This nice Blogger theme is compatible with various major web browsers. You can put a little personal info or a welcome message of your blog here. Go to "Edit HTML" tab to change this text.
RSS

Thursday, 26 November 2009

KECERDASAN JAMAK: MENGENALI , MEMAHAMI DAN MENGEMBANGKANNYA

Satu

Dasar dan Kerangka dari Teori Kecerdasan Jamak
Beberapa tokoh sejarah manusia seperti Winston Churchil, bukanlah seorang yang tampil cerdas dengan angka gemilang ketika mereka berada di sekolah. Gus Dur, presiden Indonesia ke-empat juga tidak berhasil menampilkan diri sebagai pelajar yang cerdas. Sebaliknya, banyak murid-murid sekolah yang gemilang, ternyata gagal total dalam masyarakat. Apa yang harus dikatakan mengenai gejala-gejala ini?

Gejala di atas membuat para pendidik merasa perlu mendefinisikan ulang makna kecerdasan. Apakah kecerdasan itu? Bagaimana menolong anak-anak yang terhambat belajar?

Di masa lalu, manusia membuat suatu alat untuk mengetahui anak-anak yang mengalami kesulitan belajar, namanya test Inteligence Quotient. Jadi tes IQ yang kini kita dikenali sebenarnya berawal dari sebuah usaha untuk mengetahui manakah murid-murid sekolah di Perancis yang mengalami kesulitan belajar sehingga mereka dapat dibantu. Dari upaya ini dibentuklah tes kecerdasan yang pertama dan kemudian berkembang di Amerika Serikat. Masalahnya muncul ketika orang-orang mulai menyempitkan arti kecerdasan dan ukuran kecerdasan seseorang menjadi sebatas sebuah nilai skor IQ seseorang. Maka orang yang ber-IQ 90 dinilai sebagai orang yang bodoh.

Sekitar 80 tahun setelah tes kecerdasan pertama dikembangkan, muncul seorang psikolog Harvard bernama Howard Gardner yang menantang pemahaman lama ini. Dalam bukunya berjudul Frames of Mind (Gardner, 1983) ia membuktikan keberadaan dari (setidaknya) 7 kecerdasan dasar. Lahirlah istilah kecerdasan jamak atau konsep multiple intelligences. Teori kecerdasan-kecerdasan jamak tersebut akhirnya mendobrak pemahaman kemampuan manusia melampaui batasan skor IQ.

Menurut Gardner, kecerdasan adalah kapasitas untuk menyelesaikan masalah-masalah dan membuat cara penyelesaiannya dalam konteks yang beragam dan wajar.

Memulai mengenal temuan Gradner tentang masing-masing kecerdasan

1. Kecerdasan Linguistik, yakni kemampuan seseorang untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun dalam bentuk tulisan. Kecerdasan ini juga mencakup kemampuan untuk memanipulasi sintak atau struktur suatu bahasa, fonologi atau suara-suara bahasa, semantika dan pengertian dari bahasa serta dimensi-dimensi dan kegunaan praktis dari suatu bahasa.

2. Kecerdasan Matematis dan Logis, yakni kemampuan untuk menggunakan angka-angka secara efektif dan berpikir secara nalar. Kecerdasan ini mencakup kepekaan terhadap pola-pola logis dan hubungannya, pernyataan-pernyataan, proposisi: jika-maka, sebab-akibat, fungsi-fungsi dan abstrak-abstrak yang berkaitan.

3. Kecerdasan Ruang, yakni kemampuan untuk menangkap dunia ruang-visual secara akurat dan melakukan perubahan-perubahan terhadap percepsi tersebut. Kecerdasan ini mencakup kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, wujud, ruang dan hubungan-hubungan yang ada antara unsur-unsur ini.

4. Kecerdasan Fisik dan Gerak, yakni kemampuan untuk menggunakan seluruh tubuhnya untuk mengekspresikan ide-ide dan perasaan-perasaan atau menggunakan tangan-tangan untuk menghasilkan dan mentransformasikan sesuatu. Kecerdasan ini mencakup keahlian-keahlian fisik khusus seperti koordinasi, keseimbangan, ketangkasan, kekuatan, kelenturan dan kecepatan.

5. Kecerdasan Musik, yakni kemampuan untuk mempersepsikan, mendiskriminasikan, mengubah dan mengespresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan ini mencakupi kepekaan terhadap ritme, tingkatan nada atau melodi, warna suara dari suatu karya musik.

6. Kecerdasan Interpersonal, yakni kemampuan untuk mempersepsikan dan menangkap perbedaan-perbedaan mood, tujuan, motivasi dan perasaan-perasaan orang lain. Yang termasuk adalah kepekaan terhadap ekspresi-ekspresi wajah, suara dan sosok postur (gestur) dan kemampuan untuk membedakan berbagai tanda interpersonal.

7. Kecerdasan Dalam Pribadi, yakni kesadaran diri dan kemampuan untuk beradaptasi sesuai dasar dari pengetahuan tersebut. Yang termasuk di dalam kecerdasan ini adalah kemampuan untuk menggambarkan diri secara baik dan kesadaran terhadap mood, tujuan, motivasi, temperamaen, keinginan dan kemampuan untuk disipilin pribadi, pemahaman diri dan self-esteem.

8. Kecerdasan Alam, yakni kecerdasan yang dimiliki mereka yang mencintai alam-alam bebas, binatang dan petualangan alam di mana mereka belajar dari hal-hal yang berbeda secara kecil

9. Kecerdasan Eksistensialis, yakni kecerdasan yang cenderung memandang masalah-masalah dari sudut pandang yang lebih luas dan menyeluruh serta menanyakan ‘untuk apa’ dan ‘apa dasar’ dari segala sesuatu.



Dasar teoritis dari konsep kecerdasan jamak
Banyak orang melihat kategori-kategori kecerdasan di atas, terutama musik, ruang dan tubuh fisik bertanya mengapa Howard Gardner menyebutkannya sebagai kecerdasan, dan bukan sebagai talenta, bakat atau keahlian. Sebebnya adalah dengan sengaja Gardner ingin merombakl suatu cara piker tertentu. Gardner menyadari orang-orang biasa mendengar ungkapan seperti ‘Orang ini tidak terlalu pintar, tetapi ia mempunyai keahlian tinggi dalam musik’. Ia amat menyadari dan memilih penggunaan kata kecerdasan dalam tiap-tiap kategori. Gardner mencoba bersikap provokatif, dengan menyebutkan adanya sembilan kecerdasan daripada sembilan keahlian karena ia ingin orang menyadari bahwa ada suatu pluralitas dari kecerdasan.

Untuk memberikan fondasi teoritis dari pernyataan-pernyataannya Gardner membentuk beberapa prasyarat dasar dari tiap kecerdasan. Dengan kata lain, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar sesuatu dapat dianggap sebagai kecerdasan penuh dan bukan sekedar serpihan bakat atau keahlian tertentu.

Kriteria-kriteria yang dipakainya, antara lain:
- Setiap kecerdasan dilaksanakan oleh salah satu bagian otak. Bila bagian dari otak tadi diisolasi atau dilumpuhkan seperti, dalam kasus pasien yang menderita luka otak, harus terbukti bahwa kecerdasan tersebut lenyap. Contoh yang jelas ialah bagaimana suatu kemampuan berbahasa lenyap bila bagian tertentu dari otak seorang pasien mengalami luka. Jadi, kecerdasan harus dibuktikan dengan adanya kemungkinan melakukan isolasi terhadap bagian otak tertentu.
- Adanya keberadaan idiot savant (orang yang cerdas hanya dalam hal tertentu namun sangat bodoh dalam hal-hal lainnya), prodigies (genius) dan individu-individu tertentu yang luar biasa. Kehadiran kecerdasan tertentu sangat menonjol dalam diri para jenius atau individu yang idiot dalam hal-hal umum walaupun dalam hal lain mereka sama cerdasanya atau bodohnya dengan orang lain.
- Suatu kecerdasasan harus memperlihatkan adanya suatu sejarah perkembangan yang distinktif dengan hasil akhir tingkat tinggi yang dapat dikenali. Tingkat perkembangan dari kecerdasan tadi yang sangat tinggi nyata bedanya dengan tingkat perkembangan yang biasa atau yang tertinggal. Selanjutnya suatu kecerdasan juga memperlihatkan kapan umumnya hal ini mulai, berkembang dan menurun.
- Adanya bekas-bekas dari dalam sejarah umat manusia dan evolusinya mengenai awal kehadiran kecerdasan. Sejarah manusia meninggalkan jejak-jejak kecerdasan-kecerdasan tadi seperti lukisan gua di Altamira yang menunjukkan kemampuan manusia untuk menggunakan kecerdasan tertentu untuk mengungkapkan makna hidupnya pada masa purbakala sekalipun.
- Adanya dukungan dari hasil-hasil psikometris. Hasil psikometri atau pengukuran kejiwaan mengungkapkan adanya kecerdasan tadi.
- Dukungan dari hasil-hasil tugas-tugas eksperimen psikologi. Hasil-hasil eksperimen juga dapat mengungkapkan adanya kecerdasan-kecerdasan tadi.
- Setiap kecerdasan memiliki inti dari rangkaian operasinya. Jadi, misalnya kecerdasan menangkap makna sesuatu (eksistensi) memiliki inti berupa kemampuan untuk merenungkan dan melihat hubungan satu hal dari hal lain.
- Kemampuan untuk dikodekan dalam suatu sistem symbol artinya setiap kecerdasan cenderung dapat diungkapkan melalui simbol-simbol tertentu.
Ringkasan teori 9 Kecerdasan jamak
Kecerdasan
Unsur-unsur inti
Sistem simbol
Wujudnya pada tingkat yang tinggi

Linguistik
Kepekaan terhadap suara-suara, struktur, pengertian dan fungsi dari kata-kata dan bahasa Bahasa-bahasa phoenetic (contoh: Bahasa Inggris). Penulis (Agatha Christie), orator (Soekarno).
Logika-Matematis Kepekaan terhadap kemampuan untuk membedakan pola-pola logis atau numerik; dan kemampuan untuk menangani ranta-rantai penalaran yang panjang. Bahasa-bahasa komputer (contoh: Pascal). Ilmu Kimia (Madame Curie), ahli matematika (Blaise Pascal).
Ruang Kemampuan untuk mempersepsikan dunia spasial-visual secara akurat dan melakukan perubahan-perubahan terhadap persepsi awalnya. Bahasa-bahasa ideografis (contoh: Cina). Pelukis (Abdullah), Arsitek (Romo Mangun).
Tubuh fisik Kemampuan untuk mengendalikan gerakan-gerakan tubuh dan menggunakan objek-objek secara tangkas. Bahasa isyarat, braille. Atlit (Rudi Hartono), penari, pemahat
Musik Kemampuan untuk menghasilkan dan menghargai ritme, melodi dan warna suara; penghargaan terhadap bentuk-bentuk ekspresi musik. Sistem-sistem notasi musik, kode morse. Komponis (Mozart), Pemain (Stevie Wonder).
Interpersonal Kemampuan untuk membedakan dan berespon secara tepat terhadap mood, temperamen, motivasi dan keinginan orang-orang. Petunjuk-petunjuk sosial (seperti gestur, ekspresi muka). Konselor, pemimpin politik (Nelson Mandela).
Dalam Pribadi Kemampuan untuk mengakses kehidupan perasaan sendiri dan memilah emosi-emosi pribadi; kesadaran terhadap kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan diri. Simbol dalam diri (contoh: mimpi, karya seni). Psikoterapis, pemimpin agama Buddha Tibet (Dalai Lama).
Alam Kemampuan menyelaraskan diri dengan lingkungan alamiah. Kemampuan menghargai dan menyukai diri sebagai bagian dari alam. Ekspresi diri yang bahagia berada di tengah alam. Pendaki gunung, ahli ekologi, ahli biologi kelautan
(Jacques Custo)
Eksistensialis Kemampuan untuk menyadari kaitan satu pengalaman dengan pengalaman lain serta makna terdalamnya. Baik pada pengalaman pribadi maupun pengalaman masyarakat. Simbol religius, lambang-lambang analogis mengenai makna hidup. Mohandas Karamchand Gandhi yang mempersoalkan makna kapitalisme, Paule Freire yang mempertanyakan makna pendidikan.

