This nice Blogger theme is compatible with various major web browsers. You can put a little personal info or a welcome message of your blog here. Go to "Edit HTML" tab to change this text.
RSS

Sunday, 20 January 2013

Asupan Gizi yang Tepat untuk Membantu Mengembangan Mutiple Intelligensi Pada Anak

    Anak adalah periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah, kemudian berkembang setara dengan tahun-tahun sekolah dasar. Pada masa ini anak-anak dalam masa golden age yaitu masa yang terbaik untuk mendapatkan berbagai macam stimulasi pada otak dan tubuhnya, sehingga jika kita memberikan stimulasi yang tepat pada usia ini anak akan memampu mempunyai kecerdasan jamak (multiple inteligensi) dan mempunyai pertumbuhan tubuh yang optimal.
   Perkembangan dan pertumbuhan anak dipengaruhi oleh tiga hal yaitu: gen, nutrisi dan  lingkungan. Gen pada seseorang memang tidak dapat diubah. Gen merupakan sifat pembawaan yang diperoleh dari keturunan orang tuanya. Selain gen, kecerdasan anak juga ditentukan oleh asupan gizi yang cukup yang diperoleh dari makanan. Karena itulah para ahli selalu menganjurkan anak harus diberikan makanan dengan gizi seimbang, beragam, dan mengandung empat sehat lima sempurna.
Hal ini karena gizi yang baik dapat merubah kehidupan anak, meningkatkan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, melindungi kesehatannya, serta meletakkan fondasi untuk masa depan produktivitas anak. Oleh sebab itu, pemberian gizi untuk anak menjadi kewajiban yang harus diperhatikan oleh para orangtua.
   Orang tua diharapkan selektif dalam memilih makanan untuk anak. Orang tua perlu mempertimbangkan nilai gizinya. Terutama pada makanan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangnn anak, seperti susu. Susu untuk anak usia 1-3 orang tua diharapkan harus selektif, dan mengerti kandungan susu yang diberikan kepada si buah hati. Pada usia 1-3 tahun anak-anak membutuhkan asupan gizi seperti Kolin, Prebiotik, dan Anti Oksidan. Kolin,  zat yang sudah dibutuhkan sejak anak masih dalam kandungan, ini karena kolin berpengaruh pada perkembangan otak janin yang berkaitan dengan memori. Prebiotik, Komponen makanan yang tidak dihidrolisa / dicerna usus bagian atas sehingga mampu memacu aktifitas pertumbuhan selektif bakteri usus yang menguntungkan bagi kesehatan. Antiaksidan, zat yang mampu memperlambat atau mencegah  radikal bebas. Zat-zat di atas ada di dalam susu Enfagrow A+ http://www.meadjohnson.co.id/our-brands/enfa/enfagrow-a yang mampu melindung dan menjaga balita usia 1-3 tahun yang sedang dalam masa tumbuh kembang. Pada saat tumbuh kembang anak membutuhkan nutrisi tersebut untuk membantu perkembangan tubuhnya dan perkembangan otaknya. Dengan mampu mengoptimalkan perkembangan otak secara maksimal berarti mampu memfasilitasi anak agar dapat mengembangkan kecerdasaannya. Jika anak mempunyai perkembangan otak yang optimal dan didukung oleh stimulasi untuk mengembangkan kecerdasannya, maka anak akan dapat mempunyai kecerdasan jamak/multiple intelligensi yang bermanfaat bagi kehidupan anak di masa yang akan datang.
   Stimulasi yang perlu diberikan oleh orang tua atau dewasa di sekitar anak adalah faktor ketiga yang terpenting bagi tumbuh kembang anak. Anak dengan mempunyai gen yang baik serta asupan gizi cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan serta stimulasi kecerdasaannya didukung oleh lingkungan yang baik maka anak akan tumbuh dan berkembang dengan optimal.
   Kecerdasan pada manusia meliputi Linguistic intelligence/Kecerdasan berbahasa, Logical-mathematical intelligence/kecerdasan logika matematik, Spatial intelligence/kecerdasan spasial, Bodily-Kinesthetic intelligence/kecerdasan bodi kinestetik, Musical intelligence /kecerdasan musikal, Interpersonal intelligence /kecerdasan interpersonal, Intrapersonal intelligence/kecerdasan Intrapersonal, dan Naturalist intelligence/kecerdasan natural. Tujuh kecerdasan ini ditemukan oleh Howard Gardner dalam teorinya multiple intelligensi. Setelah adanya tujuh kecerdasan tersebut kemudian berkembang menjadi 4 kecerdasan lainnya yang didalamnya antara lain: Spiritual intelligence, Exsistentialistic  intelligence, kuliner intelligence, Intuisi intelligence. Semua kecerdasan itu diberikan kepada setiap anak manusia dan semua tergantung pada orang tua atau orang dewasa di sekitar anak yang memberikan asupan gizi dan lingkungan yang baik serta stimulasi yang tepat agar semua kecerdasan anak dapat berkembang dengan optimal.

