This nice Blogger theme is compatible with various major web browsers. You can put a little personal info or a welcome message of your blog here. Go to "Edit HTML" tab to change this text.
RSS

Monday, 28 March 2011

Empat Hormon Terlibat Dalam Kecerdasan Intuitif Dan Kecerdasan Spiritual

. Melatonin.

Melatonin dihasilkan oleh kelenjar pineal dalam keadaan
gelap. Setiap malam bila orang tidur dengan lampu padam maka melatonin
diekskresikan. Bila orang tidur dengan lampu bernyala maka produksi
melatonin tidak lancar akibatnya pagi hari esoknya orang bangun dengan
perasaan tubuh kurang bugar. Melatonin juga dihasilkan (sedikit
sekali) apabila orang bermeditasi dengan cara memejamkan mata atau di
ruangan yang gelap. Produksi melatonin hanya maksimal 2 – 5 mg per
hari. Melatonin dihasilkan juga oleh hewan dan mengatur pola hibernasi
beruang – misalnya – yang harus tidur selama berbulan-bulan pada musim
dingin. Melatonin mengatur jam biologis manusia sehingga terbangun dan
mengantuk pada waktunya. Ini penting bagi hewan karena hewan tidak
mengenal jam mekanik tetapi matanya peka terhadap ultra violet UV
matahari yang menghambat produksi melatonin pada siang hari tetapi
merangsang produksi melatonin pada malam hari. Melatonin juga
bermanfaat bagi berkembangnya kesadaran spiritual. Injeksi melatonin
kimiawi membawa efek sedatif (penenangan) namun membawa akibat samping
ketagihan.



2. Pinolin.

Menurut penelitian Mantak Chia yang memperkenalkan sistem
meditasi kamar gelap (Darkroom meditation) setelah hari ketiga
meditasi dalam alam kegelapan maka kadar melatonin mencapai tingkat 15
sampai 20mg di dalam darah, maka kelenjar pineal berhenti
mengekskresikan melatonin dan mulai memproduksi pinoline yang bersifat
superkonduktor dan meningkatkan replikasi sel-sel tubuh (mitosis) dan
interkalasi dengan molekul-molekul DNA. Historisnya, zat pinoline
hanya dihasilkan dalam rahim wanita yang sedang mengandung, dalam
"lucid dreaming" dan dalam pengalaman pra-mati (Near Death Experience
atau NDE).

Pinolin inilah yang merangsang terjadinya clairvoyance, clairaudience
dan clairsentience. Tanpa kadar pinoline yang tinggi jangan harap
terjadi gejala-gejala metafisis tersebut. Atau dibalik pernyataannya,
orang yang memiliki bakat alami akan ketiga jenis penglihatan,
pendengaran, pe-roso-an (roso Jawa tidak identik dengan rasa) batin
tersebut pastilah ditubuhnya secara alami memiliki kadar pinoline yang
tinggi.

Demikianlah sehingga pinoline membantu dalam proses dekoding DNA yang
memuat "collective memory" dari nenek moyang seseorang sehingga ia
menemukan informasi senilai harta karun yang tersembunyi. Pola dekode
yang diberikan oleh otak kanan itu akan berupa cahaya, suara,
pengetahuan (ilham) dan realisasi.

Putri kedua saya, seorang artis grafis, misalnya mampu
"merasakan kehadiran" mahluk halus dan sekaligus mampu melukiskannya
lengkap dengan kostumnya namun tidak mampu melihatnya dengan "mata
batin". Kerap kali dengan cross-checking dengan mereka yang memiliki
"mata batin" ternyata apa yang dilukiskannya itu identik dengan apa
yang dilihat oleh orang tersebut.

Tubuh manusia memiliki enam trilyun sel dan setiap sel dapat
"berkomunikasi" dengan setiap sub-partikel atom yang bertebaran di
seluruh ruang angkasa ini. Setiap sel itu memiliki "kecerdasan" dan
mampu berkomunikasi satu sama lain. Maka tidak heran kalau dengan
kadar pinolin yang tinggi manusia mampu "membaca" kepingan-kepingan
memory yang tertinggal pada partikel-partikel atom di manapun di alam
semesta ini.

Boleh dikatakan pinoline memungkinkan pintu menuju atas sadar manusia
terbuka dan manusia dapat mengakses informasi yang terdapat di sana
dan di mana-mana. Maka membaca "jejak memory" yang menempel pada HP
seseorang yang tidak dikenal atau arloji yang dipakainya relatif
merupakan sesuatu yang "bukan mustahil". Partikel atom garam yang
berasal dari keringat seseorang atau hormon pheromone dari tangannya
masih menempel pada HP atau arloji itu – sesuai hukum kekekalan zat –
dan memuat "sebagian memory" dari si pemiliknya.