Kecerdasan
Lokasi pada sistem neurologis (area-area utama) otak

Jalur perkembangan
Hasilnya
yang dihargai budaya
Linguistik Lobus-lobus temporalis kiri dan frontal (contoh, area Broca/Wernicke) Berkembang pesat pada masa awal kanak-kanak; bertahan kuat hingga usia tua. Sejarah-sejarah lisan, cerita-cerita, literatur-literatur, dsb.
Logika-Matematis Lobus parietal kiri, hemisfera kanan. Memuncak pada masa remaja dan dewasa anak; pemahaman matematika tingkat tinggi mulai berkurang setelah usia 40. Penemuan-penemuan ilmiah, teori-teori matematika, sistem-sistem hitung dan klasifikasi, dsb.
Ruang Daerah-daerah posterior pada hemisfera kanan. Pemikiran topologis pada awal kanak-kanak memberikan jalan terhadap paragdima Euclidean sekitar usia 9-10 tahun; mata artistik tetap bertahan kuat sampai usia tua. Karya-karya seni, sistem-sistem navigasi, penemuan rancangan aristektur, dsb.
Tubuh fisik Cerebellum, ganglia basal, korteks motorik. Beragam tergantung komponen (kekuatan, kelenturan, dsb) atau kelompok (senam, basebal, pantomim, dsb). Karya-karya, kemampuan-kemampuan atletik, karya-karya drama, bentuk-bentuk tarian, pahatan, dsb.
Musik Lobus temporalis kanan. Kecerdasan yang paling awal berkembang; ahli-ahli terus melalui berbagai krisis-krisis perkembangan. Karya musik, penampilan-penampilan musikal, rekaman, dsb.
Interpersonal Lobus frontalis, lobus temporalis (terutama hemisfera kanan), sistem limbik. Pengikatan diri, paling kritis pada 3 tahun pertama. Dokumen-dokumen politik, pranata-pranata sosial.
Dalam pribadi Lobus frontalis, lobus parietalis, sistem limbik. Pembentukan batasan antara diri dan orang lain yang kritis pada 3 tahun pertama. Sistem-sistem agama, teori-teori psikologis, proses-proses kelulusan.
Alam Kepekaan pada kelembaban, waktu, atau perubahan tekanan udara Ilmu ekologi dan konservasi alam serta lingkungan hidup
Eksistensialis Mempertanyakan kematian dan makna hidup sebelum usia 5 tahun, semakin matang pada usia lanjut Pemikiran falsafah yang mendalam dan memberi tuntunan makna dan arah budaya
Kecerdasan
Asal-usul evolusi
Bukti keberadaan di spesies lain

Bekas pada sejarah manusia
Linguistik Notasi-notasi tertulis yang ditemukan berusia sampai 3000 tahun yang lalu. Kemampuan kera-kera untuk memberikan nama. Transmisi oral lebih penting sebelum ditemukan alat cetak.
Logika-matematis Sistem angka-angka yang awal serta kalender-kalender yang ditemukan. Lebah-lebah mengukur jarak mereka melalu tarian-tarian mereka. Lebih penting setelah dipengaruhi keberadaan komputer.
Ruangan Lukisan-lukisan pada dinding gua Naluri wilayah pada beberapa spesies. Lebih penting dengan awaal keberadaan video dan teknologi-teknologi visual lainnya.
Tubuh fisik Bukti adanya penggunaan peralatan purbakala. Alat-alat yang digunakan hewan-hewan primata, dan spesies-spesies lain. Lebih penting pada masa agraris.
Musik Bukti adanya instrumen-instrumen musik pada jaman batu. Nyanyian burung. Lebih penting masa budaya lisan ketiak komunikasi lebih bersifat musikal dan alami.
Interpersonal Kehidupan komunal yang dibutuhkan untuk berburu dan mengumpulkan makanan. Pengikatan terhadap ibu yang diamati pada hewan primata dan jenis-jenis spesies lainnya. Lebih penting dengan meningkatnya ekonomi jasa.
Dalam pribadi Pemberian nama dan gelar bagi diri sendiri Chimpanzee bisa mengenali diri dalam cermin, kera-kera merasakan takut. Tetap menjadi penting dalam masyarakat komplex yang membutuhkan kemampuan untuk menentukan pilihan-pilihan.
Alam Kemampuan membaca dinamika gejala alam dan menentukan posisi habitat di alam yang sukar. Semut-semut berpindah tempat sebelum musim banjir muncul Arsitektur dan industri yang harmonis dengan alam
Eksistensialis Bukti keberadaan kehidupan religius Kera menguburkan rekannya yang mati Makin kompleks masyarakat semakin penting makna keberadaaan

Kerangka pemahaman utama dalam teori kecerdasan jamak

1. Pada dasarnya, Mother Theresa, Madonna, atau Nick Mamahit memiliki potensi untuk mengembangkan seluruh sembilan kecerdasan yang ada. Jadi setiap orang memiliki seluruh kecerdasan tersebut. Teori kecerdasan jamak bukanlah suatu teori yang menentukan satu kecerdasan yang cocok bagi seseorang. Teori ini adalah teori fungsi kognitif yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk mengembangkan seluruh kecerdasan tersebut.
2. Tentunya kecerdasan-kecerdasan tersebut berfungsi bersama-sama dalam kombinasi dan dalam cara yang unik bagi setiap orang. Ada beberapa orang kelihatan memiliki kemampuan fungsi yang sangat tinggi terhadap seluruh atau sebagian dari kecerdasan tersebut, seperti ahli filsuf/sastrawan/negarawan/ ilmuwan Johann Wolfgang von Goethe dari Jerman. Beberapa orang lainnya seperti mereka yang berada di lembaga untuk orang-orang yang secara perkembangannya cacat, kelihatannya tidak memiliki aspek-aspek kecerdasan tersebut. Kebanyakan dari kita berada di antara kedua ujung tersebut, menjadi sangat berkembang dalam beberapa kecerdasaan, cukup terkembang dalam beberapa lainnya, dan secara relatif kurang berkembang dalam sisanya.
3. Kebanyakan orang dapat mengembangkan tiap-tiap kecerdasan ke suatu tingkat yang cukup memadai. Meskipun seseorang menyesali kekurangannya dalam suatu area tertentu dan menganggap masalahnya sulit dan tak mungkin teratasi, Gardner mengatakan bahwa kurang lebih setiap orang memiliki kemampuan untuk mengembangkan kecerdasan-kecerdasan tersebut ke tingkat yang cukup tinggi asalkan diberikan dorongan, pengembangan dan pengajaran yang baik.
4. Kecerdasan-kecerdasan biasanya bekerja bersama-sama dalam kombinasi dan cara yang kompleks. Gardner menunjukkan bahwa tiap-tiap kecerdasan di atas hanyalah suatu ‘fiksi’; tidak ada kecerdasan yang ada dengan sendirinya dalam kehidupan (sekali lagi, kecuali dalam kasus-kasus langka seperi savant atau individu-individu yang menderita kerusakan otak). Kecerdasan-kecerdasan selalu saling berinteraksi dengan yang lainnya.
5. Ada banyak cara untuk mejadi cerdas dalam masing-masing kategori. Tidak ada alayt ukur standar canggih yang menentukan seseorang pasti cerdas dalam suatu area yang spesifik. Malah, seseorang yang mungkin belum mampu membaca dapat dianggap memiliki kemampuan lingustik yang tinggi karena ia mampu menuturkan suatu cerita lisan yang bagus dengan menggunakan kosa kata yang luas. Teori kecerdasan jamak menitikberatkan keragaman yang kaya terhadap bagaimana orang-orang menunjukkan kelebihan mereka di dalam suatu kecerdasan maupun di antara kecerdasan-kecerdasan.

Mencapai kecerdasan-kecerdasan lainnya
Gardner menyatakan bahwa konsepnya terhadap beberapa kecerdasan merupakan suatu bentuk yang tentatif; serta terus memerlukan riset dan penyelidikan lebih langjut, bahkan beberapa kecerdasan yang didaftarkannya tidak masuk ke dalam kriteria-kriteria yang disusunnya dan seharusnya tidak dianggap sebagai kecerdasan. Di lain pihak, mungkin saja kita mengidentifikasikan kecerdasan-kecerdasan yang baru yang memenuhi criteria-kriteria tadi. Kecerdasan-kecerdasan lainnya yang telah diajukan dan sedang diteliti pada tahun 2001 adalah:
- spiritualitas
- penalaran moral
- seksualitas
- humor
- intuisi
- kreativitas
- culinary (kemampuan memasak)
- persepsi daya cium dan rasa
- kemampuan untuk mensistesiskan kecerdasan-kecerdasan lainnya.

Dua
Kecerdasan Jamak dan Pengembangan Pribadi
What kind of school plan you make is neither here nor there; what matters is what sort of a person you are.
-Rudolf Steiner (1964)
Pada saat ini telah banyak sekolah di dunia yang mencoba mengaplikasikan konsep kecerdasan jamak ke dalam seluruh proses ajar belajar. Berbagai web-site dari sekolah-sekolah yang baik telah menampilkan keberhasilan mereka. Demikian juga para pendidik di rumah tangga, entah ibu, bapak atau mertua ikut memahami pentingnya konsep kecerdasan jamak.

Apapun juga cara untuk mengaplikasikan metode pembelajaran dalam lingkungan kelas atau di rumah seharusnya dimulai dengan
o Dengan mengaplikasikannya pada diri kita sendiri selaku para pendidik dan pembelajar dewasa.
o Dengan mengidentifikasi dan menentukan potensi suatu tingkat kualitas dari kecerdasan jamak yang kita miliki, kemudian menemukan cara untuk mengembangkannya

Mengenali Kecerdasan jamak Anda Sendiri
Bila kita dapat membebaskan diri dari mitos bahwa ada orang yang cerdas dan yang bodoh, maka kita memasuki suatu alam pikir dan pandang yang baru. Yang ada adalah orang yang cerdas dalam hal tertentu dan kurang cerdsa di dalam hal lainnya.

Mengembangkan sebuah profil dari kecerdasan jamak seseorang bukanlah hal yang sederhana. Sekali lagi, tidak ada satu pun tes (kecerdasan) yang dapat menentukan potensi dan kualitas dari kecerdasan-kecerdasan seseorang. Tes-tes yang sudah terstandardisasi (saat ini), seperti yang sering dikemukakan oleh Howard Gardner, hanya mengukur sebagian kecil dari keseluruhan spektrum kemampuan. Cara yang terbaik untuk menilai atau mengetahui kecerdasan jamak sesorang adalah dengan melalui sebuah penilaian yang realistis dari kinerja orang tadi dalam beraneka konteks jenis tugas, kegiatan, dan pengalaman-pengalaman dimana terasosiasi antara satu kecerdasan dengan kecerdasan yang lain. Tentunya dibutuhkan waktu panjang untuk menelitinya.

Berikut ini merupakan beragam jenis pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari yang terkait dengan berbagai ragam kecerdasan, yang dikemas dalam bentuk inventori items. Anda dapat menggunakannya untuk mengenal diri Anda, pasangan hidup, rekan pendidik, dan orang di sekitar Anda.
AUDIT KECERDASAN-KECERDASAN JAMAK
(bagi manajer, pengajar, orang tua, dan orang dewasa

Bagian I
Selesaikan setiap seksi dengan meletakkan angka 1 pada setiap pernyataan yang Anda rasakan tepat mendeskripsikan Anda. Jika tidak, maka Anda tidak perlu mengisi atau memberikan tanda apapun pada pernyataan tersebut. Lalu jumlahkan setiap kolom pernyataan pada akhir seksi tersebut.

Seksi I
______ Saya senang mengkategorikan barang-barang sesuai ciri umumnya
______ Hal-hal yang bersangkutan dengan isu-isu lingkungan adalah penting bagi
saya
______ Mendaki gunung atau berkemah adalah kegiatan-kegiatan yang
menyenangkan.
______ Saya menikmati kegiatan berkebun
______ Saya meyakini bahwa melestarikan cagar alam itu penting
______ Meletakkan benda-benda dalam urutan merupakan hal yang masuk akal
bagi saya
______ Hewan-hewan penting dalam hidup saya
______ Rumah saya memiliki suatu sistem daur ulang
______ Saya suka belajar biologi, botani dan/atau zoologi
______ Saya menghabiskan banyak waktu pada kegiatan luar rumah

______ JUMLAH UNTUK SEKSI 1



Seksi 2
______ Saya cepat menangkap pola-pola
______ Saya peka terhadap suara-suara dan yang berisik
______ Mengikuti suatu irama mudah bagi saya
______ Saya selalu tertarik untuk memainkan alat musik
______ Saya mudah tersentuh oleh cara penyampaian suatu puisi
______ Saya mengingat hal-hal dengan membentuknya menjadi rima
______ Saya sulit berkonsentrasi ketika mendengarkan radio atau televisi
______ Saya menyukai banyak jenis musik
______ Drama musikal lebih menarik daripada sandiwara
______ Mengingat lirik-lirik lagu adalah mudah bagi saya

______ JUMLAH UNTUK SEKSI 2
Seksi 3
______ Saya menyimpan barang-barang saya dengan rapi dan teratur
______ Saya sangat terbantu dengan pengarahan-pengarahan yang runut
______ Menyelesaikan masalah-masalah adalah mudah bagi saya
______ Saya cepat kesal dengan orang-orang yang tidak terorganisir
______ Saya menyelesaikan perhitungan-perhitungan dengan cepat di luar kepala
______ Teka-teki yang membutuhkan penalaran menyenangkan bagi saya
______ Saya tidak bisa memulai suatu tugas sampai semua pertanyaan saya
terjawab
______ Struktur membuat saya sukses
______ Menggunakan aplikasi spreadsheet atau database pada komputer sangat
berguna
______ Segala sesuatu harus masuk akal bagi saya atau saya tidak puas

______ JUMLAH UNTUK SEKSI 3



Seksi 4
______ Penting buat saya melihat peran saya dalam keseluruhan hal-hal yang ada
______ Saya suka mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan
______ Agama sangat penting bagi saya
______ Saya sangat menikmati karya-karya seni yang agung
______ Latihan relaksasi dan meditasi sangat berguna
______ Saya suka berwisata ke lokasi-lokasi alam yang luar biasa
______ Saya suka membaca karya-karya filsuf kuno dan modern
______ Mempelajari hal baru menjadi lebih mudah ketika saya mengerti
kegunaannya atau nilainya
______ Saya mempertanyakan apakah ada mahluk cerdas di luar bumi
______ Mempelajari sejarah dan budaya kuno membantu saya mendapatkan suatu
perspektif
______ JUMLAH UNTUK SEKSI 4


Seksi 5
______ Saya banyak belajar dengan berinteraksi dengan orang lain
______ Makin ramai semakin asyik
______ Kerja kelompok sangat produktif bagi saya
______ Saya menyukai ruang berbincang
______ Berpartisipasi dalam politik sangat penting
______ Talk show dalam radio dan televisi sangat menyenangkan
______ Saya seseorang yang bekerja dalam tim
______ Saya tidak suka bekerja sendirian
______ Kelab-kelab dan kegiatan ekstra kurikuler sangat menyenangkan
______ Saya sangat memperhatikan isu-isu sosial dan tujuan-tujuannya
______ JUMLAH untuk Seksi 5


Seksi 6
______ Saya suka membuat benda-benda dengan tangan saya sendiri
______ Duduk diam dalam waktu yang lama sangat sulit bagi saya
______ Saya menyukai permainan-permainan dan olah raga luar rumah
______ Saya menghargai komunikasi non-verbal seperti bahasa isyarat
______ Tubuh yang sehat penting bagi jiwa yang sehat
______ Seni dan prakarya adalah rekreasi waktu luang yang menyenangkan
______ Ekspresi melalui tarian sangat indah
______ Saya suka bekerja dengan alat-alat
______ Saya mempunyai gaya hidup aktif
______ Saya belajar melalui praktek langsung
______ JUMLAH UNTUK SEKSI 6