Thursday, 10 January 2013

Sentra main peranku


Sentra main peran merupakan tempat anak untuk menuangkan imajinasinya dalam kegiatan pura-pura. Anak sangat menyenangi kegiatan yang menirukan kehidupan orang tua atau orang dewasa di sekitar. Berbagai kegiatan yang anak-anak lakukan memberikan bekal untuk kehidupan anak jika sudah dewasa. Dalam kegiatan bermain, rasa simpati, empati dan saling membantu dan menyayangi sesama dibangun.

Wednesday, 6 April 2011

Sentra balokku

 Aku sedang bermain di sentra balok.
Aku mau membangun berbagai bangunan dari balok.

Bangunan menaraku sudah jadi kawan, saatnya aku berfoto bersama bangunanku.
Bu guru foto aku yach, maniskan aku.

Thursday, 28 October 2010

Artiani, Mei. 2010. Fitness Circuit Game Develpment on Motoric Physical Learning for B Group at Pembina Kindergarten Bumiaji Batu. Thesis, Elementary and Pre-school department, S1 Children Education for Early Ages (PAUD), Education Faculty, State University of Malang. Advisors: (I) Drs. Kentar Budhojo, M.Pd., (2) Drs. Heru Widijoto, M.S.

Keyword: fitness circuit, PAUD

The appropriate learning activity for chidren is playing. Thus, a pre-school teacher should be able to develop a game that facilates all development of children or students. In Pembina Kindergarten Bumiaji Batu, the lack facility of learning instruments or media bringig on longer learning since the students have their turn in such a long time. This makes students, neither who already finish their task or still waiting for their turn tend to play for themselves. In addition, the learning activity especially motoric physical has not used an activity through a game.
This research aims to develop fitness circuit game on motoric physical learning for B group at Pembina Kindergarten Bumiaji Batu, an easy and joyful game for children to play. The research focus only to examine fitness circuit game on motoric physical learning especially for B group at Pembina Kindergarten Bumiaji Batu.
The writer uses development model with subjects of 40 students of B group at Pembina Kindergarten Bumiaji Batu. The phases are as follow: 1) requirement analysis, 2) create early product, 3) expert consideration, 4) first product revision, 5) small group test, 6) product revision, 7) field test, 8) final result.
Based on result of large group test (field test) it is recognized that 97.5% students stated that the can play the game easily and 92.5% said that they love to play it. The percentage classification is 80-100%, good to implemented. The positive value of the game are that: 1) the game can attract attention of the students, 2) learning being more cheerful, 3) it can train students to learn to be more concentrate and patient, 4) it can also train fitness of the children.
Based on the result, it is suggested that before applying the game, we need to give explanation of the game in the beginning to the students. Instruments used in the game should be adjusted with children condition. A further research may involves language development aspect or cognitive in the game.

Hartanti, Wuri. 2010. Brain Gym Implementation to improve Children Early Writing Ability in A Group of State Kindergarten of Pembina Bumiaji. Thesis, Elementary and Pre-school Study Program, Education Faculty, State University of Malang. Advisors: (I) Dra. Wiwik Dwi Astuti, M.Pd., (II) Drs. Abdul Huda

