi pada masa perkembangan anak salah satunya yaitu anak menjadi autis. Autis pada anak disebabkan oleh kesibukan orang tua yang semuanya bekerja membuat peran dalam mendidik anak cenderung berkurang yang meng¬akibat¬kan ku¬rangnya ikatan emosional de¬ngan anaknya, karena peran orang tua banyak dialihkan pada pem-bantu, baby sister, dan pengasuh. Hal lain akibat dari kurang per¬hatian terhadap perkembangan anak, yakni ter¬lambat¬nya identifikasi per¬kembangan anak.
Saat orang tua menyadari keterlambatan per¬kembangan anak maka ibu segera mem¬bawa anaknya untuk konsultasi dengan dokter atau psikiater anak. Bila di diagnosis autisme, bia¬sanya didasari tanda-tanda se¬perti tidak pernah mentap atau tersenyum ketika diajak bercanda, tidak bisa bermain dengan anak lainnya, lebih tertarik pada benda diban¬dingkan dengan manusia, tidak ada kontak mata, kesulitan ber¬komunikasi, menunjukkan amarah yang meledak-ledak disertai temper tantrum (ke¬tidak mampuan anak untuk meng¬komu¬nikasikan keinginan maupun kebutuhan), me¬lukai diri sendiri (self abuse), hiperaktivitas, dan tingkah laku motorik yang berulang-ulang (Jawa Pos, Agustus 2005).
Salah satu ciri autisme adalah adanya kelambanan berbicara, kelambanan ini perlu segera ditangani salah satu alternatif penanganannya dapat menggunakan terapi wicara (speech therapy) dengan metode ABA (Applied Beha¬viour Analysis). Metode ABA (Applied Beha¬viour Analysis) adalah ilmu yang menggunakan prosedur perilaku untuk membantu individu membangun kemampuan dengan ukuran nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. (Y. Azwandi, 2005). Metode ABA (Applied Behavior Analysis) ini bertujuan untuk membentuk perilaku atau menguatkan perilaku positif dan mengurangi atau menghilangkan perilaku yang negatif atau tidak diinginkan. Upaya penanganan di atas diharapkan dapat membantu mengatasi gangguan wicara anak usia dini yang ngalami autisme.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas disusun rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah pengertian dan gejala anak autis?
2. Faktor apa yang menjadi penyebab anak autif?
3. Bagaimana cara menangani gangguan wicara pada anak autis?

C. Tujuan
Tujuan dari penulisan ini sebagai berikut:
1. Mengetahui dan memahani pengertian dan gejala anak autis.
2. Mengetahui faktor penyebab anak autis.
3. Meurumuskan upaya penanganan untuk anak mengatasi gangguan wicara anak autis.