Seksi 7

______ Saya menyukai berbagai jenis bacaan
______ Membuat catatan-catatan membuat saya mengingat dan mengerti
______ Saya secara konsisten berhubungan dengan teman-teman melalui surat
dan/atau email
______ Sangat mudah bagi saya menjelaskan ide-ide saya terhadap orang lain
______ Saya menulis jurnal
______ Teka-teki silang dan kata-kata menyenangkan bagi saya
______ Saya menulis untuk kesenangan
______ Saya menyukai bermain dengan kata-kata seperti plesetan-plesetan,
dan singkatan-singkatan
______ Bahasa asing menarik bagi saya
______ Saya suka berpartisipasi dalam kegiatan debat dan pidato

______ JUMLAH UNTUK SEKSI 7



Seksi 8

______ Saya sangat sadar terhadap keyakinan-keyakinan moral saya
______ Saya belajar dengan baik ketika memiliki keterikatan emosional terhadap
topik yang saya pelajari
______ Keadilan sangat penting bagi saya
______ Sikap saya mempengaruhi bagaimana saya belajar
______ Saya peduli terhadap isu-isu keadilan sosial
______ Bekerja sendiri sama produktifnya seperti bekerja dalam kelompok
______ Saya harus tahu mengapa saya melakukan sesuatu sebelum saya setuju
dengan hal tersebut
______ Ketika saya meyakini sesuatu saya memberikan 100% dukungan
terhadapnya
______ Saya suka terlibat dalam usaha-usaha yang membantu orang lain
______ Saya bersedia untuk memprotes atau menandatangani petisi terhadap hal
yang baik dan salah

______ JUMLAH UNTUK SEKSI 8

Seksi 9
______ Saya dapat membayangkan ide-ide dalam pikiran saya
______ Mengatur ulang ruangan sangat menyenangkan bagi saya
______ Saya suka menciptakan karya seni menggunakan berbagai media
______ Saya mengingat dengan baik menggunakan diagram
______ Seni pentas sangat menyenangkan
______ Spreadsheet sagat berguna untuk membuat tabel dan grafik-grafik
______ Puzzle tiga dimensi memberikan banyak kesenangan bagi saya
______ Video klip memberikan suatu sensasi yang menyenangkan bagi saya
______ Saya dapat mengingat kembali hal-hal dalam gambaran mental
______ Saya sangat baik dalam membaca peta-peta dan cetak biru

______ JUMLAH UNTUK SEKSI 9


BAGIAN II

Sekarang masukkan jumlah dari masing-masing seksi ke dalam tabel di bawah ini dan kalikan 10


Seksi Jumlah masukan Kalikan Skor
1 X 10
2 X 10
3 X 10
4 X 10
5 X 10
6 X 10
7 X 10
8 X 10
9 X 10










Bagian III

Sekarang masukkan skor-skor Anda dalam grafik yang tersedia sebagaimana contoh di bawah ini

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0 Seksi 1 Seksi 2 Seksi 3 Seksi 4 Seksi 5 Seksi 6 Seksi 7 Seksi 8 Seksi 9








NAMA:
TANGGAL PENGISIAN:

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0 Seksi 1 Seksi 2 Seksi 3 Seksi 4 Seksi 5 Seksi 6 Seksi 7 Seksi 8 Seksi 9




BAGIAN IV

Seksi 1 – Mencerminkan kekuatan Alam Anda
Seksi 2 – Menganjurkan kekuatan Musik Anda
Seksi 3 – Menunjukkan kekuatan Logik Anda
Seksi 4 – Menggambarkan kekuatan Eksistensial Anda
Seksi 5 – Menunjukkan kekuatan Interpersonal Anda
Seksi 6 – Menunjukkan kekuatan Kinestetika Anda
Seksi 7 – Menggambarkan kekuatan Verbal Anda
Seksi 8 – Menunjukkan kekuatan Intrapersonal/dalam diri Anda
Seksi 9 – Menunjukkan kekuatan Visual Anda


Harap diingat:

• Setiap orang memiliki seluruh kecerdasan
• Anda dapat meningkatkan sebuah kecerdasan
• Inventori ini hanyalah suatu gambaran sekilas dan dapat berubah bila terdapat bukti-bukti lain
• Kecerdasan jamak ditujukan untuk menguatkan seseorang, bukan memberikan label


Menyentuh Sumber-sumber Kecerdasan jamak

Entah Anda menjadi seorang ibu, pengajar, penyelia, atau manajer, Anda dapat menerapkan konsep ini. Teori kecerdasan jamak merupakan sebuah model yang sangat baik, khususnya, untuk melihat kelebihan-kelebihan dalam mendidik serta juga dalam memeriksa dan menguji bagian-bagian dari proses ajar belajar tersebut yang memerlukan peningkatan. Gunakan teori kecerdasan jamak untuk mengamati gaya mendidik atau mengajar Anda dan melihat kecocokannya dengan ragam kecerdasan tersebut.

Berhubung Anda tidak harus menguasai secara fasih seluruh ragam kecerdasan tersebut, sebaiknya Anda mengetahui bagaimana menyentuh sumber-sumber kecerdasan yang umumnya Anda rasakan paling lemah. Beberapa cara untuk melakukan hal ini adalah sebagai berikut:

 Mengenali kelebihan dan keahlian mitra Anda. Teori kecerdasan jamak memiliki implikasi yang luas untuk tim yang terlibat proses ajar mengajar. Sekolah yang berkomitmen untuk mengembangkan kecerdasan jamak dari anak-anaknya, harus mempunyai tim pengajar ataupun komite perencana kurikulum yang idealnya menyertakan keahlian dalam seluruh kecerdasan jamak. Setiap anggota sebaiknya mempunyai tingkat pengembangan yang tinggi dalam kecerdasan yang berbeda. Sebuah keluarga yang sepakat mengajarkan hal ini juga harus bekerja sama antara ayah, ibu atau siapa saja tokoh yang berperan dalam proses belajar. Suatu kantor yang ingin menerapkan konsep ini bagai manajernya juga perlu membentuk suatu tim. Dengan kata lain, diperlukan suatu kerja sama untuk saling mengisi dan menyentuh bagian kecerdasan yang Anda sendiri tidak kuat.

 Meminta para murid, merek yang dididik atau pelajar untuk membantu. Para murid sering kali muncul dengan strategi-strategi dan memperlihatkan keahlian, ataupun penguasaan di dalam area dimana guru-guru terkadang (mungkin sering) mengalami kesulitan. Demikian juga anak-anak di rumah seringkali mengejutkan orang tuanya dengan hal-hal yang mereka kuasai dengan sangat handal. Di kantor hal serupa ini juga dimunculkan oleh bawahan. Maka, orang yang bijak sana dalam proses mengajar belajar perlu menggunakan semua sumber kecerdasan yang tersedia di sekitarnya.

 Menggunakan teknologi yang tersedia. Gunakan sumber-sumber teknis yang dimiliki sekolah, rumah, atau organisasi Anda untuk menyampaikan informasi yang tidak mampu Anda sampaikan.
Mengembangkan Kecerdasan jamak Anda
Kebanyakan orang mampu mengembangkan seluruh kecerdasan yang dimiliki pada tingkatan penguasaan yang relatif tinggi. Mengapa tidak semua orang memiliki tingkat yang serupa dalam kecerdasan? Dalam kenyataan, potensi kecerdasan yang ada berkembang dan dipengaruhi oleh sekurangnya 3 (tiga) faktor :

• Keturunan/Biologis, termasuk didalamnya adalah; faktor genetik, kerusakan pada otak pada saat-saat sebelum, ketika, dan sesudah lahir.

• Sejarah kehidupan pribadi, termasuk di dalamnya pengalaman bersama dengan orangtua, guru, teman, dan yang lainnya, baik yang membantu pengembangan kecerdasan maupun yang melumpuhkan atau menghalanginya.

• Latar belakang sejarah dan kebudayaan, termasuk di dalamnya waktu, dan tempat dilahirkan dan dibesarkan, hakekat dan keadaan dari perkembangan sejarah atau budaya di area yang berbeda.
Pemicu dan Pelumpuh dari Kecerdasan-kecerdasan

Dalam sebuah cerita kuno, dikisahkan adanya dua orang anak kembar. Keduanya dibesarkan oleh dua orang yang berbeda setelah mereka diculik dari rumah orang tuanya. Dua puluh tahun kemudian mereka berjumpa dan merupakan dua sosok manusia dengan dua set kecerdasan-kecerdasan yang sangat berbeda. Apa yang terjadi?

Pengalaman yang mengkristalkan dan pengalaman yang melumpuhkan adalah dua kunci proses yang menentukan perkembangan kecerdasan. Pengalaman yang mengkristalkan adalah pengalaman yang memicu sebuah kecerdasan dan memulai pengembangannya menuju kematangan. Pengalaman ini merupakan titik balik dalam pengembangan bakat dan kemampuan seseorang. Biasanya berlangsung pada awal masa kanak-kanak, walaupun dapat terjadi pada sewaktu-waktu dalam hidup seseorang. Sedangkan pengalaman yang melumpuhkan adalah pengalaman yang mematikan suatu kecerdasan. Pengalaman ini sering diisi dan diiringi rasa malu, bersalah, takut, marah, dan sejumlah emosi-emosi negatif lainnya yang menghalangi kecerdasan kita untuk bertumbuh dan berkembang. Misalnya, seorang ayah danpengajarmengomentari anak didik mereka sebagai anak yang sok tahu dan sok merenung serta pengguna bahasa-bahasa yang muluk dan dalam. Mereka sebagai orang dewasa melumpuhkan perkembangan kecerdasan eksistensialis dari anak.

Sejumlah pengaruh-pengaruh lingkungan yang mempengaruhi maju atau terhalangnya pertumbuhan dari kecerdasan-kecerdasan tersebut antara lain;
 Akses ke sumber daya-sumber daya dan pelatih atau mentor. Soal ini dipengaruhi oleh keadaan finansial-ekonomi keluarga tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Seorang seperti Maradona tidak akan pernah muncul bila ia dilahirkan di pulau Putri, tanpa budaya sepak bola dan teladan di sekitarnya,
 Faktor-faktor sejarah dan budaya. Kecerdasan seseorang akan berkembang bila ia berada pada waktu dan masyarakat yang tepat. Maradona tidak akan muncul bila ia lahir di Riau Daratan, mungkin ia akan menjadi pedagang yang handal.
 Faktor-faktor geografis. Orang yang tumbuh di daerah dan kondisi alam tertentu mempengaruhi kecerdasan kinesthetiknya. Pemain ski terkenal tidak akan muncul bila dilahirkan di kota Klaten.
 Faktor-faktor keluarga. Pengaruh orangtua dapat menentukan kecerdasan si anak. Orang tua yang bijak akan secara intuitif menolong anak-anaknya mengembangkan diri keberbagai jurusan kecerdasan walaupun tidak ia sukai.
 Faktor-faktor situasional. Pengaruh situasi yang dialami seseorang, seperti perang, kelaparan atau situasi lain akan mempengaruhi perkembangan kecerdasan-kecerdasannya.

Tiga

Mengenali Kecerdasan Jamak Pada Siswa

Meskipun benar setiap anak dapat memiliki semua kecerdasan dan mampu mengembangkannya ke suatu tingkat yang cukup tinggi, anak-anak kelihatannya menunjukkan apa yang Howard Garner sebutkan sebagai kecenderungan terhadap kecerdasan-kecerdasan tertentu pada usia yang sangat muda. Pada saat mereka masuk sekolah, mereka mungkin telah menentukan cara-cara belajar yang lebih selaras dengan beberapa kecerdasan mereka dibandingkan yang lain.

SEMBILAN JENIS GAYA BELAJAR
Anak-anak yang menonjol kuat secara

Berpikir
Menyukai
Membutuhkan
Linguistik dalam kata-kata membaca, menulis, menceritakan, bermain kata-kata, dsb. Buku-buku, kaset, kertas, diary, dialog, diskusi, debat, cerita-cerita, dsb.
Logika-matematis dengan menalar bereksperimen, menanyakan, mengatasi teka-teki logika, menghitung, dsb. Benda-benda yang bisa diselidiki dan dipikirkan, materi-materi ilmiah,yang dapat dikutak katik, kunjungan-kunjungan ke planetarium atau museum ilmiah
Ruangan gambar-gambar merancang, menggambar, menvisualisasikan, dsb. Seni, Lego, video, film, slide, permainan imaginasi, maze, puzzle, buku-buku ilustrasi, kunjungan-kunjungan ke museum seni
Tubuh fisik melalui sensasi-sensasi somatik tarian, berlari, melompat, membangun, menyentuh, dsb. Permainan peran, drama, gerakan, benda-benda yang bisa dibangun, olahraga dan permainan-permainan fisik, belajar langsung, dsb.
Musik melalui irama-irama dan melodi-melodi bernyanyi, bersiul, mengetuk menggunakan kaki dan mendengarkan,dsb Bernyanyi bersama-sama, mendatangi konser-konser, bermain musik di rumah dan sekolah, alat-alat sekolah,dsb.


Interpersonal Dengan memantulkan ide-ide mereka terhadap orang lain memimpin, berorganisasi, berelasi, memanipulasi, menengahi, partyinging, dsb Kawan-kawan, kelompok-kelompok permainan, perkumpulan sosial, acara komunitas, klub-klub, permuridan .
Dalam pribadi jauh ke dalam dirinya membentuk tujuan-tujuan, bermeditasi, bermimpi, berdiam diri, berencana Tempat-tempat rahasia, waktu sendirian, proyek-proyek pribadi, pilihan-pilihan.
Alam Dengan analogi yang ada di alam Berada di alam Berkeliaran, berhubungan, dan menyentuh tanah, air, hewan, dan angin
Eksistensialis Mengenai kematian, kelahiran dan makna hidup Perenungan, cerita tentang kematian dan kehidupan Dialog dengan orang dewasa mengenai makna hidup mereka impian mereka di masa depan.

Mengukur kecerdasan jamak pada anak

Tidak ada suatu tes umum atau alat yang dapat mensurvei keseluruhan kemampuan kecerdasan jamak siswa-siswa. Apalagi, berbagai kecerdasan baru masih diteliti. Namun ini bukan berarti tidak ada satupun metode yang dapat dijadikan alat untuk mengetahui kemampuan siswa. Mungkin cara yang paling baik adalah menggunakan observasi, atau mengamati sebagaimana siswa-siswi bertingkah laku dalam kelas; bagaimana mereka menggunakan kemampuan bahasa mereka, atau tubuh fisik mereka, atau cara bergaul mereka selama beberapa waktu.