Keyword: Brain Gym, Writing Ability, Kindergarten

Brain gym is a series of practices based on simple body gesture to facilitate learning activity and adaptation. Its easy gesture may assist to coordinate body and brain, thus if it is trained to children earlier may help them to learn faster. One of basic abilities can be improved with the brain gym is basic writing ability or skill of the children. After the implementation, it is hoped that the children of A group in State Kindergarten of Pembina Bumiaji acquire faster and better writing ability.
This research aims to (1) describe brain gym implementation in A group of State kindergarten of Pembina Bumiaji, and (2) to describe the implementation on children writing ability of the kindergarten.
The research uses Class Action Research (Penelitian Tindakan Kelas/PTK) held in two cycles. Every action includes planning, implementation, action, observation and reflection. Subjects of the research are students of A2 group of State Kindergarten of Pembina Bumiaji.
The result indicates that children average improvement of early writing ability in cycle I and II is increased. In cycle I, children writing skill shows average of 2.8 or70% of expected maximum score, their writing speed reach average improvement score 2.5 or 62.5% of expected maximum score, the accuracy of form/letter is 2.4 or 60% of expected maximum score, and the tidiness of writing is 2.3 or 57.5% of expected maximum score. In cycle II, children writing skill shows average improvement 3.5 or 87.5% of expected maximum score, their writing speed reach average improvement score 3.2 or 80% of expected maximum score, the accuracy of form/letter is 3.5 or 87.5% of expected maximum score, and the tidiness of writing is 3.3 or 82.5% of expected maximum score. And the whole average writing ability score is 3.4 or 85% of expected maximum score. It is known that from cycle I to cycle II gains 22.5% improvement.
Based on the result, it is concluded that the brain gym implementation is held by asking the children to play finger game, confronting right thumb with left little finger, right index finger with left ring finger, right middle finger with left middle finger, right ring finger with left index finger, and right little finger with left thumb, then rotating it over and over; arm activation by lifting their arms, then pushing them to the front, side and back; double doodle by making some squiggle with both hand at once, alphabet 8s by writing number 8 sleep.
By the implementation, it is recognized that students writing ability has increased. It can be observed from the result of cycle I and II. While in cycle I students writing ability is 62.5, in cycle II the number is up to 85%. Thus, the improvement is 22.5%.
From the result above, it is suggested that: (1) to improve students writing ability, the teachers can apply brain gym in learning activity of A group of State Kindergarten of Pembina Bumiaji; (2) this result can be used as policy reference by the head of the Kindergarten in overcoming poor early writing ability of the student; (3) this result also can be used as a reference for further research. Since its only covers only writing ability, speed, accuracy, and tidiness, future researcher may extent it to result of the children in form of letter, calligraphy, and others.

Saturday, 15 May 2010

GURU IDAMAN

Menjadi pendidik di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini bukanlah suatu profesi yang mudah. Hal ini dikarenakan anak didik di lembaga ini adalah anak yang usianya lahir sampai dengan usia 6 tahun. Anak bukan miniature orang dewasa mereka ada dengan segala keunikannya sendiri. Mereka membawa potensinya masing-masing, namun potensi yang ada masih belum terstimulasi. Anak belajar segala sesuatu dengan acara meniru.Anak-anak ini belajar di lembaga yang biasa di sebut PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). PAUD adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Menjadi pendidik di lembaga PAUD tidak hanya menuntut keuletan, kesabaran, kecerian dan kekreativan, namun juga menuntut kepribadian yang bersahaja hal ini karena guru merupakan contoh untuk anak didiknya. Menjadi contoh untuk anak usia dini bukan merupakan suatu aktivitas yang tanpa beban. Mengingat, bahwa kondisi anak yang masih polos yang disertai dengan potensi yang dibawanya. Semua potensi yang ada pada diri anak terbentuk diusia ini, masa perkembangan anak ini disebut dengan masa golden age, yaitu masa yang terbaik dalam seumur hidup perkembangan manusia. Jika terjadi kesalahan pada usaha menstimulasi perkembangan anak pada masa ini akan berakibat fatal diperkembangan anak berikutnya. Pendidikan anak usia dini merupakan fondasi dalam kehidupan manusia. Sebagai peletak fondasi diperlukan sosok guru yang patut ditiru oleh anak. Kata-kata dan perilaku yang diilakukan guru merupakan suatu hal yang sakti bagi anak. Kata-kata dan perbuatan yang lakukan oleh guru akan melebih segala sesuatu yang dilakukan oleh orang tuanya.
Setiap kali anak dibenarkan/diajari oleh orang dewasa di rumahnya jika tidak sesuai dengan yang diajarkan guru di sekolah pasti anak akan protes “kata bu guru tidak seperti itu, aku tidak mau, aku mau seperti bu guru tadi di sekolah”. Dengan membaca ucapan anak di atas terlihat guru begitu sakti dan berpengaruh bagi anak. Kedudukan guru di lembaga pendidikan anak usia dini, guru sebagai seorang ibu kedua bagi anak. Dalam arti guru mengasuh, mendidik, membimbing, dan merawat seperti anaknya sendiri tanpa membedakan anak menurut suatu apapun.
Sosok guru idaman untuk anak PAUD paling tidak harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut:
a.Memahami Aspek Perkembangan Anak
Guru mengerti dan paham dengan aspek perkembangan anak, yang meliputi perkembangan pembiasaan, bahasa, kognitif, fisik motorik dan seni serta memahami pendekatan, metode, strategi untuk memfasilitasi perkembangan anak usia dini. Selain itu pendidik juga harus kreatif menciptakan media pembelajaran untuk anak, mengingat anak masih belum bisa berfikir secara abstrak, sehingga untuk menjelaskan sesuatu diperlukan visualisasi benda konkrit.
b. Berperilaku baik
Pendidik anak usia dini adalah contoh untuk anak. Agar anak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang berintelektual tinggi dan berakhlak, maka guru dilembaga PAUD perlu mempunyai sikap tersebut.Selain itu guru juga perlu mempunyai sikap yang ramah, baik itu kata maupun perbuatannya.
c. Penuh cinta dan kasih sayang
Pendidik di lembaga PAUD adalah pengganti orang tua anak, guru sebaiknya memperlakukan anak didiknya seperti anaknya sendiri, mencintai dan menyayangi tanpa membeda-bedakan dengan tulus. Rasa cintadan kasih sayang akan mendekatkan anak pada guru. Ank adalah sosok yang peka, jika guru kurang tulus dalam memberikan kegiatan, anak akan merasa dan berulah.
d. Mudah bergaul
Guru juga sebaiknya mampu menjaga hubungan antar guru dengan orang tua anak. Aktivitas yang dilakukan oleh guru di sekolah perlu dilanjutkan oleh orang tua di rumah. Demi menjaga hubungan tersebut diperlukan sikap saling terbuka antara guru dan orang tua anak, sehingga perkembangan anak di sekolah dapat dikomunikaiskan kepada orang tua. Kegiatan anak yang dilakukan di sekolah, orang tua juga perlu bisa supaya orang tua mampu mengajari anak, untuk itu guru juga perlu mengajari orang tua anak, untuk menyiapkan bahan ajar dan cara mengajarkannya ke anak. Apalagi, sekarang masih banyak orang tua yang tidak paham dengan pertumbuhan dan perkembaagn putra putrinya, sehingga dengan tidak segan-segan orang tua melakukan kekerasan kepada anaknya sendiri.
“Kekerasan tidak patut dilakukan untuk anak” seperti yang katakan oleh:
If a child lives with criticism, he learns to condemn
(Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar menyalahkan)