D. Analisis Permasalahan
Seorang anak yang mengalami autis, akan mengalami tanda-tanda se¬perti tidak pernah mentap atau tersenyum ketika diajak bercanda, tidak bisa bermain dengan anak lainnya, lebih tertarik pada benda diban¬dingkan dengan manusia, tidak ada kontak mata, kesulitan ber¬komunikasi, menunjukkan amarah yang meledak-ledak disertai temper tantrum (ke¬tidak mampuan anak untuk meng¬komu¬nikasikan keinginan maupun kebutuhan), me¬lukai diri sendiri (self abuse), hiperaktivitas, dan tingkah laku motorik yang berulang-ulang. Kesulitan untuk berbicara pada anak autis perlu mendapat penanganan,anak autis di lembaga anak usia dini i perlu mendapat perlakukan yang khusus, sehingga seorang guru dalam memfasilitasi anak perlu melihat kondisi anak.
Autisme berasal dari kata “auto’ yang berarti sendiri. Penyandang autisme seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Istilah autisme baru diper¬kenalkan sejak tahun 1913 oleh Leo Kanner, sekalipun kelainan itu sudah ada sejak berabad-abad yang lampau. Au¬tisme bukan suatu gejala penyakit tetapi berupa sindroma (kumpulan gejala) di¬mana terjadi penyimpangan per¬kem¬bangan sosial, kemam¬puan berbahasa, dan kepedulian terhadap se¬kitar sehingga a¬nak autisme seperti hidup da¬lam dunia¬nya sen¬diri (Handojo, 2003).
Autisme adalah suatu keadaan di¬mana seseorang anak berbuat semau¬nya sen¬diri baik cara berfikir maupun berperilaku. Keadaan ini mulai terjadi sejak usia masih muda, biasanya sekitar usia 2-3 tahun. Au¬tisme bisa mengenai siapa saja, baik sosio-ekonomi mapan maupun kurang, anak-anak atau¬pun de¬wasa dan semua etnis (Faisal Ya¬tim da¬lam Kasih, 2006).
Dapat disimpulkan utisme merupakan sindroma yang sangat kompleks. Ditandai dengan ciri-ciri kurangnya kemampuan interaksi sosial dan emosional, sulit dalam komu¬ni¬kasi timbal ba¬lik, minat terbatas, dan perilaku tak wajar di¬sertai gerakan ber¬ulang tanpa tujuan (stereo¬tipic).
1. Gejala Anak Autis
Bila di diagnosis autisme, bia¬sanya didasari tanda-tanda se¬perti tidak pernah mentap atau tersenyum ketika diajak bercanda, tidak bisa bermain dengan anak lainnya, lebih tertarik pada benda diban¬dingkan dengan manusia, tidak ada kontak mata, kesulitan ber¬komunikasi, menunjukkan amarah yang meledak-ledak disertai temper tantrum (ke-tidakmampuan anak untuk meng¬komu¬nikasikan keinginan maupun kebutuhan), me¬lukai diri sendiri (self abuse), hiperaktivitas, dan tingkah laku motorik yang berulang-ulang (Jawa Pos, Agustus 2005). Khusus dalam gangguan kualitatif dalam bidang komu¬nikasi seperti ditunjukkan oleh minimal satu dari gejala-gejala dibawah ini:
a. Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tak berkembang (dan tidak ada usaha untuk meng¬imbangi komu¬nikasi dengan cara lain tanpa bicara).
b. Bila bisa bicara, biasanya tidak dipakai untuk komunikasi sering menggunakan bahasa aneh dan diulang-ulang.
c. Cara bermain kurang variataif, ku¬rang imajinatif, dan kurang bisa meniru.


2. Faktor Penyebab Anak Autis
Penyebab anak autis di lembaga anak usia dini, khususnya Taman Kanak-kanak penyebab anak autis dikarenakan pola asuh orang tua yang salah. Orang tua cenderung sibuk dengan segala aktifitasnya, sehingga antara anak dan orang tua tidak ada komunikasi. Tidak adanya komunikasi antara orang tua dan anak berakibat pada anak cenderung temper tantrum (ketidakmampuan anak untuk meng¬komu¬nikasikan keinginan maupun kebutuhan), me¬lukai diri sendiri (self abuse), hiperaktivitas, dan tingkah laku motorik yang berulang-ulang.
Penyebab autisme sendiri masih be¬lum jelas benar bagaimana terjadinya gejala (potologi) dari autisme. Beberapa petunjuk me¬¬¬ng¬¬arah pada kelainan di otak kecil (cere¬bellum), kelainan organik seperti pheny¬hetonarin, tuberous scle¬rosis, fragile x syn¬drome, congenital rubella syndrome, dan ke-racunan timbal (Pb). Namun pada kebanyakan kasus anak dengan autistic tidak dapat ditemu¬kan dasar penyebabnya. Be¬berapa faktor yang disebut sebagai pemicu adalah: faktor genetika, zat kimia beracun, kontaminasi logam berat, vaksinasi virus gluten dan casein, jamur, usus berpori.
( http://fpsikologi.wisnuwardhana.ac.id).