Di bawah ini adalah suatu daftar yang dapat membantu Anda mengamati kemampuan kecerdasan jamak pada anak. Harap diingat bahwa daftar ini bukanlah alat uji dan tidak digabungkan dengan informasi lain yang menjabarkan kecerdasan jamak siswa-siswa.

Nama siswa ____________ Pengamat _________
Tanggal Observasi ___ Catatan ______________


Berilah tanda pada setiap item yang cocok


Kecerdasan linguistik

_____ menulis lebih baik daripada rata-rata usianya
_____ senang membuat kisah-kisah bualan atau lelucon atau bercerita
_____ mempunyai ingatan yang baik terhadap nama-nama, tempat, tanggal atau hal-hal kecil lainnya
_____ menyukai permainan kata-kata
_____ suka baca buku
_____ mengeja kata-kata secara akurat (atau bila usia TK, mem- punyaiperkembangan ejaan yang tinggi untuk usianya)
_____ menghargai sajak-sajak yang tidak masuk akal, kata-kata plesetan, dsb
_____ suka mendengar kata-kata lisan (cerita, komentar-komentar radio, buku bercerita)
_____ mempunyai kosa kata yang baik untuk usianya
_____ berkomunikasi ke orang lain sebagian besar secara verbal



Kecerdasan logika-matematis


_____ banyak menanyakan bagaimana cara kerja sesuatu
_____ melakukan perhitungan-perhitungan yang cepat dalam kepalanya (atau bila usia TK, memiliki konsep matematika yang tinggi untuk usianya)
_____ suka pelajaran matematika (atau bila usia TK, menyukai melakukan hal-hal yang berhubungan dengan angka-angka)
_____ merasa permainan angka dalam komputer sangat menarik (atau bila tidak berhubungan komputer, menyukai permainan berhitung atau matematika)
_____ suka bermain catur, halma atau permainan-permainan strategi lainnya (atau bila usia TK, menyukai permainan yang menggunakan kotak-kotak berhitung)
_____ suka mengerjakan teka-teki logika atau permainan asah otak (atau bila usia TK senang mendengar cerita yang tidak masuk akal seperti Petualangan Alice di Negeri Ajaib)
_____ suka menaruh hal-hal dalam kategori-kategori atau secara hirarkis
_____ suka bereksperimen dalam cara yang menunjukkan proses pemikiran kognitif yang tinggi
_____ berpikir lebih abstrak atau dalam tingkat konseptual yang lebih tinggi daripada kawan-kawannya
_____ mempunyai penalaran yang baik proses sebab-akibat untuk usianya



Kecerdasan ruang

_____ menunjukkan gambar citra visual yang sangat baik
_____ membaca peta-peta atau gambar-gambar diagram lebih baik daripada teks (atau bila usia TK lebih suka memandang daripada melihat teks)
_____ lebih banyak melamun daripada kawan-kawannya
_____ menyenangi kegiatan-kegiatan seni
_____ membuat gambar-gambar yang lebih maju untuk usianya
_____ suka menonton film, slide-slide atau presentasi visual lainnya
_____ suka mengerjakan puzzle, maze atau aktivitas visual lainnya
_____ mempunyai ketertarikan terhadap bangunan-bangunan tiga dimensi (seperti bangunan-bangunan LEGO)
_____ lebih banyak memperoleh masukan dari gambar-gambar daripada kata-kata waktu membaca
_____ suka mencoret-coret pada buku kerja atau lembar kerja atau bahan-bahan lainnya

Kecerdasan tubuh fisik

_____ lebih baik dalam salah satu atau lebih dari satu olah raga
_____ bergerak-gerak atau tidak tenang kalau disuruh duduk diam terlalu lama di satu tempat
_____ secara pintar mengikuti gestur atau gerak gerik atau santun orang lain
_____ suka membongkar barang-barang dan memasangnya kembali
_____ menaruh tangannya di atas sesuatu yang ia lihat
_____ suka berlari, melompat, bergulat atau aktivitas-aktivitas yang mirip (atau bila berusia lebih tua menunjukkannya dalam secara lebih tertahan, seperti memukul teman, berlari ke kelas atau melompati kursi)
_____ menunjukkan keahlian dalam suatu karya (kayu, menjahit atau mekanik) atau menunjukkan koordinasi motorik halus dalam cara-cara lainnya
_____ mempunyai cara yang dramatis dalam mengekspresikan dirinya
_____ melaporkan sensasi-sensasi fisik yang berbeda ketika berpikir atau bekerja
_____ suka bekerja dengan lilin mainan atau pengalaman-pengalaman sentuhan


Kecerdasan musik

_____ menyampaikan bila suatu lagu terdengar aneh atau tidak sesuai dengan suatu cara
_____ menghafal melodi-melodi lagu
_____ mempunyai suara bernyanyi yang bagus
_____ bermain alat musik atau bernyanyi dalam paduan suara atau kelompok lainnya
_____ mempunyai suatu irama dalam berbicara dan/atau bergerak
_____ secara tidak sadar melantunkan lagu
_____ mengetuk secara ritmik kepada meja atau kursi di mana ia bekerja
_____ peka terhadap suara-suara lingkungan (seperti bunyi jatuh hujan di atap)
_____ berespon lebih baik ketika suatu lagu dipasang
_____ menyanyikan lagu-lagu yang ia pelajari di luar kelas


Kecerdasan interpersonal

_____ suka bersosialisasi dengan kawan-kawan
_____ tampil sebagai seorang pemimpin yang alami
_____ memberi nasihat kepada kawan-kawan yang mengalami masalah
_____ kelihatan mengenal lingkungan tempat tinggal dengan baik
_____ bergabung dalam klub-klub, komite atau organisasi-organisasi lainnya
_____ suka mengajar anak-anak lain secara informal
_____ suka bermain permainan bersama anak-anak lainnya
_____ mempunyai dua teman dekat atau lebih
_____ mempunyai empati atau perhatian yang baik terhadap orang lain
_____ orang lain mencari keberadaannya


Kecerdasan Dalam diri

_____ menunjukkan sifat independen atau niat yang kuat
_____ mempunyai pandangan yang realistis terhadap kekuatan-kekuatan dan kelemahan dirinya
_____ bekerja baik bila dibiarkan bekerja atau belajar sendiri
_____ berjalan dalam irama yang berbeda dalam pola hidup atau belajar
_____ mempunyai suatu ketertarikan atau hobi yang jarang ia bicarakan
_____ mempunyai arah pribadi yang baik
_____ lebih suka bekerja sendiri daripada dengan orang lain
_____ secara akurat mengekspresikan perasaannya
_____ mampu belajar dari keberhasilan atau kegagalan masa lalunya
_____ mempunyai self-esteem yang tinggi



Kecerdasan alam

_______Senang mengkategorikan barang-barang sesuai ciri umumnya
______ Mendaki gunung atau berkemah adalah kegiatan-kegiatan yang
menyenangkan.
______ menikmati kegiatan berkebun
______ Mengatur benda-benda dalam urutan merupakan hal yang masuk akal
______ Menyukai hewan-hewan
______ Suka mempelajari tentang hewan, gunung, batuan, atau tanaman
______ Suka menghabiskan banyak waktu pada kegiatan luar rumah



Kecerdasan Eksistensialis

______ Sering bertanya tentang perannya dalam keseluruhan hal-hal yang ada
______ Suka mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan
______ Sangat menikmati karya-karya seni yang indah
______ Saya suka berwisata ke lokasi-lokasi alam yang luar biasa
______ Mempelajari hal baru menjadi lebih mudah ketika mengerti
kegunaannya atau nilainya
______ Mempertanyakan apakah ada mahluk cerdas di luar bumi
______ Mempelajari cerita tentang sejarah dan budaya kuno

Selain dari daftar tersebut dan pengamatan, ada beberapa cara yang baik untuk mendapat informasi mengenai kecerdasan jamak pada siswa-siswa:
- Kumpulkan dokumen
- Lihat catatan-catatan sekolah
- Bicara dengan guru-guru lain
- Bicara dengan orang tua siswa
- Bertanya pada siswa-siswa
Merancang aktivitas-aktivitas khusus

Empat

Mengajarkan Teori Kecerdasan Jamak Pada Siswa-siswi dalam Proses Belajar Mengajar

Give me a fish and I eat for a day.
Teach me to fish and I eat for a lifetime.
-Proverb

Bagi banyak orang Indonesia, proses pendidikan sama dengan adanya orang dewasa yang berbicara atau menulis, sementara itu anak-anak mendengarkan, mencatat, dan duduk dengan patuh. Hal ini terjadi baik di sekolah maupun di rumah. Memang, terutama dalam lingkungan sekolah, sebagian waktupengajarhabis untuk menulis di papan tulis atau mendikte. Sebaliknya, sebagian besar waktu anak dihabiskan di bangkunya. Dalam menerapkan pendidikan yang bertumpu pada konsep kecerdasan jamak, cara kerja serupa itu sudah harus dibongkar.

Pertama-tama, anak diajak memahami proses belajar sendiri dan kecerdasan yang ia miliki. Salah satu ciri yang paling menonjol dan sangat berguna dari teori kecerdasan jamak adalah mudahnya untuk diterangkan dan dijelaskan, bahkan cukup sederhana untuk dapat dipahami oleh anak seusia enam tahun. Hal ini sulit ditemukan pada teori-teori lain.

Kelebihan ini terjadi karena teori kecerdasan jamak terikat pada kenyataan konkret yang, baik orang dewasa dan anak-anak, mengalaminya secara empiris setiap hari, seperti: kata-kata, angka-angka, gambar-gambar, tubuh, musik, orang-orang, diri sendiri, alam, dan eksistensial.

Penelitian terakhir dalam bidang psikologi kognitif, telah diterapkan dalam bidang pendidikan. Penelitian tersebut telah menguatkan sebuah pendapat yang mengatakan bahwa anak-anak memperoleh sejumlah manfaat dari pendekatan-pendekatan instruksional yang membantu mereka yang merefleksikan proses-proses belajar mereka (lihat Mazarno 1998). Jika anak-anak terlibat dalam aktivitas-aktivitas metakognitif (berpikir tentang proses mereka berpikir) seperti ini maka akan memungkinkan mereka untuk menemukan dan memilih strategi-strategi yang tepat untuk memecahkan masalah mereka. Bahkan mereka akan lebih mudah untuk beradaptasi bila diperhadapkan dengan lingkungan belajar yang baru.


Memperkenalkan Teori Kecerdasan Jamak pada Siswa-siswi

Menerangkan teori kecerdasan jamak pada sekelompok siswa-siswi tergantung pada beberapa hal di bawah ini:
 Ukuran kelas atau besar jumlah kelompok siswa-siswi yang akan diterangkan.
 tingkat perkembangan (kecerdasan) dari anak-anak
 latar belakang anak-anak
 sumber daya-sumber daya instruksional yang tersedia
Namun cara yang paling tepat untuk menjelaskannya kepada anak-anak tersebut adalah dengan menerangkannya secara langsung dan sederhana pada mereka. Anda dapat memulainya dengan pertanyaan sederhana, seperti, “Siapa dari kalian yang pandai/pintar?”. Pertanyaan ini akan memancing reaksi ketertarikan dan perhatian mereka pada topik yang akan kita bahas. Disini, kita dapat mulai membangun kesadaran mereka tentang seluruh kecerdasan yang mereka miliki.

Penggantian istilah-istilah ilmiah dari teori kecerdasan jamak ke istilah yang lebih mudah dimengerti oleh anak-anak merupakan hal yang perlu diperhatikan. Berikut ini merupakan diagram pergantian istilah-istilah :
Kecerdasan Linguistik Pandai Berbahasa
Kecerdasan Logika-matematis Pandai Berhitung
Kecerdasan Spatial Pandai Menggambar
Kecerdasan Kinesthetik-tubuh Pandai Olah Raga, terampil
Kecerdasan Musik Pandai Bermusik
Kecerdasan Interpersonal Pandai Bergaul
Kecerdasan Intrapersonal Pandai Menyendiri
Kecerdasan Alam Pandai menyelaraskan diri dengan
alam
Kecerdasan ekesistensial Pandai memahami makna hidup.

Disarankan untuk memberikan ilustrasi dari setiap kecerdasan yang dijelaskan dan pastikanlah bahwa setiap anak mendapat masukan atau pengertian yang diperoleh diri mereka sendiri. Berikan juga waktu atau kesempatan agar anak-anak tersebut melihat diri mereka sebagai anak yang pandai.