If a child lives with hostility, he learns to fight
(Jika anak dibesarkan dengan kebencian, ia belajar berkelahi)

If a child lives with ridicule, he learns to be shy
(Jika anak dibesarkan dengan ejekan, ia akan tumbuh rendah diri)

If a child lives with shame, he learns to feel guilty
(Jika anak sering dipermalukan, ia akan menyalahkan diri sendiri)

If a child lives with tolerance, he learns to be patient
(Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar bersabar)

If a child lives with encouragement, he learns to be confident
(Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia akan belajar percaya diri)

If a child lives with praise, he learns to appreciate
(Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia akan belajar menghargai)

If a child lives with fairness, he learns justice
(Jika anak dibesarkan dengan keadilan, ia akan belajar berbuat adil)

If a child lives with security, he learns to have faith
(Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia akan belajar memiliki keyakinan)

If a child lives with approval, he learns to like himself
(Jika anak dibesarkan dengan persetujuan, ia akan belajar menyukai diri)

If a child lives with acceptance and friendship, he learns to find love in the world
(Jika anak dibesarkan dengan penerimaan dan persahabatan, ia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupan)

(Dorothy Law Nolte)

Hal ini dikarenakan segala sesuatu yang dilakukan orang dewasa ke anak, merupakan pengalaman bagi anak dan merupakan pelajaran bagi anak.
“Anak bukan miniature orang dewasa, maka mengertilah bahwa dunia anak bukan dunia orang dewasa, mereka mempunyai dunia sendiri, jangan memasukan dunia orang dewasa dengan paksa pada dunia mereka, beri kesempatan mereka bermain karena dalam bermain mereka belajar. Jangan banyak larangan untuk aktivitas mereka karena mereka akan merasa terkekang. Bawa dunia mereka ke dunia kita (orang dewasa) dengan tidak memaksa”.Paksaan akan membuat mereka gugur sebelum berkembang.”
Sedikit kata untukmu calon bunda, bunda dan guru idaman.
By. upiex

Wednesday, 3 June 2009

Membangun Emosi Positif Anak dengan ESQ Power


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk emosi, sehingga dalam kehidupannya manusia selalu dipengaruhi oleh kondisi emosinya. Manusia selalu melakukan perang terhadap emosi yanga ada pada dirinya sendiri. Manusia mempunyai emosi sejak manusia dilahirkan. Sejak seorang manusia dilahirkan ke dunia sudah dibekali emosi, sehingga dapat merasakan senang, sedih, marah dan lain sebagainya. Pada masa anak-anak manusia mempunyai sifat egosentris yang tinggi, sehingga anak cenderung bersikap semuanya sendiri, yang anak harapkan adalah kesenangan pada dirinya sendiri. Dengan bersikap seperti itu anak tidak dapat berbagi dengan orang lain, tempramen, agresif, dan sikap buruk lainya yang tentunya tidak dapat diterima oleh masyarakat yang ada di sekitarnya.