E. Pemecahan Masalah
1. Penanganan
Penanganan yang dapat dilakukan sebagai berikut:
Mengoptimalkan Peran orang tua dalam penyem¬buhan anak penderita autisme sangatlah pen¬ting. Se¬lain harus melakukan peng¬obatan secara me¬dis, orang tua juga di¬tun¬tut bijak dan sabar me¬ng¬hadapi kon¬disi anak. Sebagian besar karena orang tua tidak bijak dan sabar meng¬hadapi kondisi anak. Sebagian besar karena orang tua tidak paham dengan pe¬nya¬kit anaknya. Mereka hanya meng¬andalkan terapi tanpa berusaha mencari tahu berbagai hal yang baik dan yang buruk selama proses penyembuhan dalam.
Selain itu sangat perlu dipahami oleh para orang tua bahwa terapi harus dimulai sedini mung¬kin sebelum usia 5 tahun. Perkem¬bangan paling pesat dari otak ma¬nusia terjadi pada usia 2-3 tahun. Oleh ka¬rena itu penata laksanaan terapi setelah usia 5 tahun hasilnya berjalan lebih lambat.
Upaya yang dapat dilakukan untuk menanganani anak autis dengan menggunakan terapi. Jenis terapi yang digunakan antara lain: Terapi Perilaku, Terapi Okupasi/menguatkan otot, Terapi Wicara, Sosialisasi dengan menghilang¬kan perilaku tak wajar, - Terapi Biomedik (obat, vitamin, mineral, food supplemen, Sosialisasi ke sekolah regular, - Sekolah Khusus.

2. Penggunakan Speech Therapy Dengan Metode ABA (Applied Beha-viour Analysis) untuk anak autis.
Penerapan speech therapy dengan metode ABA (Applied Beha¬viour Analysis) untuk anak autis dilakukan sebagai berikut:
Dalam penerapannya, metode ABA (Applied Behavior Analysis) ini
menggunakan konsep A (Antecedent), B (Behavior), dan C (Consequence). Artinya penerapan metode ABA (Applied Behavior Analysis) ini harus ada
instruksi, respon yang muncul setelah adanya instruksi dan konsekuensi yang
didapatkan anak setelah merespon instruksi. Pada lembaga pendidikan anak usia dini khususnya di Taman Kanak-kanak dapat dilakukan dengan menggunakan permainan kata. Langkah-langkah yang dapat dilakukan:
1. Guru menyediakan kartu gambar dan kata.
2. Guru mengajak anak untuk mengucapkan kata dengan meniru ucapkan guru, sehingga dengan begitu anak akan berusaha mengucapkan kata-kata dari guru setelah guru mengucapkan, seperti itu lama kelamaan di harapkan anak dapat berbicara lebih baik.

F. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Anak Autis adalah anak yang mengalami sindroma yang sangat kompleks. ditandai dengan ciri-ciri kurangnya kemampuan interaksi sosial dan emosional, sulit dalam komu¬ni¬kasi timbal ba¬lik, minat terbatas, dan perilaku tak wajar di¬sertai gerakan ber¬ulang tanpa tujuan (stereo¬tipic). gejala ini biasanya telah terlihat sebelum usia 3 tahun.
2. Faktor-faktor yang menyebabkan anak autis adalah faktor genetika, zat kimia beracun, kontaminasi logam berat, vaksinasi virus gluten dan casein, jamur, usus berpori.
3. Cara Penanganan gangguan wicara anak autis di Taman Kanak-kanak, dengan menggunakan metode ABA (Applied Behavior Analysis), yang dilakukan dengan menggunakan kartu kata.

G. DAFTAR PUSTAKA
Azwandi, Y. 2005. Mengenal Dan Membantu Penyandang Autisme. Jakarta: Depdiknas.

Departemen Pendidikan Nasional.2004. Kurikulum 2004 Standart Kompetensi Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal. Jakarta.: Depdiknas.

Handoyo, Y.2003.Autisme.Jakarta : PT. Buana Ilmu Populer

Jawa Pos. 7 Agustus.Visite.2005

Kasih, M..2006. Pengaruh Pemahaman Tentang Autisme Terhadap Pe¬nerimaan Ibu Yang Memiliki A¬nak Autisme Di Pusat Terapi Anak Dengan Kebutuhan Khusus A Plus Malang.Universitas Wisnuwardhana Malang.

Wijaya , Nurwachid Subchan. Pemahaman Tentang Autisme Terhadap Penerimaan Orang Tua Yang Memiliki Anak Autisme. http://fpsikologi.wisnuwardhana.ac.id diakses 17 Mei2009.