Pandai Berbahasa Pengarang buku, novelis: Mira W.
Pandai Berhitung ilmuwan: Einstein
Pandai Menggambar Pengarang komik: Takeshi Maekawa (Kungfu boy)
Pandai Olah Raga Olah ragawan: Ade Rai, Michael Jordan
Pandai Musik Musikus ternama: Coco Lee, Jenifer Lopez
Pandai Bergaul Presenter: Jody dan Erwin, Politikus; Gus Dur

Pandai Menyendiri
Para wiraswastawan: Rockerfeller, Bill Gates
Pandai Alam Pendaki Gunung: Malory
Pandai Makna Filsuf: Gandhi

Memulai Kegiatan untuk Mengajarkan Teori Kecerdasan Jamak

Biasanya orang, khususnya, Anda ingin menjelaskan teori ini tidak hanya dengan kata-kata belaka. Untuk menjelaskan model-model kecerdasan ini ada beberapa cara alternatif, antara lain:
 Hari Karir (Career Day). Yang dimaksud dengan hari karir ini adalah, Anda dapat membawa individu-individu tertentu dari lingkungan hidup Anda yang berelevansi dengan setiap model yang hendak dijelaskan. Misalnya, Anda dapat membawa seorang penulis untuk membicarakan, atau membagikan ceritanya tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukannya sehari-hari dan bagaimana ia menggunakan kecerdasan berbahasa di dalamnya. Tamu-tamu karir yang dapat Anda hadirkan antara lain, termasuk para atlit, pemusik, dan sebagainya. Namun perlu diperhatikan bahwa setiap karir mungkin melibatkan beberapa kecerdasan didalamnya dan perlu Anda diskusikan bagaimana setiap peran menyatukan sejumlah kecerdasan-kecerdasan menjadi sebuah kombinasi yang unik.
 Karyawisata. Anda dapat mengajak para siswa-siswi ke lokasi-lokasi dimana setiap kecerdasan secara khusus dihargai dan dipraktekan. Beberapa tujuan tempat tersebut antara lain: perpustakaan (pandai Berbahasa), Laboratorium (pandai berhitung), dan sebagainya. Cara ini dapat memberikan pengertian dan gambaran tentang kecerdasan jamak dalam kehidupan sehari-hari.
 Mempelajari biografi orang-orang ternama. Cara lain adalah dengan membuat para siswa-siswi mempelajari tentang biografi orang-orang ternama yang ahli pada satu kecerdasan atau lebih (lihat Gardner 1993b). Subjek-subjek untuk dipelajari seperti: Soekarno, Agatha Christie (pandai berbahasa); Marie Curie, Wrigth bersaudara, Sun Tzu (pandai berhitung, berlogika); Wolfgand Amadeus Mozart, Elvis Presley, Backstreet Boyz (pandai musik); Leonardo Da Vinci, Vincent Van Gogh (pandai gambar); Martin Luther King Jr. (pandai bergaul); Sigmund Freud (pandai menyendiri, pemikir); George Mallory (pandai alam); Gandhi, Satre, Kahlil Gibran (pandai makna). Namun perlu dipastikan bahwa orang-orang yang dipelajari datang dari, atau paling tidak, merupakan wakil dari latar belakang ras, budaya, dan etnis dari para murid Anda.
 Rencana-rencana pelajaran. Ajarkan para murid tentang sebuah subjek tertentu melalui sembilan cara pelajaran yang spesifik pada setiap daerah kecerdasan. Sebelumnya jelaskan bahwa Anda akan menerangkan materi tersebut dengan menggunakan setiap jenis kecerdasan dan mereka harus secara khusus memberikan perhatian kepada bagaimana setiap kecerdasan terliput dan terdapat didalamnya. Setelah pelajaran usai, minta kepada setiap siswa untuk memberikan gambaran tentang setiap kecerdasan yang Anda gunakan unatuk menerangkan materi tersebut. Kegiatan ini mendorong para siswa untuk merefleksikan tentang jenis-jenis proses yang diperlukan untuk setiap kecerdasan dan memperkuat kesadaran metakognitif mereka. Untuk hasil yang lebih optimal, mungkin Anda dapat menanyakan pada murid-murid tentang metode apa yang mereka sukai untuk diterapkan. Dengan cara ini Anda membantu para murid untuk mulai mengerti tentang strategi apa yang mereka sukai dalam suatu lingkungan belajar yang baru.
 Aktivitas-aktivitas bertempo cepat. Cara ini merupakan cara yang dilakukan dengan membuat para murid mengalami keseluruh kecerdasan tersebut melalui berbagai aktivitas, yang setiap aktivitasnya membutuhkan satu jenis kecerdasan. Misalnya, menulis (puisi, karangan sastra), berhitung (teka-teki matematis dan logika), menggambar, berolah raga (bermain bola, lari, dan sebagainya.), bernyanyi, sharing (curhat-istilah anak muda untuk self disclosure), refleksi diri. Yang perlu diperhatikan dalam aktivitas ini adalah agar setiap aktivitas sesuai ini dengan tingkat kemampuan murid.
 Poster-poster di tembok (Wall Displays). Anda dapat meletakkan poster-poster tentang orang-orang ternama yang memiliki satu atau lebih kecerdasan jamak pada tembok di ruang kelas untuk memberi inspirasi murid.
 Pameran hasil karya (Shelf Displays). Pamerkan hasil karya murid-murid di sekolah Anda yang memerlukan penggunaan salah satu atau lebih dari kecerdasan jamak tersebut. Pastikan hasil karya-hasil karya tersebut diberikan label yang berisi keterangan yang tentang satu kecerdasan atau lebih, yang diperlukan untuk menghasilkan karya tersebut.
 Membaca. Buat para murid yang lebih dewasa usianya, dapat disarankan untuk memberikan bahan bacaan mengenai kecerdasan jamak ini dan buku-buku yang berelevansi dengannya.
 Meja-meja kecerdasan jamak. Letakkan dan atur sembilan buah meja di dalam kelas dengan sebuah label yang mengacu pada satu jenis kecerdasan di setiap mejanya. Pada setiap meja letakan sebuah kartu tugas yang menjelaskan tentang tugas yang harus dilakukan oleh para siswa. Beri tahukan para murid untuk pergi ke meja dimana mereka yakini merupakan lambang dari kecerdasan yang paling berkembang dari diri mereka (sebelumnya, jangan beri tahu pada mereka tentang tugas yang akan mereka kerjakan atau mereka akan memilih meja berdasarkan pada kegiatan itu). Berikan batas waktu pada setiap meja/tugas dan berikan tanda apabila waktunya habis dan saat mereka untuk pindah meja (lakukan searah jarum jam). Lanjutkan hingga setiap anak mengalami setiap tugas. Bicarakan denga para murid tentang kegemaran-kegemaran mereka dan kaitkan dengan kecerdasan jamak.
 Perburuan kecerdasan Manusia. Bila Anda memperkenalkan kecerdasan jamak pada awal tahun pelajaran, saat para siswa belum saling mengenal dengan baik, maka “perburuan kecerdasan manusia” adalah jalan yang terbaik untuk mengajarkan, secara empiris, tentang sembilan macam kecerdasan sambil membantu mereka saling mengenal satu sama lain. Metode ini dilandaskan pada suatu pernyataan bahwa setiap dari kita adalah peti harta karun yang berisi karunia-karunia kecerdasan yang unik. Permainan ini mengajak para murid untuk “berburu harta karun”—yang dalam hal in adalah kecerdasan—untuk menemukan kecerdasan-kecerdasan yang unik dari orang lain. Prosedurnya adalah sebagai berikut: setiap murid menerima suatu kertas tugas yang berisi hal-hal yang harus ditemukan pada orang lain. Dengan tanda dari Anda, mereka akan membawa lembar tugas tersebut bersama sejumlah alat tulis dan mencari murid lain di dalam ruang kelas yang dapat melakukan tugas-tugas tersebut.

Ada beberapa peraturan dasar dalam proses belajar ini: semua murid harus melakukan tugas yang diminta pada daftar secara nyata sehingga dapat diobservasi oleh para pemburu, (jadi tidak ada yang boleh sekedar mengatakan bahwa dia bisa melakukan tugas tertentu); setelah tugas dilakukan, lembar tugas tadi harus diberi tanda inisial nama yang melakukan tugas; “para pemburu” hanya boleh meminta seseorang untuk melakukan satu tugas; dan untuk menyelesaikan pencarian ia harus mempunya sembilan buah inisial yang berbeda. Setelah kegiatan selesai dilakukan, ingatlah untuk menghubungkan setiap tugas pada kecerdasan jamak dan bicarakan tentang para murid yang kini telah belajar untuk saling mengenal.
 Permainan papan. Gunakan karton manila dan alat tulis untuk membuat permainan papan, dengan format tampilan papan kotak-kotak kecil. Berikan warna pada setiap kecerdasan sebagai perlambangan. Buatlah juga symbol-simbol dari setiap kecerdasan. Lalu buatlah sembilan set kartu tugas yang berukuran 5 X 7 cm, yang cocok dengan simbol-simbol dan warna-warna pada papan. Pada setiap set kartu tugas tersebut tuliskan tugas-tugas yang menggunakan kecerdasan tertentu. Pastikan setiap tugas sesuai dengan kemampuan murid-murid Anda. Disarankan untuk menggunakan sepasang dadu, beberapa figur mainan plastik.
 Cerita-cerita, nyanyian-nyanyian, dan drama-drama kecerdasan jamak. Karanglah secara kreatif hal-hal tersebut bersama murid-murid Anda. Pastikan hal-hal ini menggunakan setiap dari sembilan kecerdasan. Kegiatan ini dapat menjadi metafor bagi tingkah laku kelas, dimana kita harus menghormati dan menghargai setiap kecerdasan yang unik dari setiap orang. Cerita, nyanyian, dan drama ini dapat dipentaskan dihadapan murid-murid lain di sekolah.


Lima

PENERAPAN PRAKTIS
Di DALAM PROSES MENGAJAR BELAJAR
Di Sekolah dan di Rumah

If the only tool you have is a hammer, everything around you looks like a nail.
---Anonymus
Teori kecerdasan jamak sangat terbuka untuk banyak kemungkinan dan diterapkan. Pada satu sisi teori ini menawarkan kepada para pengajar atau orang tua untuk mengembangkan strategi-strategi mengajar yang inovatif, yang sangat berbeda secara hakiki dengan strategi mengajar yang konvensional. Namun, teori kecerdasan jamak juga memberikan batasan bahwa tak ada satu strategi pun yang dapat diterapkan dan jitu untuk semua siswa. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan sisi kecerdasan jamak yang dominan pada setiap kelas dan kombinasai dari siswa-siswi yang ada di dalamnya. Di dalam keluarga, komposisi anak juga akan menentukan strategi yang ampuh.
.
Karena adanya perbedaan-perbedaan ini maka para pengajar dan orang tua (selanjutnya akan disebut sebagai pendidik unutk strategi yang dapat digunakan di rumah dan sekolah, dan pengajar untuk strategi yang hanya dapat dilakuka di dalam suatu sekolah formal) dianjurkan untuk menggunakan strategi-strategi mengajar yang berjenjang luas. Maksudnya adalah, para pendidik disarankan untuk mengubah-ubah penekananan dari kecerdasan yang satu ke kecerdasan yang lain untuk setiap kali kegiatan belajar-mengajar diselenggarakan. Dengan demikian maka para pendidik memang akan bekerja jauh lebih keras dari pada sebelumnya.

Pada bagian ini, akan dikemukakan beberapa puluh strategi-strategi mengajar, dua atau tiga untuk masing-masing kecerdasan. Strategi-strategi ini dirancang seumum-umunya agar dapat diterapkan dengan mudah oleh para pendidik. Namun perlu diingatkan bahwa strategi-strategi ini ‘hanya’-lah contoh dan gambaran dari apa yang dapat pendidik lakukan. Strategi-strategi ini diharapkan pula untuk dapat mendorong para pendidik untuk mengembangkan potensi dan strateginya masing-masing serta kerja sama, terutama antara konteks rumah dan sekolah.

1. Strategi-strategi untuk Kecerdasan Linguistik

Strategi-strategi untuk kecerdasan linguistik mungkin salah satu strategi yang paling mudah untuk dikembangkan. Hal ini mungkin disebabkan karena begitu banyak perhatian yang diberikan untuk pengembangannya di sekolah-sekolah.

Strategi-strategi yang akan diulas berikut ini merupakan strategi-strategi yang cukup mudah digunakan dan dipakai oleh para pendidik dalam rentang yang lebih luas dari strategi-strategi konvensional (buku teks, lembar kerja, pengajaran satu arah) yang selama ini telah digunakan. Kelebihan keenam strategi ini adalah penekanannya yang lebih memberatkan pada aktivitas-aktivitas linguistik terbuka yang, tentunya, akan semakin membantu anak-anak untuk mengeluarkan kecerdasan linguistiknya.

Strategi-strategi tersebut antara lain :