3. Hormon 5-MeO-DMT.

Setelah berada dan bermeditasi selama 6 sampai 8 hari terus
menerus maka kelenjar pineal mulai memproduksi hormon ini. Hormon ini
bersifat luninesens (medatangkan cahaya) dan fosforensens karena
sejumlah fosfen disalurkan ke korteks mata dan orang melihat sinar
terang di kepalanya.

Penelitian oleh trio E.P.A.Van Wijka; J. Ackermanc; R.Van
Wijka,b (aInternational Institute of Biophysics, Neuss, Germany
bUtrecht University, The Netherlands cCottage Hospital, Santa Barbara,
CA, USA) menunjukkan bahwa meditasi menghasilkan emisi foton
ultra-lemah (UPE = Ultra Weak Photon Emission) pada lengan dan dahi
para meditator yang diobservasi.

Seorang almarhum adik dari ipar saja merupakan meditator alami
Taoist mengeluarkan emisi semacam itu pada tubuhnya tetapi hanya dapat
disaksikan oleh mereka yang memiliki `mata ketiga" dan anak-anak di
bawah usia 7 tahun (yang kelenjar pinealnya masih berfungsi dan
berukuran normal). An ak-anak itu menutup matanya kalau berhadapan
dengan adik ipar tersebut dan mengatakan bahwa wajahnya sangat
menyilaukan seperti sinar matahari yang terik. Believe it or not
demikianlah kata anak-anak tersebut dan mereka tidak mempunyai
motivasi apapun untuk berdusta karena ucapannya mereka itu spontan dan
tidak mempunyai motif ulterior apapun.

Maka tidak heran kalau lukisan para aulia dalam agama apapun
selalu diberi latar belakang sinar terang di belakang kepala mereka
dan disertai halo (gelang sinar di kepala). Bagaimana mungkin semua
agama memperlihatkan kecenderungan yang sama apabila fenomena tersebut
hanya bersifat fiktif atau artifisial?

Dalam hal spiritualitas, maka orang dalam taraf ini merasakan
"menjadi manusia baru" atau seakan-akan "terlahir kembali". Pada
Injil Yohanes tertulis; "Jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia
tidak akan memasuki Kerajaan Allah." (Yoh.3 : 3) Apa yang dilahirkan
oleh daging, adalah daging dan apa yang dilahirkan dari roh, adakah
roh. Janganlah engkau heran, karenaAku berkata kepadamu; kamu harus
dilahirkan kembali. Angin bertiup kemana ia mau, dan engkau mendengar
bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau kemana ia
pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."
(Yoh.3; 4, 6-8)

Pada tingkat itu NMDA-I ('N-Methyl-D-Aspartare Inhibition') biasanya
muncul. Ini merupakan "wujud halus" proses perlambatan daripada
signal-signal input glutamat ke dalam sel-sel. Dan hal ini mempermudah
sistem syaraf untuk menyebabkan elektron-elektron berhenti beredar di
dalam sel-sel, yang pada gilirannya menyebabkan tingkat meditasi
menjadi jauh lebih mendalam lagi. 5-MeO-DMT berinterkalasi dengan
perantara RNA. Orang dapat melihat visualisasi holon, seperti memahami
pikiran-pikiran pra-bahasa (bahasa telepatik).

4. Dimethyltryptamin (DMT)

Pada hari kesembilan sampai duabelas dalam meditasi dalam
ruang gelap total, maka kadar hormon DMT dapat mecapai 25 mg dalam
darah. Maka terbukalah apa yang dinamakan "mata ketiga" dam orang
secara spiritual dengan "tubuh energi"-nya mampu melayang ke antariksa
melampaui dimensi ruang dan waktu. Inilah kondisi Yesus sesudah
kebangkitan-Nya. "Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada
kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama mereka. Sementara
pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah
mereka…" (Yoh. 20: 26)

TM-Sidhi Course pernah mengajarkan selain "flying sidhi" juga
teknik `menembus tembok" ini tetapi course semacam ini – setahu saya -
belum pernah diadakan di Indonesia. Dalam course Darkroom Meditation
ini selepas 12 hari maka para meditator akan memiliki pandangan mata
inframerah dan ultraviolet serta mampu berlari-lari antar ruangan
dengan benar-benar "menembus tembok' dan `tembus orang" dengan cara
melihat dan menembus "pola panas tubuhnya" (heat patterns). Pada tahap
inilah orang mulai memahami serta mengalami apa yang dinamakan
`unconditional love" atau "agape" yaitu jenis kasih yang bersifat
ilahi (bukan kasih manusiawi atau sekedar homofil lagi).
Prev: Ilmuwan “Menemukan Kembali” Mata Ketiga
Next: Vitalnya Fungsi ‘RAS’ (Reticular Activating System)