Sikap anak yang negatif dipengaruhi oleh emosi yang ada pada diri anak, dan jika perilaku itu dibawa sampai anak dewasa akan menimbulkan generasi yang mempunyai sikap dan perilaku yang buruk pula, maka dari itu pembelajaran untuk membangun emosi yang sehat pada anak perlu diajarkan sejak anak masih dalam usia dini. Mengingat usia dini adalah masa-masa peka dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga semua aspek perkembangan dapat berkembang dengan optimal pada usia ini termasuk perkembangan emosi.

Dalam mengajarkan anak membangun emosi yang sehat baik itu menghadapi emosi positif maupun emosi negatif pada dirinya perlu diajarkan pembelajaran emosi melalui pendekatan ESQ, sehingga anak akan mampu mengendalikan emosi pada dirinya. Pembelajaran ESQ pada anak dapat dilakukan dengan melalui orang tua, guru serta orang-orang yang lebih dewasa yang berada di sekitar anak. Perilaku yang ditunjukkan oleh orang dewasa akan ditiru oleh anak karena masa anak adalah masa imitasi, sehingga segala sesuatu yang dilakukan oleh orang tua, guru dan orang dewasa yang ada disekitar anak akan direkam dan dilakukan. Kegiatan membangun anak mempunyai emosi yang sehat dapat dilakukan dengan pendekatan ESQ Power yang dilakukan melalui ucapan, sikap dan perilaku orang tua, guru, dan orang dewasa yang ada di sekitar anak, sehingga untuk membangun emosi yang sehat pada anak, maka orang tua, guru, serta orang tua yang ada disekitar anak perlu mengetahui ESQ Power.

Dengan memahami uraian di atas maka dalam makalah ini akan dibahas cara membangun emosi yang sehat pada anak menggunakan metode ESQ Power.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari makalah ini sebagai berikut:

1 Apakah ESQ Power?

2 Bagaimana mengajarkan ESQ Power pada anak?

3 Bagimana pengaruh ESQ Power pada perilaku afeksi anak?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan dari makalah ini sebagai berikut:

1 Mengetahui ESQ Power lebih jauh.

2 Mengetahui pembelajaran ESQ pada anak.

3 Mengetahui pengaruh ESQ Power pada perilaku afeksi anak.

D. Manfaat Penulisan

Penulisan ini diharapkan dapat menjadi bahan untuk belajar para orang tua, guru serta orang yang sedang menuju kedewasaan dalam bersikap menghadapi anak-anak, sehingga orang tua, guru dan orang dewasa dapat menjadi contoh yang baik bagi anak-anak yang ada di sekitarnya.

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Hakikat ESQ Power

ESQ Power adalah sinergi antara kekuatan emosional dan kekuatan spiritual. Managemen ESQ Power: hal, 94. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang memberi makna pada kehidupan. Menurut Tony Buzan, ciri kecerdasan spiritual pada seseorang adalah; kerap berbuat baik, menolong, memiliki empati yang besar, memaafkan, mampu memilih kebahagiaan, memiliki sense of humor yang baik dan merasa memikul sebuah misi yang mulia. Kecerdasan spiritual berarti kemampuan seseorang untuk dapat mengenal dan memahami diri seseorang sepenuhnya sebagai makhluk spiritual maupun sebagai bagian dari alam semesta. Dengan memiliki kecerdasan spiritual berarti bisa memahami sepenuhnya makna dan hakikat kehidupan yang kita jalani dan mengetahui arah dan tujuan hidup. Potensi spiritual terdiri dari kemampuan menghadirkan Tuhan atau keimanan dalam setiap aktivitas, kegemaran berbuat untuk Tuhan, disiplin beribadah, sabar berupaya, dan bersyukur atas pemberian Tuhan kepada kita. Sedangkan potensi perasaan mencakup pengendalian emosi, mengerti perasaan orang lain, senang bekerjasama, menunda kepuasan sesaat dan berkepribadian stabil.