o Bahasa Lain. Kejutkan anak Anda atau siswa-siswi Anda dengan setiap pagi Anda menyapa mereka dengan dua tiga kalimat dalam bahasa tertentu selama beberapa minggu, kemudian berganti pada penggunaan bahasa lain. Bila perlu gunakan bahasa daerah. Sesekali ajarkan siswa suatu istilah dari topik pelajaran yang Anda sampaikan dalam bahasa Sunda atau bahasa Mandarin. Bila Anda adalah orang tua, khususkah hari Sabtu sebagai hari bahasa Inggris, hari Minggu merupakan hari bahasa lain, dan sisanya merupakan hari bahasa Indonesia.
o Bercerita/mendongeng. Menggunakan strategi ini, para pendidik diharapkan untuk menyampaikan dan memasukkan intisari dari konsep-konsep, ide-ide, dan tujuan-tujuan instrusional ke dalam cerita yang akan diceritakan kepada anak-anak. Bercerita ataupun mendongeng sudah menjadi tradisi dalam peradaban manusia untuk menyampaikan dan menjelaskan tentang suatu pengetahuan, maka dari itu strategi ini juga mampu diterapkan bukan saja pada pengetahuan yang bersifat sosial, tetapi juga pada pengetahuan yang bersifat eksakta. Untuk membuat cerita atau dongeng lebih menarik ada baiknya anak-anak dibawa ke sebuah perjalanan fantasi dan fiktif. Siapkan dongeng ini, pertama-tama, dengan membuat daftar intisari dari elemen-elemen yang hendak disusupkan ke dalam cerita. Lalu gunakan secara kreatif imajinasi untuk menciptakan latar belakang, lokasi, plot, dan karakater-karakter dari cerita ini. Untuk membuatnya semakin nyata dirasakan oleh para pendengar, berlatihlah mendongeng pada keluarga, teman, ataupun di depan kaca. Satu hal yang perlu ditanamkan adalah pentingnya kreatifitas dan ketulusan dalam mendongeng karena hal-hal inilah yang dapat membuat anak-anakl terkesima.
o Brainstorming. Lev Vygotsky pernah mengatakan bahwa pikiran bagaikan awan badai dapat mencurahkan kata-kata. Pada saat brainstorming, murid-murid menghasilkan beragam dan sejumlah pemikiran-pemikiran verbal yang dapat dituliskan. Brainstorming dapat tentang apa saja, kata-kata untuk puisi yang dibuat oleh kelas, proyek bersama, tamasya kelas, dan sebagainya. Aturan yang mendasar untuk sebuah brainstorming adalah: keluarkan dari benak dan bagikan segala sesuatu (apapun) yang berhubungan dengan topik yang dibicarakan; jangan memberikan saran maupun kritik selama brainstorming dilakukan; dan setiap ide yang keluar harus dihargai dan dihitung sebagai alaternatif. Setelah semua siswa telah mendapat kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya, undang para murid untuk memberikan tanggapan atas ide-ide yang telah masuk di muka kelas. Strategi ini memungkinkan seluruh siswa yang mempunyai ide untuk menerima pengakuan terhadap pemikiran-pemikiran originalnya. Bila hal ini dilakukan di rumah, undanglah putra putrid tetangga Anda.
o Penggunaan alat perekam. Alat perekam atau tape recorder, merupakan salah satu alat yang paling berguna dalam proses belajar-mengajar. Alat ini memungkinkan anak-anak siswa untuk dapat belajar tentang kekuatan-kekuatan linguistik mereka; menggunakan keterampilan verbal mereka untuk berkomunikasi, menyelesaikan masalah dan mengekspresikan perasaan mereka. Tape recorder tersebut dapat digunakan dengan cara sebagai berikut: membicarakan masalah mereka yang nantinya akan diselesaikan; menyiapkan penulisan; dan sebagainya. Dari kegunaan-kegunaan ini dapat diperoleh manfaat antara lain: merefleksikan proses pemecahan masalah atau keterampilan kognitif mereka; cara alternatif sebagai media pengekspreian perasaan; membagikan pengalaman pribadi dan menerima umpan balik satu dengan yang lain. Idealnya setiap kelas memiliki beberapa alat perekam tersebut, dan para pengajar sebaiknya merencanakan penggunaan yang rutin untuk mendukung pertumbuhan alam berpikir para murid. Di rumah, upayakan agar ada satu tape recorder yang dapat merekam.
o Menulis jurnal. Buku harian atau jurnal dapat secara rutin dikerjakan oleh anak-anak untuk merekam perasaan, tulisan, atau gambaran mental yang mereka miliki. Untuk anak-anak yang kecil, jurnal tidak memerlukan kata-kata. Jurnal ini akan melibatkan mereka ke dalam proses pembuatan dari pencatatan yang berkesinambungan tentang suatu bahasan tertentu. Bahasan tersebut bisa berupa bahasan yang umum dan terbuka atau yang bersifat khusus sekalipun. Topik bahasan bisa terentang dari topik-topik mengenai diri sendiri sampai topik-topik ilmiah dan matematis, atau apapun. Jurnal ini dapat juga bersifat pribadi, dibagikan untuk orang tuanya; atau dibagikan antara murid dengan guru, atau diceritakan di dalam kelas.
o Mempublikasikan hasil karya siswa. Strategi ini bertujuan agar anak-anak tidak merasa bahwa membuat karya, dalam hal ini, karya tulis sebagai pemenuhan tugas dan rutinitas belaka. Dengan memfasilitasi strategi ini, para pendidik dapat menekankan bahwa menulis adalah sarana yang sangat berguna untuk berkomunikasi dan mempengaruhi orang lain.

2. Strategi untuk Kecerdasan Logika-Matematis

Umumnya, para pendidik mengira baha cara berpikir logika-matematis terbatas pada bidang ilmu matematika dan bidang ilmu-ilmu eksakta lainnya. Namun, komponen-komponen dari kecerdasan ini dapat diterapkan keseluruh bidang ilmu lainnya. Berikut ini adalah lima strategi untuk mengembangkan kecerdasan logika-matematis di sekolah;
o Kalkulasi dan kuantifikasi. Para pendidik disarankan untuk membuat kesempatan untuk berbicara tentang angka-angka, baik di dalam maupun di luar pelajaran matematika. Dalam subjek-subjek pelajaran seperti sejarah dan geografi, para pengajar dapat memfokuskan secara rutin, tentang betapa pentingnya perhitungan dan statistik. Misalnya, jumlah tentara yang gugur dalam medan perang, populasi suatu daerah, dan sebagainya. Namun para pengajar tidak perlu memaksakan apabila memang tidak memungkinkan untuk melakukan strategi ini. Dengan mengemukakan angka-angka di tengah-tengah pelajaran non-matematika, para pengajar dapat membantu membiasakan para murid berlogika. Di rumah, ibu dapat mulai mengajar anak mengkalkulasi jumlah tepung yang aka dimasukkan ke dalam adonan, jumlah telur yang perlu dibeli dalam satu minggu, dan jumlah anggaran uang jajan anak-anak.
o Klasifikasi dan kategorisasi. Pola berpikir yang logis dapat dirangsang dengan informasi-informasi yang diletakkan di dalam sejenis kerangka berpikir yang rasional. Strategi ini bertujuan untuk mengorganisasikan fragmen-fragmen informasi yang diterima agar lebih mudah untuk diingat, dipikirkan dan dibicarakan. Di rumah hal ini dapat dilakukan dengan mengajar anak memisahkan sampah ke tong yang berbeda: tong untuk sampah organic dan tong sampah barang non organic.
o Mempertanyakan ala Socrates. Dalam metode ini, para pendidik tidak memberikan pertanyaan kepada anak-anak tentang suatu subjek tertentu, melainkan memberikan kesempatan anak-anak untuk berbeda pendapat dan berargumen. Peran para pendidik dalam strategi ini kemudian adalah mempertanyakan secara kritis hipotesa yang dibuat para murid dengan tujuan; membuka kebenaran ataupun kesalahan yang terdapat di dalamnya, kejelasan, ketepatan, koherensi logis, dan relevansi. Tujuan dari strategi ini bukanlah untuk mengalahkan siswa dan membuatnya malu, melainkan untuk membantu mereka mengasah dan mempertajam cara berpikir dan keterampilan logika mereka sehingga pendapat-pendapat mereka tidak lagi dinyatakan karena dorongan emosi yang kuat atau karena perasaan.
o Heuristik. Bidang ini mengacu pada sumbang saran bebas untuk menghasilkan strategi-strategi, kerangka kerja, panduan-panduan dan usulan-usulan untuk pemecahan suatu masalah. Para pengajar disarankan untuk memfasilitasi agar para murid dapat memilah-milah solusi yang paling tepat untuk masalahnya. Metode ini memungkinkan para murid untuk memiliki ‘peta-peta logika’, dengan kata lain, para murid dapat menemukan pemecahan masalah sekalipun dalam lingkungan yang asing.
o Berpikir ilmiah. Strategi ini dilakukan dengan membangun minat dan rasa peduli siswa terhadap isu-isu ilmiah. Minat dan rasa peduli dapat dibangun dengan memberikan bahan-bahan yang mengemukakan hasil nyata dari ilmu pengetahuan. Misalnya, mereka diberi pasokan bahan mengenai jumlah jenis yang punah di pantau Jakarta dalam 2 dekade terakhir serta angka peningkatan kadar timah di dalam air sungai di Jakarta dalam 10 tahun ini.

3. Strategi-strategi untuk Kecerdasan Spatial

Kecerdasan spatial bereaksi terhadap gambar-gambar, baik dari gambar-gambar dari dalam pikiran maupun yang berasal dari dunia luar. Berikut ini adalah lima strategi untuk mengaktifkan kecerdasan spatial siswa:
o Visualisasi. Salah satu cara yang paling mudah untuk membantu para murid dalam menterjemahkan bahasa verbal ke dalam bentuk visual adalah dengan menyuruh mereka membayangakan obyek tersebut. Aplikasi yang lebih terbuka dari strategi ini adalah dengan meminta para murid untuk menutup mata mereka dan membayangkan gambar dari hal yang baru saja mereka baca atau pelajari. Para pengajar juga dapat berperan sebagai ‘pemandu visualisasi’ sebagai cara untuk memperkenalkan suatu konsep atau bahan pelajaran yang baru.
o Petunjuk-petunjuk warna. Siswa-siswa yang memiliki kemampuan spatial tinggi biasanya peka terhadap warna. Dengan menggunakan warna-warna yang menarik pada objek-objek pelajaran dan peralatan kelas, juga membiarkan mereka menggunakan warna-warna favorit mereka dalam memahami perlajaran, mereka dapat mengerti dan memahami pelajaran-pelajaran yang sulit lebih cepat.
o Metafora gambar. Taktik ini adalah dengan menggunakan ide, dalam hal ini sesuatu yang visual, sebagai simbol dari suatu konsep. Misalnya, menggambarkan seekor gajah sebagai konsep “lambat asal selamat.”
o Membuat sketsa dari suatu ide. Strategi ini bertujuan untuk membantu siswa memahami suatu konsep dengan menggambar kata kunci, ide utama, tema, dan konsep
o inti dari suatu bahan pelajaran tertentu. Sketsa yang dibuat tidak perlu rapih ataupun bersih dengan tujuan meningkatkan kecepatan untuk menuangkan ide-ide tersebut. Tony Buzan telah lama menghasilkan pelatihan di bidang ini yang kini dikenal dengan nama Mind Mapping Techniques.

o Simbol-simbol grafis. Para pengajar diminta untuk membuat gambar agar anak-anak mudah untuk memahami pelajaran yang sedang dipelajari. Yang dipentingkan disini bukanlah gambar yang indah tetapi kejelasan dan tingkat repesentasi dari gambar tersebut terhadap masalah yang dibahas.


4. Strategi bagi Kecerdasan Tubuh

Siswa-siswa mungkin meninggalkan buku pelajaran mereka seusai sekolah, tetapi kemanapun mereka pergi tubuh mereka ikut. Selaiknya, pendidik menemukan cara yang dapat membantu anak-anak mengintegrasikan belajar dalam tingkat yang paling dalam dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan mereka. Secara umum, pelajaran tubuh fisik sudah lama dikategorikan sebagai pendidikan jasmani/kesehatan dan keterampilan. Strategi-strategi berikut ini dapat mempermudah agar mereka dapat memadukan aktivitas belajar kinestetika dengan pelajaran umum seperti membaca, matematika dan IPA.

Jawaban tubuh. Berilah pertanyaan kepada siswa dan suruhlah mereka untuk menjawab dengan menggunakan tubuh mereka sebagai alat ekspresi. Strategi ini ada berbagai variasi cara, seperti mengangkat tangan, tersenyum, main mata atau mengacungkan jari.

Teater kelas. Untuk mencari bakat akting pada anak-anak, mintalah mereka untuk menjelaskan tulisan, persoalan atau bahan pelajaran lain dengan cara yang didramatisir atau permainan peran. Teater kelas dapat dilakukan secara informal seperti memberi mereka 1 menit untuk berimprovisasi dari bahan pelajaran atau meringkaskan seluruh pelajaran pada akhir semester. Untuk membantu siswa-siswa yang lebih tua yang mungkin kurang terbiasa, mereka dapat diajak melakukan sedikit latihan pemanasan.

Konsep-konsep Kinestetika. Strategi ini melibatkan siswa-siswa untuk menggunakan ilustrasi atau gambaran-gambaran tubuh untuk menjelaskan konsep-konsep spesifik atau bahan dari pelajaran. Aktivitas ini memerlukan siswa-siswa untuk menerjemahkan informasi dari sistem simbol bahasa atau logika menjadi murni ekspresi tubuh-kinestetika.

Memperkenalkan dengan tangan. Strategi ini berguna untuk memperkenalkan bahan pelajaran melalui objek-objek yang dapat dipegang atau disentuh. Pada tingkat yang lebih tinggi cara ini dapat dilakukan dengan menyuruh mereka membuat prakarya atau bangunan-bangunan dari bahan dasar.

Peta Tubuh. Cara ini dilakukan dengan dasar bahwa tubuh manusia dapat dijadikan titik referensi dari bahan pengetahuan tertentu, seperti pada geografi di mana tubuh dapat dicontohkan sebagai peta Indonesia, atau menggunakan anggota-anggotanya untuk matematika.

6. Strategi Mengajar bagi Kecerdasan Musik

Selama ribuan tahun, pengetahuan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan menggunakan nyanyian atau pantun. Hanya kini, cara tersebut agak segan dipergunakan oleh para pendidik. Sebenarnya para pendidik dapat menggunakan lagu-lagu yang sedang terkenal untuk memicu ingatan jangka panjang pada siswa-siswa karena mereka dengan memadukannya dengan pelajaran. Strategi-strategi yang dapat membantu:

Ritme, Lagu-lagu, Rap dan Pantun Padukan bagian utama dari bahan yang sedang diajar ke dalam suatu bentuk ritme sehingga dapat dinyanyikan. Dalam tingkat dasar, mengeja kata-kata dengan ritme atau menyanyikan lagu yang populer bisa dilakukan. Mengajak siswa-siswa untuk menciptakan lagu-lagu atau rap yang meringkas, mensistesiskan atau menerapkan arti bahan pelajaran akan juga membawa mereka dalam tingkat belajar yang lebih tinggi lagi. Misalnya penggunaan jembatan keledai “Mejaku-binilu” untuk menggambarkan spectrum pelangi (Merah jingga kuning biru nila ungu,,, dengan warna di tengahnya…..)

Diskografi. Tambahkan pada daftar pustaka kurikulum dengan daftar lagu-lagu atau rekaman yang dapat memperdalam arti bahan yang akan dijelaskan. Lagu tersebut dipadukan dengan pelajaran dengan tujuan memberikan ilustrasi atau memperjelas maksud yang ingin ditujukan. Contohnya adalah lagu “Lilin-lilin Kecil” dari Chrisye dapat dijadikan ilustrasi makna komitmen dan perjuangan hidup.

Super-ingatan musik. 25 tahun yang lalu, para peneliti pendidikan di Eropa Timur menemukan bahwa siswa-siswa dapat lebih mudah memasukkan informasi ke dalam ingatan bila mereka mendengar penjelasan guru mereka dengan latar belakang musik. Lagu-lagu jaman barok atau pilihan-pilihan lagu klasik adalah yang paling efektif dipergunakan ketika pengajar menyampaikan sejarah Revolusi Perancis, atau lagu Soul ketika menggambarkan perjuangan Martin Luther King Jr.

Konsep musikal. Nada-nada musikal dapat menjadi suatu alat kreatif untuk mengekspresikan konsep-konsep, pola-pola atau skema dari berbagai pelajaran. Ritme atau irama dapat digunakan untuk mengekspresikan ide-ide. Contoh: Membandingkan lagu Keroncong dari budaya Jakarta yang lamban dengan lagu Jazz Nat King Cole dari budaya berontak para orang Hitam di USA.