Tuesday, 6 October 2009

POKOK-POKOK MATERI PENGEMBANGAN NILAI KEAGAMAAN PADA ANAK TAMAN KANAK-KANAK

A. Sifat-sifat materi Pembelajaran
1. Aplikatif
Sifat yang pertama ini memiliki makna bahwa yang harus anak dapatkan pada saat mereka mengikuti proses pembinaan dan pengembangan nilai-nilai agama, adalah materi pembelajaran terapan, materi yang berkaitan dengan kegiatan rutin anak sehari-hari, dan materi yang memang sangat dibutuhkan/dapat dilakukan anak dalam kehidupannya.
Ruang lingkupnya adalah mulai dari kegiatan anak bangun tudir sampai mereka akan tidur kembali. Materi lain yang berkaitan dengan sifat aplikatif adalah konseptual pengetahuan agama meliputi, aturan setelah bangun tidur, masuk dan ke luar kamar mandi, selama mandi, saat berpakaian, saat bercermin, saat makan bersama, dan sebagainya samapai mereka mau tidur malam. Pengetahaun nilai-nialai agama yang bersifat aplikatif dan berkategori praktek di antaranya: aturan memberi salam kepada orang tua dan sesama manusia, praktek wudlu, sikap berdoa dan lain-lain.
2. Enjoyable
Memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain dan belajar tentang kehidupan religius (Early Childhood Education & Developmen Centre, 2003: 14). Bersadarkan pada pernyataan tersebut maka dapat kita pahami bahwa sifat-sifat materi nilai-nilai agama yang haurus disiapkan oleh guru dan orang tua adalah harus bersifat menyenangkan bagi anak, membuat anak bahagia, dan menjadikan anak mencintai /menyukai aktivitasnya. Sebab dunia anak adalah dunia bermain, ceria, dan suka bersenang-senang. Jadi dapat dikatakan bahwa pemilihan materi yang selektif adalah sesuatu hal yang essensial keberadaannya. Sebab bisa jadi anak tidak akan menyukai kegiatan pengembangan nilai-nilai agama hanya karena guru dan orang tua yang kurang mampu menentukan materi yang cocok dengan kebutuhan anak.



3. Mudah Ditiru
Kualitas dan kuantitas materi pembelajaran nilai-nilai agama, juga harus menjadi salah satu pertimbangan para guru dan orang tua, agar materi yang dsajikan dapat dilakukan/dipraktekkan sesuai kemampuan anak.

B. Prinsip-Prinsip Materi Pengembangan Nilai-Nilai Agama
Ada beberapa prinsip dasar yang sangat perlu diperhatikan dalam rangka penyampaian materi pengembangan nilai-nilai agama bagi anak Taman Kanak-kanak, di antaranya:
1. Prinsip penekanan pada aktivitas anak sehari-hari.
Sesuai dengan kebutuhan pembentukan kepribadian anak dalam rangka peletakan dasar kehidupan anak pada bidang kehidupan beragama anak.
2. Prinsip pentingnya keteladanan dari lingkngan dan orang tua/keluarga anak.Orang tua dan sekolah harus sejalan dalam upaya mendidik anak.
3. Prinsip kesesuaian dengan kurikulum spiral, materi disusun dari susah ke sulit.
4. Prinsip Developmentally Appropriate Practice (DAP)
Materi yang disajikan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan anak itu sendiri.
5. Prinsip Psikologi perkembangan anak, Materi disesuaikan dengan kondisi psikologis anak.
6. Prinsip monitoring, adanya kegiatan monitoring secara rutin untuk memantau proses perkembangan dan kemajuan anak dalam mengikuti program yang kita siapkan.

POTRET, HAKIKAT, DAN TARGET ANAK TAMAN KANAK-KANAK DALAM BELAJAR NILAI-NILAI KEAGAMAAN

A. Potret Kegiatan Anak Taman Kanak-kanak Dalam belajar Nilai-nilai Keagamaan
Salah satu kelemahan dari Garis-garis Besar Kegiatan Belajar Taman Kank-kanak 1994, yang berdampak pada munculnya keaneka-ragaman peyelenggaraan program tersebut yang dilakukan oleh Taman Kanak-kanak di seluruh negeri ini. Bahkan secara pribadi penulis menemukan data dari hasil observasi para mahasiswi PGTK FIP Universitas Jakarta sejak tahun 2000 sampai 2004, ada sekitar 60% Taman Kanak-kanak yang tidak mempunyai kurikulum yang jelas tentang pengembangan nilai-nilai keagaman tersebut.
Ketidak jelasan ini merupakan indikasi betapa kita kurang adil dalam memperlakukan anak didik dalam hal pembentukkan kepribadiannya dan pengembangan berbagai potensi yang ada pada diri anak.. Bila kondisi seperti ini dibiarkan begitu saja, tentu jangan salahkan anak bila dalam perkembangan hidupnya anak mengarah pada penguasaan potensi akademik belaka, dan sangat minim dalam penguasaan aspek nilai-nilai keagamaan.