Sedangkan kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk memahami orang lain, berinteraksi dan mengembangkan empati, simpati, untuk bisa bekerja sama. http://ariefaan13.blogspot.com/2009/05/menemukan-makna-hidup-dengan-kecerdasan.html. Ketrampilan emosional yang sesuai pada setiap tahap perkembangan individu, dapat membantu mengembangkan kemampuan-kemampuan sosial, bahasa, ketrampilan motorik dan kesadaran akan diri. Ketrampilan emosional tersebut terdiri dari enam tonggak penting, yaitu: regulasi diri dan minat terhadap dunia sekitar; keakraban; komunikasi dua arah; komunikasi kompleks; gagasan emosional; dan berpikir emosional.

Dari uraian di atas dapat EQ, SQ yang tergabung dalam ESQ Power sangat penting diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Mengajarkan ESQ Power pada anak akan memunculkan generasi yang mempunyai kecerdasan emosi, spiritual dan akan tangguh dalam menghadapi segala macam masalah yang dihadapi pada kehidupannya di masa akan datang, dengn berbekal ESQ Power diharapkan anak-anak dapat mengendalikan emosinya, sehingga akan tercipta sosok yang mantab dan berkepribadian dalam bersosialisasi.

B. Pengaruh ESQ Power dalam Pendidikan Anak
Sesungguhnya sebagai orang tua, kita lebih harus berpengalaman tentang dalam mengatur emosi dirinya, maka orang tua seharusnya mampu menata, mengelola dengan cara yang sebenarnya dengan penantaan, pembenahan dan pengelolaan emosi inilah yang di sebut dengan kecerdasan emosional, maka orang yang tidak mampu mengontrol adalah penyakit emosional, maka kewajiban orang tua adalah melejitkan kecerdasan emosionalnya yakni aktivitas yang harus dilakukan secara terus menerus yakni antara kesadaran menuju pada tindakan.
Kedudukan orang tua dalam hal melesatkan kecerdasan jiwa merupakan aktor utama yang belajar untuk mencerdaskan diri dan anak-anaknya. Sesungguhnya banyak pengalaman yang bias dikisahkan tentang kebodohan emosional dan efeknya terhadap tanggung jawab dan kewajiban orangtua dalam memberikan pengasuhan, perawatan, pendidikan dan pembelajaran pada anak.
ESQ Power better life merupakan konsepsi tentang kecerdasan emosional spiritual menurut pandangan Islam dengan pelaksanaan tanggung jawab dan kewajiban sebagai orangtua dalam merawat dan mendidik dan membelajaran terhadap anak-anaknya. Dalam proses pendidkan terutama pendidikan anak yang dilakukan oleh orang tua sangat membutuhkan adanya ESQ Power.
Kiat-kiat mengajarkan ESQ Power pada anak sebagai berikut:

1. Menghindari kejahatan perasaan

Orang tua pada umumnya secara tidak sengaja atau bahkan sudah menjadi kebiasaan untuk melakukan kejahatan perasaan pada anak, misalnya: seorang ibu mencuci piring kemudian datang anaknya yang masih usia 3 tahun minta untuk diperhatikan namun ibu itu marah-marah karena beliau masih sibuk dan si anak mengganggu dirinya. Anak yang masih kecil belum mengerti bahwa ibunya masih sibuk bekerja, dia hanya berfikir yang penting semua kebutuhannya dipenuhi. Ibu yang sedang marah tersebut menjewer, memaki-maki dan lain sebagainya, sehingga secara tidak sengaja ibu telah mengajarkan anak untuk menjewer memaki, kedengkian, kemarahan, ketakutan, dan kekerasan. Segala perbuatan yang dilakukan oleh seorang ibu yang sedang marah membawa luka yang sangat dalam bagi anak, sehingga perilaku yang seperti itu perlu dihindarkan jika berhadapan dengan anak. Orang tua, guru, dan oarang dewasa yang ada di sekitar anak sebaiknya harus pandai-pandai untuk meluapkan emosinya, sebelum emosi itu meluap kepada anak sebaiknya orangtua, guru dan orang dewasa di sekitar harus ingat dan mengembalikan semuanya pada Tuhan yang menciptakan bumi dan seisinya, perilaku yang dapat dilakukan dengan menarik napas, dan istighfar bagi yang beragama islam, sehingga anak tidak akan menjadi sasaran untuk meluapkan kekesalan dan kejengkelan lagi.

2. Menampakan cinta dan keindahan

Salah satu kekuatan yang terkandung dalam ESQ Power adalah kekuatan cinta dan keindahan. Dalam ESQ Power cinta dan keindahan berasal dari sang pemilik cinta dan keindahan yaitu Tuhan. Cinta dan keindahan bersifat sangat spiritual dan trasendental, sehingga sifat ini kemudian menyebar memenuhi angkasa kosmos dan kehidupan.