Mood musik. Carilah lagu yang direkam yang dapat menciptakan suatu mood yang sesuai atau suasana emosi dengan pelajaran atau bagian pelajaran tertentu. Musik-musik tersebut dapat pula disertai dengan efek-efek suara. Misalkan bahan geografi mengajarkan mengenai desa nelayan, dapat dicarikan lagu pantai dengan bunyi desiran ombak dan sebagainya. Kaset-kaset serupa ini dipergunakan dengan meluas di Korea Selatan untuk kantor, lembaga pendidikan dan keluarga.

6. Strategi Mengajar bagi Kecerdasan Interpersonal

Beberapa siswa membutuhkan waktu untuk memantulkan ide-ide mereka kepada orang-orang lain agar dapat berfungsi secara optimal dalam ruang kelas. Beberapa strategi yang dapat membantu:

Saling berbagi (sharing) di antara teman. Saling berbagi mungkin adalah strategi kecerdasan jamak yang paling mudah. Yang perlu dilakukan hanyalah menyuruh siswa untuk “Berpalinglah ke teman sebelahnya dan berbagi/sharing _____”. Yang digarisi bisa menjadi apa saja, entah topik pelajaran atau materi lainnya. Saling berbagi di antara teman dapat pula berkembang menjadi peer tutoring (melatih atau mengajarkan suatu bahan pelajaran tertentu) atau pengajaran silang umur (siswa yang lebih tua mengajar kepada yang lebih muda).

Patung ide. Ketika kepingan pemikiran anak-anak dikumpulkan bersama untuk secara kolektif seakan mewakili factor-faktor dari suatu bentuk fisik yang terdiri dari suatu ide, konsep atau tujuan belajar spesifik lainnya, kini jadilah mereka suatu patung ide orang. Jika anak-anak belajar adalah kerangkanya, mereka bisa membangun suatu patung atau bangunan ide sepenuhnya dengan masing-masing orang mewakili suatu faktor seperti tulang atau sekumpulan otot.

Kelompok kerja sama. Menggunakan kelompok kecil untuk bekerja sama mencapai tujuan intruksional bersama adalah inti utama dalam model kelompok kooperatif. Kelompok ini paling efektif beranggota dari 3 – 8 orang. Kelompok ini dapat bekerja sama dalam mengatasi masalah dan mengerjakan tugas mereka dalam berbagai cara, seperti menulis, mencatat atau menyumbang ide terhadap tugas mereka.

Permainan-permainan papan. Permainan papan menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar dalam konteks sosial yang informal. Di satu pihak, mereka saling ngobrol, menjabarkan aturan permainan, melempar dadu dan kelakar. Di pihak yang lain, mereka ditarik untuk mempelajari keahlian atau pelajaran apapun yang menjadi fokus permainan tersebut.

Simulasi. Sebuah simulasi melibatkan sekumpulan orang yang bersama-sama menciptakan suatu suasana buatan. Setting sementara ini menjadi konteks untuk anak-anak mengadakan kontak langung dengan bahan yang sedang mereka pelajari. Meskipun strategi ini melibatkan beberapa kecerdasan, ini dimasukkan dalam bagian interpersonal karena interaksi manusia diperlukan bagi anak-anak untuk mengembangkan tingkat pemahaman yang baru. Contohnya adalah mereka mengembangan suasana konflik dimana masing-masing pihak menerima informasi yang keliru tentang lawan mainnya.

7. Strategi bagi Kecerdasan Dalam Diri

Kebanyakan murid menghabiskan sekitar 6 jam sehari dalam 6 hari seminggu di dalam sebuah kelas bersama 25 – 35 orang lainnya. Bagi para individu yang mengembangkan kecerdasan dalam diri yang sangat kuat, suasana dalam kelas yang sangat ketat ini dapat menjadi menekan bagi mereka. Karena itu para pengajar perlu memberikan kesempatan yang banyak agar siswa-siswa dapat mengalami diri mereka sebagai makhluk berdiri sendiri yang memiliki kehidupan yang unik dan individualitas yang dalam. Strategi-strategi yang dapat membantu di antaranya:

Kesempatan refleksi diri selama 1 menit. Selama ceramah, diskusi atau tugas proyek dan aktivitas lainnya, mereka perlu diberikan banyak kesempatan ‘time-out’ untuk melakukan introspeksi atau pemikiran yang dalam. Periode ini dapat memberikan mereka kesempatan untuk mencerna dan menghubungkan informasi yang diberikan dengan diri dan kehidupan mereka sendiri. Waktu ini juga dapat memberikan perubahan yang menyegarkan terhadap laju tempo yang dapat membantu mereka mempersiapkan diri menghadapi aktivitas berikutnya.

Hubungan pribadi. Kebanyakan murid tidak menyediakan waktu untuk mengevaluasi kehidupan pribadi mereka dengan menanyakan ‘apa hubungan antara yang telah kupelajari dengan kehidupanku?’ Kemajuan dan pengembangan hal ini tergantung kepada para pengajar untuk membantu menjawab pertanyaan tersebut dan seterusnya membuatkan hubungan-hubungan antara apa yang diajar dengan apa yang dialami siswa dalam kehidupan mereka. Strategi ini perlu melibatkan perasaan dan pengalaman mereka dalam pelajaran yang diterangkan.

Waktu pilihan. Memberikan pilihan-pilihan kepada siswa adalah suatu prinsip belajar mengajar yang sangat dasar terutama sebagai tumpuan dari strategi mengajar kecerdasan dalam diri. Intinya, waktu pilihan terdiri dari membentuk kesempatan bagi anak-anak membuat pilihan mereka terhadap pengalaman hidup mereka. Pilihan-pilihan yang diberikan dapat bersifat sempit terbatas (silahkan pilih membuat halaman 12 atau 14) ataupun terbuka (pilih karya ilmiah apa yang ingin anda kerjakan selama semester ini). Pilihan-pilihan yang diberikan dapat muncul secara mendadak dan tidak direncanakan seperti pada awal atau akhir pelajaran, ataupun direncanakan dan berstruktur jauh waktu sebelumnya.

Saat-saat yang diwarnai perasaan. Cara ini adalah dengan melibatkan perasaan-perasaan atau emosi seperti senang, tertawa, mengekspresikan opini yang kuat ataupun marah dengan pelajaran yang diterangkan. Ada berbagai cara untuk menciptakan saat-saat yang diwarnai perasaan dengan pertama-tama memodelkan emosi yang ingin diajarkan, lalu memberikan perasaan aman kepada anak-anak untuk berperasaan (memberikan izin, menerima perasaan-perasaan yang muncul dan terakhir, menyediakan pengalaman-pengalaman (seperti film-film, buku atau ide-ide yang kontroversial) untuk merangsang reaksi-reaksi yang dinadai perasaan. Bagi orang Timur, kecerdasan ini sulit dibangunkan karena corak nilai budayanya yang justru membuat orang menekan perasaan dan menyembunyikan perasaan yang negatif.

Sesi-sesi menentukan pilihan. Salah satu ciri dari pelajar yang cerdas dalam intrapersonal adalah kemampuan mereka menciptakan tujuan-tujuan yang realistis bagi diri mereka sendiri. Kemampuan ini adalah yang terpenting sekaligus yang terutama dalam upay aseseorang memiliki suatu kehidupan yang sukses. Karena itu para pendidik perlu membantu anak-anak menyiapkan diri dan memberikan mereka kesempatan untuk melakukannya. Tujuan ini dapat bersifat jangka pendek (seperti, “Buatlah daftar tiga hal yang ingin kalian pelajari dalam minggu ini) ataupun panjang (‘Katakanlah apa yang ingin kalian capai 25 tahun dari sekarang). Yang diperlukan hanya beberapa menit yang memerlukan perencanaan yang dalam dalam waktu beberapa bulan.

7. Kecerdasan Alam

Dalam sebuah planet seperti bumi dimana keberadaan manusia akan terkait dengan survive atau tidaknya planet ini, manusia yang memiliki kecerdasan alam memahami hubungan antara dirinya dengan air, udara, suara, magnet, tanah dan hal-hal selanjutnya. Para pendidik dapat melatih pengembangan kecerdasan alam sejak dini sehingga anak akan menjadi orang yang cerdas dalam mengelola alam yang Tuhan berikan pada manusia, cerdas dalam memahami bagaimana ia dapat selaras dengannya dan dapat menikmati keberadaan di alam.

Beberapa strategi untuk pengembangan hal ini adalah

Pesawat Luar Angkasa Bumi: Strategi ini mengajak peserta dari waktu ke waktu untuk menyadari bahwa kita sedang terbang bersama 6 milyar manusia lain di dalam sebuah pesawat yang bernama bumi. Pesawat ini memiliki bahan bakar yang dapat habis, dapat ditabrak komet atau benda angkasa lain, dapat kita rusak tanpa sengaja, dan sebagainya sehingga kita perlu memeliharanya. Perlihatkan gambar bumi, juga gambar erosi air, erosi angin, kerusakan akibat limbah nuklir, limbah kimia di pantai dan sebagainya.

Kebun Binatang seJagat. Peserta diajak bermalam di sebuah kampung dan mendengarkan berbagai suara binatang kecil di sekitar mereka. Terlebih dulu perlihatkan gambar insekt yang mungkin ada di kampung itu. Gunakan permainan serupa dengan mencoba mencatat suara-suara yang ada di sekitar sekolah setiap hari. Observasi murid-murid yang semakin hari semakin peka dan menemukan suara-suara yang tadinya tidak dikenalinya.

Barometer. Ajak peserta membuat sebuah barometer dengan mencari sehelai benang sepanjang 80 sentimeter. Buatlah benang tadi berbentuk huruf V seperti di gambar, lalu ikatkan sebuah benda yang terikat pada suatu poros. Kini letakkanlah sebuah kertas untuk mengukur ketinggian kelembaban pada setiap pagi.

Strategi Untuk Meningkatkan Kecerdasan Eksistensi

Kematian dan kelahiran merupakan urusan yang pasti akan dialami seorang anak. Televisi membuatnya seakan permainan. Tugas pengajar adalah mengajak siswa-siswi melihat kematian dan kelahiran tanpa rasa takut serta menjelaskan makna hidup sehingga mereka mulai berani bertanya makna kehidupan mereka dan makna apa yang mereka lakukan saat ini.

Mengunjungi ruang kelahiran. Beberapa bulan sekali ajaklah siswa melihat seorang anak yang baru dilahirkan. Tanyakan kepada mereka apakah mereka tahu dimana mereka dilahirkan dan bagaimana perasaan mereka ketika melihat seorang anak bayi yang baru lahir. Catatlah bagaimana respon anak-anak dari waktu ke waktu dan ajak bicara anak-anak yang mulai membicarakan kematian serta tujuan keberadaaan.


Mengunjungi kuburan. Secara berkala ajaklah anak mengunjungi kuburan dan menjelaskan makna tulisan-tulisan di batu nisan. Galilah bagaimana respon mereka terhadap kematian. Berhati-hatilah dalam menggarap bagian pelajaran ini, karena pengalaman ini dapat menjadi pengalaman pemicu kemajuan kecerdasan eksistensial namun dapat menjadi trauma yang menghasilkan pengalaman yang melumpuhkan.

Mengunjungi penjara. Anak-anak dapat pula mengunjungi penjara dan atau melaluinya dari jauh. Ajaklah mereka mendiskusikan mengapa orang-orang berada di penjara. Bagaimana mencegah mereka dimasukkan ke dalam penjara? Makna dari suatu tindak kejahatan juga perlu dijelaskan dengan hati-hati.


Mengunjungi Museum Purbakala Kunjungi berbagai museum, jelaskan bahwa disana dipamerkan berbagai karya yang dibuat oleh mereka yang sudah tiada. Perlihatkan bagaimana benda-benda yang dibuat manusia berevolusi. Perlihatkan dan bicarakan juga kegunaan museum bagi kita semua.

Enam

Contoh Penyusunan Permainan-permainan Kecerdasan Jamak
Permainan Kecerdasan Interpersonal : Jaring Laba-laba

Konteks kecerdasan jamak :
Kecerdasan interpersonal digunakan ketika anak-anak memberikan umpan balik positif kepada teman-temannya.

Hasil yang akan diperoleh anak :
Anak-anak akan terfokus untuk mengekspresikan komentar-komentar yang positif kepada teman-teman sepergaulannya yang mungkin belum mereka kenal dengan baik.

Prosedur pelaksanaan permainan :
1. Minta anak-anak untuk berdiri membentuk lingkaran.
2. Pendidik memegang sebuah gulungan benang berbentuk bola di salah satu tangan dan memegang ujung benang di tangan yang lain. Lalu lemparkan bola benang tersebut kepada salah seorang siswa dengan tidak melepaskan ujung benang yang dipegang pada tangan yang lain.
3. Ketika bola benang tersebut ditangkap oleh anak tersebut, guru mengatakan sesuatu yang ia sukai atau hargai dari si anak penerima bola benang tadi.
4. Setelah ia memegang atau mengikatkan benang tersebut pada salah satu tangannya, selanjutnya si anak akan melemparkan bola benang tadi ke anak lain. Ketika bola tersebut ditangkap oleh temannya, maka ia akan memberikan komentar-komentar positif kepada teman yang menerima bola benang tersebut.
5. Proses ini akan terus berlanjut sampai semua anak telah mendapat kesempatan untuk menangkap dan melempar bola benang tersebut. Jaring laba-laba ini akan terbentuk setelah benang tersebut saling melintang dalam lingkaran.

Bahan-bahan yang digunakan:
Sebuah gulungan benang berbentuk bola.

Evaluasi/Refleksi :
Beri kesempatan pada anak-anak untuk mengungkapkan komentar sebagai reaksi terhadap perkataan orang yang melemparkan bola benang tersebut. Komentar reaktif tersebut dapat berupa menambahkan, memperjelas, atau sekedar mengungkapkan penghargaan kembali.
Permainan Intrapersonal : Menentukan Tujuan
Konteks kecerdasan jamak:
Permainan ini digunakan untuk membantu anakanak untuk mengenali kekuatan-kekuatan mereka; untuk menetapkan batasan-batasan, untuk memusatkan perhatian mereka pada tingkah laku tertentu atau area akademis tertentu yang membutuhkam peningkatan.