B. Hakikat Belajar Anak Taman Kanak-kanak Pada Nilai-nilai Keagamaan
Dunia pendidikan secara makro, tampaknya cukup beralasan bahwa untuk dapat menuju masyarakat pembelajar baru diperlukan sedikitnya 3 langkah pembaharuan, yaitu dalam hal melakukan program pengajaran ketertinggalan pelajaran di sekolah, mendifinisikan ulang apa yang harus diajarkan di sekolah, dan mempolakan kurikulum ke dalam 4 pilar dengan penilaian diri dan pelatihan keterampilan hidup sebagai komponen kuncinya (Gordon Dryden et.a! 1999:84).
Willian Dagett mengatakan dunia yang akan ditinggali anak-anak kita berubah lebih cepat dari pada sekolah-sekolah kita (Dagett dalam Gordon. D, 1999: 102). Salah satu hal yang patut kita kaji ulang dalam kaitannya dengan proses kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-kanak saat ini adalah melakukan inovasi dalam pendekatan pembelajarannya. Sebab anak usia Taman Kanak-kanak pada hakikatnya memiliki keunikan yang membedakannya dengan usia pada strata berikutnya. Maka, pendekatan pembelajarannya pun seyogyanya mempertimbangan aspek serta kemampuan anak itu sendiri (Developmentally Appropriate Practice).
Peter Kline dalam Gordon D. (1992:22) mengatakan: belajar akan efektif jika dilakukan dalam suasana menyenangkan. Kaitannya dengan hakikat belajar anak Taman Kanak-kanak pada nilai-nilai keagamaan, seharusnya kita memahami bahwa hal itu harus berorentasi pada fungsi pendidikan Taman Kanak-kanak itu sendiri. Kita ketahui bahwa fungsi pendidikan di Taman Kanak-kanak adalah fungsi adaptasi, fungsi pengembangan dan fungsi bermain (Bernard van leer Foundation, 2002: 13-15). Berkaitan dengan fungsi pengembangan, peranan pendidikan anak usia prasekolah adalah dalam rangka mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki anak. Setiap unsur potensi yang dimiliki anak membutuhkan suatu situasi atau lingkungan yang dapat menumbuhkan kembangkan potensi tersebut ke arah perkambangan yang optimal sehingga menjadi potensi yang bermanfaat bagi anak itu sendiri maupun lingkungannya.
Hakikat belajar anak Taman Kanak-kanak pada waktu mempelajari apapun termasuk nilai-nilai keagamaan, secara garis beasarnya dapat dikategorikan menjadi 6 prinsip dasar penyelenggaraan pendidikan di Taman Kanak-kanak. Ke enam prinsip tersebut adalah :
1. Prinsip pengamatan, menyerapan segala informasi melalui indera penglihatan yang kemudian dikirim ke pusat syaraf.
2. Prinsip peragaan, Segala aspek pengetahuan atau informasi yang dipandang/dilihat baik kokret maupun abstrak seperti pesan-pesan moral dan sikap keagamaan harus diperagakan secara langsung oleh pendidik maupun secara bersama-sama dilakukan/ditirukan oleh anak itu sendiri. Melalui aktivitas peragaan ini, anak dapat menangkap suatu pesan atau informasi secara langsung dan konkret.
3. Prinsip bermain untuk belajar, suatu kondisi aktivitas yang dirancang secara terprogram dan mengandung esensi tujuan yang jelas. Tujuan yang dimaksud adalah belajar.
4. Prinsip otoaktivitas, mengandung makna bahwa anak menunjukan keaktifannya yang tumbuh atas dorongan dari dalam dirinya sendiri.
5. Prinsip kebebasan, diberikan dalam rangka membangun rasa tanggungjawab sesuai dengan kemampuannya, seperti diizinkan untuk membuat keputusan, memilih, dan diberikan kesempatan untuk hal-hal tertentu.
6. Prinsip keterkaitan dan keterpaduan adalah suatu hal yang secara faktual melekat pada diri anak usia prasekolah. (Bernad van leer Foundation. 2002: 16-21).
C. Target
Sasaran yang hendak dicapai pada saat kita akan mengembangkan nilai-nilai keagamaan pada anak Taman Kanak-kanka adalah mewarnai pertumbuhan dan perkembangan dari diri mereka. Target ini didasarkan pada dua pemikiran bahwa pada hakikatnya anak:
1. Dilahirkan dalam keadaan suci maka ayah dan ibunya yang turut menentukan mau menjadi pemeluk agama apa kelak di kemudian hari.
2. Pada awal kehidupannya anak yang normal tentu akan melalui tahapan tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan (tinjauan psikologis).Atas dasar itulah maka kita sebagai pendidik, diharapkan akan mampu memberi warna keagamaan pada setiap pertumbuhan dan perkembangannya secara maksimal.
Dari target diharapkan akan muncul suatu dampak positif yang berkembang pada dimensi kemanusiaan anak itu sendiri, yang meliputi fisik, akal pikirannya, akhlak, perasan kejiwaan, estetika, dan kemampuan sosialisasinya diwarnai dengan nilai keagamaan.