Menampakan cinta dan keindahan merupakan bagaian yang penting, yang harus dilakukan orang tua, guru, serta orang dewasa pada anak-anak. Supaya cinta dan keindahan itu juga dimiliki anak.

Pada umumnya pengungkapan cinta orang tua kepada anak mengalami kesalahpahaman dan arti sehingga orang tua sering mengartikan cinta dan keindahan sebagai sikap memanjakan anak, yang berakibat pada timulnya ego yang tinggi pada anak atau keindahan dan cinta hanya tampak pada masa kecil anak, dan akan semakin menipis ketika anak tumbuh dewasa dengan diiringi oleh perilaku-perilaku yang menjengkelkan orang tua, guru, serta orang yang lebih dewasa di sekitar anak. Seharusnya orang tua, guru, dan orang yang lebih dewasa di sekitar anak memberikan cinta dan keindahan sejak anak lahir sampai anak dewasa, sehingga anak akan mempunayi jiwa yang lembut dan halus karena didominasi oleh cinta dan keindahan sebagai efek kepemilikan ESQ Power.

3. Menampakan Kesabaran

Sabar merupakan kata yang mudah diucapkan tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan. Sabar merupakan salah satu kebaikan jiwa. Kesabaran merupakan titik tengah dari dua kecenderungan jiwa yang buruk, putus asa dan pemberontakan. Dalam menghadapi anak yang sering rewel orang tua, guru serta orang dewasa lainnya harus menampakkan kesabaran, seperti saat seorang anak rewel, menangis karena sakit yang dideritanya sang ibu harus sabar merawat dan mengobatinya. Tanpa perawatan, serta doa memohon kesehatan yang penuh kesabaran sakit yang diderita anak akan semakin parah. Orang mampu bersabar adalah orang yang mempunyai ESQ power.

4. Menampakan keuletan

Sejak anak pertama dilahirkan, sejak itu pula orang tua dituntut untuk menjaga kesehatan tubuh dan jiwa anak. Merengek dan menagis dalah hal biasa yang terjadi pada anak dan hal itu biasa pula dihadapi orang tua. Lalu lemparan, terikan, penyiksaan pada diri, tindakan jahat dan nakal serta perilaku lain merupakan hal biasa yang dilakukan anak dan biasa pula dihadapi orang tua.

Jika anak sudah mulai besar, si anak akan bermain sampai dengan lupa waktu makan, sholat, belajar maka keadaan ini adalah keadaan yang biasa dihadapi orang tua, belum lagi ketika anak telah menginjak usia remaja, semakin banyak gejolak yang timbul, seperti suka melawan orang tua, membentak dan lain sebagainya, sehingga berakibat pada orang tua menyerah dan putus asa terhadap perilaku anaknya, sehingga orang tua perlu berperilaku ulet terhadap perilaku anaknya. Perilaku orang tua yang ulet dalam menghadapi anak akanmeberikan contoh pada anak sehingga yang dilakuakn orang tua akan dipahami oleh anak.

5. Menampakan kejujuran dan keadilan

Menampakan kejujuran dan keadilan adaah hal yang penting pula dilakuakn oleh orang tua terhadap anak-anaknya, sepenting mengajarkan dan membelajarakan kejujuran dan keadilan kepada anak itu sendiri. Menampakan kejujuran dan keadilan kepada adnak diharapkan anak akan melihat dan belajat kejujuran dan keadlian sehingga hal ini akan mempermudah mengajarkan dan mebelajarkan kejujuran dan keadilan itu sendiri. Agar dapat mengajarkan kejujuran dan keadilan pada anak orangtua, guru dan orang dewasa harus lebih dahulu jujur apada dirinya sendiri baik ucapan dan perbuatannya sendiri. Selain itu orang tua, guru, dan harus sering mengucapkan kata jujur dan adil, sehingga anak akan ikut dan mengimplementasikan dalam ucapanya.

6. Menampakan Kreatifitas dan Gairah

Menampakan kreatifitas dan kegairahan di hadapan anak:

  1. Pelajari kesukaan dan kecintaan anak dan masuki wilayah kesukaan dan kecintaan anak tersebut. Semua anak suka dan cinta terhadap pengetahuan, mainan, gerak, dan pengelihatan. Dalam wilayah-wilayah ini orangtua bisa masuk dan melibatkan diri dengan anak, dengan cara menjawab pertanyaan yang diajukan anak, menari, menyanyi. Dalam beraktivitas dengan anak tunjukkan semangat dan kreativitas yang anda miliki.
  2. Hindari pengabaian terhadap permintaan anak. Mengabaikan anak adalah melakukan kejahatan perasaan terhadapnya.Ketika sedang sibuk bekerja, lalu terdengar suara anak memanggil, jawab panggilannya. Jangan diam saja dan jangan merasa terganggu.
  3. Ketika kemalasan dan kebosanan mulai melanda anak, intervensi jiwanya dengan cara memberikan usulan tertentu yang bertujuan mengajak anak untuk segera bangkit kesenangan dan keceriaannya. Karena gejolak emosi, sebagian anak sering kali memperlihatkan tanda-tanda kebosanan. Kalau tanda-tanda itu terlihat pada anak, sudah saatnya orangtua bertindak. Tunjukkan kepedulian, kasih sayang, perhatian dan jangan sampai fikiran dan hatinya terkotori oleh sifat kemalasan dan kebosanan.
  4. Libatkan anak dalam tugas-tugas orang tua, dengan cara ini anak dapat mendapat kesempatan untuk melihat gairah dan kreativitas orangtuanya yang sedang bekerja. Memberi kesempatan anak kepada anak agar terlesatkan kreativitas dan kegairahannya.

7. Menampakan Disiplin dan konsistensi

Displin dan konsistensi juga merupakan dua hal yang sangat penting untuk dinampakkan oleh orangtua dihadapan anak-anak. Disiplin adalah suatu sikap yang senantiasa dimiliki oleh untuk konsistensi melakukan tugas-tugas tertentu pula, sesuai dengan rencana harian anak. Tetapi disiplin adalah lebih dari hanya sekedar menjalankan tugas-tugas harian sesuai dengan rencana tersebut. Dalam kajian ini membahas tentang disiplin jiwa yangsenantiasa menunjukkan nilai-nilai kemuliaan dan kebaikan kepada anak, dan senantiasa menghindari nilai-nilai kehinaan dan keburuan dalam keseharian anak.

Dengan mengajarkan hal-hal seperti di atas pada anak diharapkan anak dapat bersikap dan mengendalikan emosi negatif yang muncul pada dirinya pada kondisi apapun dan akan selalu tampak emosi positif yang sehat. Anak dapat berperilaku dan bertutur kata yang baik dalam kehidupan sehari-hari dapat menunjukkan anak telah mempunyai ESQ-Power yang didapat dari orang tua, guru, atau orang dewasa di sekitarnya, demi membangun generasi yang mempunyai ESQ Power diperlukan kerjasama dari banyak pihak, tidak cukup orang tua saja namun orang tua juga harus berperan.




BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari uraian di atas sebagai berikut:

  1. Manusia adalah makhluk emosi, sehingga dalam kehidupannya manusia selalu dipengaruhi oleh kondisi emosinya.
  2. Sikap anak yang negatif dipengaruhi oleh emosi yang ada pada diri anak, dan jika perilaku itu dibawa sampai anak dewasa akan menimbulkan generasi yang mempunyai sikap dan perilaku yang buruk
  3. ESQ Power adalah sinergi antara kekuatan emosional dan kekuatan spiritual. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang memberi makna pada kehidupan. Sedangkan kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk memahami orang lain, berinteraksi dan mengembangkan empati, simpati, untuk bisa bekerja sama.
  4. Kiat-kiat melejitkan ESQ Power pada anak dengan: Menghindari kejahatan perasaan, Menampakan cinta dan keindahan, Menampakan Kesabaran, Menampakan keuletan, Menampakan kejujuran dan keadilan, Menampakan Kreatifitas dan Gairah, Menampakan Disiplin dan konsistensi.
  5. Membangun EQS Power pada anak dapat dimulai membangun ESQ Power pada orang tua anak serta orang yang lebih dewasa di lingkungan anak.

DAFTAR PUSTAKA

Muhyidin, Muhammad.2006. ESQ Power for Better Life.Jogjakarta: Tunas Publishing

Muhyidin, Muhammad. 2007. Manajemen ESQ Power. Jogjakarta: Diva Press,

http://abihafiz.wordpress.com/2009/04/03/peranan-kecerdasan-emosional-dalam-proses-belajar-mengajar/

http://ariefaan13.blogspot.com/2009/05/menemukan-makna-hidup-dengan-kecerdasan.htm

http://udhiexz.wordpress.com/2008/05/27/kecerdasan-emosional-spritual-dalam-belajar