ESENSI PENGEMBANGAN NILAI-NILAI KEAGAMAAN ANAK TAMAN KANAK-KANAK

A. Esensi Pengembangan Nilai-nilai Keagamaan Bagi Anak Taman Kanak-kanak
1. Landasan Filosofis
Ketika manusia dilahirkan ke dunia, tak satu pun yang dilahirkan berada dalam kesempurnaan, baik dalam pandangan fisik maupun rohani. Salah satu kelengkapan hidup yang akan mampu menghantarkan manusia dalam kehidupannya untuk mencapai martabat yang mulia adalah dibutuhkannya ajaran nilai-nilai keagamaan. Keterbatasan manusia dalam mengarungi kehidupan inilah yang menjadi alasan dasar secara fisiologis bahwa manusia dengan akal sehatnya seyogyanya sangat membutuhkan ajaran nilai-nilai agama dalam kehidupannya.
Pendidikan nilai-nilai keagamaan ini merupakan fondasi yang kokoh dan sangat penting keberadaannya, dan jika hal itu telah tertanam dan terpatri dalam setiap insan sejak dini, berarti ini awal yang baik bagi pendidikan anak bangsa untuk menjalani jenjang pendidikan selanjutnya.

2. Ladasan Yuridis
Menurut undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003 Bab II pasal 3, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Sisdiknas, 2003:6).
Apabila kita adalah pendidik pertama dalam rangkaian proses kegiatan pembelajaran bagi anak didik kita. Posisi kita sebagai guru atau orang tua yang menggarap pendidikan pada tahap prasekolah merupakan pendidikan pertama yang sangat strategis. Oleh karena itu, pendidikan nilai-nilai keagamaan berfungsi mempersiapkan anak menjadi angota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama. (Sisdiknas, 2003:17).
3. Landasan Sosiologis
Indonesia adalah suatu negara yang memiliki keanekaragaman dalam berbagai aspek kehidupan. Dimulai dari adat istiadat, suku bangsa, bahasa, sampai apda masalah agama. Pendidikan merupakan kunci dalam membentuk kehidupan manusia ke arah peradabannya menjadi sesuatu yang sangat strategis dalam mencapai tujuan itu semua Taman kanak-kanak juga dapat dipandang sebagai komunitas masyarakat yang memerlukan pembinaan secara optimal. Unsur-unsur yang ada di dalamnya adalah calon manusia yang sangat berpotensi untuk dapat melanjutkan kehidupan bangsa ini. Bila mereka mendapat pendidikan nilai-nilai keagamaan yang tepat maka bukan tidak mustahil hal itu akan menjadi fondasi spiritual yang kuat bagai perkembangan penddidikan mereka selanjutnya.