Hasil yang akan diperoleh dari para siswa:
Anak-anak akan memperoleh peningkatan kesadaran dan pengendalian diri sendiri. Anak-anak juga akan dapat mengembangkan kemampuan untuk menjadi pribadi yang terarah.

Prosedur pelaksanaan permainan :
1. Tanyakan pada anak-anak tentang ‘apa itu sebuah tujuan?’ Tolonglah mereka sehingga tercapai sebuah definisi kerja yang jelas.
2. Minta pada setiap anak untuk berpikir sesuatu tentang dirinya berdasarkan tentang apa yang ia ingin fokuskan. Mulailah dengan hal yang paling sulit terlebih dahulu. Berikan batasan pada perihal yang berhubungan dengan lingkungan sekolah atau rumah.
3. Tekankan bahwa anak-anak hadir disini untuk membantu dan mendukung satu sama lain dalam mencapai tujuannya masing-masing, dan mereka memiliki keleluasaan untuk berkembang. Seiring dengan mereka membagikan apa yang menjadi tujuan mereka, catatlah satu persatu di selembar kertas bergrafik berikut dengan nama masing-masing anak.
4. Sediakan waktu setiap hari untuk anak-anak merefleksikan kemajuan pribadi mereka. Tanyakan juga bagaimana anak yang lain telah mendukung kemajuan tersebut.
5. Tetapkan tujuan baru secara mingguan.


Bahan-bahan yang digunakan :
Kertas bergrafik dan alat tulis

Evaluasi/Refleksi :
Para siswa berefleksi tentang kemajuan yang dicapai melalui diskusi dan evaluasi diri berdasarkan telah tercapai atau tidaknya tujuan mereka

Permainan kecerdasan kinesthetik tubuh: Lompat Gatrik

Konteks kecerdasan jamak :
1. Kegiatan ini melibatkan proses belajar pergerakan meloncat dengan satu kaki dan melompat dengan dua kaki. Lalu tanyakan perbedaannya.
2. Beri waktu untuk anak-anak melakukan latihan kedua gerakan tersebut.
3. Buatlah kerangka lompat gatrik dengan mengunakan kapur, selotip, atau kertas. Peragakan bagaimana mengkombinasikan kedua gerakan tersebut.
4. Beri semangat para siswa untuk melakukan latihan melompat menggunakan kedua gerakan tersebut, secara berkesinambungan, di atas kerangka tersebut.


Bahan-bahan yang digunakan :
Bentuk bujursangkar atau bentuk lain yang dapat diletakan di atas lantai, kapur, selotip untuk membuat kerangka.

Evaluasi/Refleksi :
Amati kordinasi gerakkan dan pergerakan mengalir si anak ketika ia bermain lompat gatrik.

Permainan kecerdasan linguistik: Menceritakan Ulang Sebuah Dongeng

Konteks kecerdasan jamak :
Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada para murid untuk menceritakan ulang cerita yang telah mereka dengar.

Hasil yang akan diperoleh dari para siswa :
Anak-anak mampu menunjukkan sebuah pemahaman akan ide utama dan ide-ide pendukung dari sebuah cerita dengan cara menceritakan ulang ceritanya melalui sebuah peragaan atau permainan drama.

Prosedur pelaksanaan permainan :
1. Bacakan sebuah dongeng, buatlah supaya anak-anak menyimak pada alur dan plot dari cerita tersebut.
2. Setelah membacakan cerita tersebut, ulas beberapa hal utama dari cerita tersebut.
3. Tugaskan pada anak-anak untuk memainkan drama dari cerita tersebut dengan kata-kata mereka sendiri. Usahakan sebisa mungkin untuk tidak memberikan bimbingan. Tampilkan cerita tersebut berulang kali agar setiap orang mendapat kesempatan untuk tampil.

Bahan-bahan yang digunakan :
Dongeng-dongeng cerita rakyat.

Evaluasi/Refleksi :
Tanyakan pada kelas apakah mudah atau sukar untuk mengingat seluruh bagian dan urutan dalam permainan tersebut. Tanyakan apa yang mereka rasakan ketika sedang memerankan cerita tersebut? Strategi apa yang mereka gunakan apabila mereka lupa ceritanya ataupun urutannya? Catat seberapa tepatnya persepsi mereka dibandingkan dengan hasil pengamatan atas pementasan mereka.

Permainan kecerdasan logika-matematis: Bermain Restoran

Konteks kecerdasan jamak :
Pada kegiatan ini, anak-anak diperhadapkan dengan sejumlah kegiatan yang membantu mereka dengan pemahaman konseptual dan keterhubungan antara pecahan, desimal, dan persentasi. Sebelum permainan ini dimulai, anak-anak telah dilibatkan dalam kegiatan yang membutuhkan mereka untuk mendiskusikan panduan-panduan yang masuk akal dan yang tidak, serta untuk mengunakan matematika mental dan estimasi dalam menemukan panduan-panduan tersebut, konsep bentuk untuk menemukan persentasi dari sebuah angka.

Hasil yang akan diperoleh dari para siswa :
Anak-anak akan merancang restoran-restoran dengan menu-menu makanan yang menarik yang berisi daftar makanan dengan keterangannya dan harga yang logis. Sebagain dari mereka akan memesan dari restoran-restoran yang berbeda dan mencoba untuk tidak menghabiskan lebih dari Rp. 10.000,- . Anak-anak yang pergi mengunjungi restoran akan menghitung tagihan-tagihan dari perbelanjaan mereka ketika berkunjung ke restoran masing-masing. Para murid

Prosedur pelaksanaan permainan :
1. Para pendidik membutuhkan waktu untuk memberikan ulasan singkat tentang hasil yang hendak dicapai dan dan instruksi-instruksi yang jelas untuk langkah pertama, yaitu membuat menu makanan. Tugaskan pekerjaan rumah membuat menu makanan untuk sebuah restoran untuk setiap anak. Setiap jenis makanan harus memiliki keterangan yang menarik. Untuk itu sang pendidik perlu menjelaskan dan menerangkan tentang penggunaan kata yang menarik. Harga yang akan dipakai untuk menu makanan tersebut harus realistis.
2. Setelah anak-anak membawa pekerjaan rumah mereka, bagilah anak-anak ke dalam enam kelompok. Setiap anak mempunyai Rp 10.000,- untuk dibelanjakan dan mereka akan memesan dari kelima restoran yang perwakilannya berada di dalam kelompoknya. Anak-anak juga boleh memesan secara gratis dari restorannya sendiri.
3. Anak-anak, paling tidak, harus memesan satu jenis makanan dari setiap restoran dan memberikan ‘tip’ paling sedikit sepuluh persen (sepersepuluih dari perbelanaan) dan membelanjakan sebanyak/sebisa mungkin dari Rp. 10.000,- yang mereka milik tanpa melebihinya. Berikan hukuman untuk mereka yang melebihinya. Hal ini dapat diketahui saat mereka mengetahui jumlah pendapatan dan pengeluarannya.
4. Anak-anak harus menuliskan jumlah dan nama makanan yang dipesannya dan jumlah ‘tip’ yang akan diberikan pada formulir pemesan pada setiap restoran. Mereka juga diharuskan menuliskan estimasi pengeluaran dan peneimaan mereka agar merka dapat mengetahui jumlah pengeluran keseluruhan mereka.
5. Setelah selesai memesan, anak-anak harus memberikan formulir tersebut kepada pemilik restoran. Pemilik restoran melengkapi formulir dengan harga dari makanan. Gunakan kalkulator untuk menghitung sub total harga pemesanan, ‘tip’ dan jumlah keseluruhan harga yang harus dibayar.
6. Untuk menjaga agar perhitungan tidak dilakukan secara terburu-buru dan ceroboh, maka terapkanlah hukuman sebesar Rp2000,- untuk perhitungan tagihan yang salah. Uang hukuman ini akan diambil dari keuntungan yang diperoleh, bukan dari modal awal.
7. Setelah anak-anak menyelesaikan lembar laba dan penngeluaran, mereka akan mengirimkan cek ke masing-masing restoran tempat mereka memesan makanan.

Bahan-bahan yang digunakan :
Lembar kerja, kertas, alat tulis, persediaan peralatan seni. Untuk memainkan hal ini bagi anak-anak taman kanak-kanak, gantilah uang dan angka dengan kepingan-kepingan warna, atau kartu domino.

Evaluasi/Refleksi :
Hitung berapa banyak anak yang terkena hukuman karena pengeluaran yang berlebihan? Buat agar anak-anak mendaftarkan strategi-strategi yang dapat mereka gunakan untuk menghindarkan diri dari hukuman.

Permainan kecerdasan musikal: Bunyi-bunyi dari Kota
Konteks kecerdasan jamak :
Anak-anak dari pelbagai komunitas berbeda butuh untuk mengembangkan suatu kesadaran dan penghargaan dari hakekat yang unik dari alam perkotaan.

Hasil yang akan diperoleh dari para siswa :
Anak-anak akan mengenali suara-suara yang ada di perkotaan.

Prosedur pelaksanaan permainan :
1. Munculkan suara yang unik bagi suatu daerah perkotaan dan buatlah daftar dari suara-suara ini dalam kertas grafik. Misalnya memperlihatkan gambar stasiun kereta dan suara kereta lewat. Perlihatkan gambar-gambar dari pemandangan-pemandangan perkotaan yang berbeda untuk memperkuat aktivitas ini.
2. Jika lingkungan sekolah atau rumah terletak di daerah perkotaan ajaklah anak-anak untuk merekam suara-suara di sekitar halaman. Sebagai tugas rumah, anak-anak dapat diminta untuk merekam suara-suara di lingkungan tetangga mereka.
3. Instruksikan anak-anak untuk membuat irama nyanyian berdasarkan pada daftar suara yang sudah diciptakan lebih dahulu. Gunakan kaset-kaset contoh untuk mendukung ‘sensasi’ dari nyanyian tersebut. Kalau perlu gunakan alat perkusi.

Bahan-bahan yang digunakan:
Gambar-gambar pemandangan kota, alat perekam, pemutar kaset, instrumen perkusi, kertas grafik, alat tulis.

Evaluasi/Refleksi:
Apakah anak-anak mampu untuk mengenali suara-suara perkotaan? Adakah dan apakah perbedaan suara yang dikumpulkan setiap anak? Generalisasi apa yang dapat ditarik oleh anak-anak dari informasi ini?

Permainan kecerdasan Spatial : Empat Arah

Konteks kecerdasan jamak :
Tujuannya adalah untuk merangsang pemahaman anak akan peta, negara-negara, pulau-ulau dan benua-benua, dengan cara memperkenalkan anak kepada ke empat arah geografis.

Hasil yang akan diperoleh dari para siswa :
Anak akan mampu mengenali arah mata angin di lingkungan alam mereka dan di peta.

Prosedur pelaksanaan permainan :
1. Kenalilah arah utara, selatan, timur, barat pada tembok-tembok di dalam kelas. Buatkanlah labelnya.
2. Satu persatu para murid mengikuti arahan dari guru untuk bergerak di dalam kelas.
3. Para anggota kelas memberikan petunjuk-petunjuk arahan untuk diikuti oleh guru.
4. Bersama rekan, para murid saling mengarahkan menggunakan petunjuk-petunjuk arahan.
5. Pada peta pribadi (misalkan; peta Jakarta), setiap siswa memberikan label Utara, Selatan, Timur, dan barat dengan menggunakan kompas.



Bahan-bahan yang digunakan :
Kartu-kartu bertuliskan arah-arah mata angin, selotip, alat tulis, peta, serta kompas.

Evaluasi/Refleksi :
Amati kecermatan dan ketepatan para siswa mengikuti pengarahan oral, label, dan peta berwarna.

Permainan Kecerdasan Alam

Konteks kecerdasan jamak :
Tujuannya adalah untuk merangsang pemahaman anak akan rantai makanan yang terdiri dari jenis-jenis tanaman dan keseluruhan faktor ekologi yang terkait.

Hasil yang akan diperoleh dari anak-anak:
Anak akan mampu mengenali pentingnya setiap mahluk yang sederhanapun.

Prosedur pelaksanaan permainan :
1. Bawalah anak ke tepi sebuah sawah.
2. Ajaklah mereka mengamati hewan-hewan apa saja yang ada di sawah
3. Ajaklah mereka mengamati tanaman-tanaman yang ada disana
4. Jelaskan bagaimana padi tumbuh karena ada bibit, bibit bertumbuh karena adanya tanah, tanah berguna bila dibajak petani, kemudian bicarakan mengenai hama seperti tikus, dan bagaimana ular sawah membunuh tikus.
5. Kembalilah ke rumah atau ke sekolah, lalu buatlah dari kertas gambar mata rantai bagaimana petani makan nasi, padi tumbuh karena tanah, sementara tanah memerlukan hujan, dan hama dibunuh oleh ular sawah.
6. Simulasikan apa yang akan terjadi bila ular sawah dibunuh petani. Tikus akan bertambah merajalela, kemudian akan menghabiskan padi di sawah.
Bahan-bahan yang digunakan:
Karyawisata, karton manila, dan spidol

Evaluasi/Refleksi:
Amati kecermatan dan ketepatan anak-anak mengadakan pengamatan dan menghasilkan pemahaman tentang mata rantai makanan.

Permainan untuk meningkatkan kecerdasan eksistensial

Konteks kecerdasan jamak :
Tujuannya adalah untuk merangsang keberanian anak untuk mempertanyakan makna suatu gejala yang ia lihat

Hasil yang akan diperoleh dari anak-anak:
Anak akan mampu mengenali pentingnya mengajukan pertanyaan yang menggali makna.

Prosedur pelaksanaan permainan :
1. Bawalah anak ke tepi sebuah lapangan terbang.
2. Ajaklah mereka mengamati jenis-jenis urusan yang dikerjakan orang di lapangan terbang, dari check in counter, bagasi, pengisian bahan bakar, pengaturan pendaratan, dan keseluruhan sistem lain
3. Ajaklah mereka mengamati proses atau prosedur yang ada
4. Kembalilah ke rumah atau ke sekolah, lalu ajaklah mereka menggambarkan apa yang mereka alami dan lihat.
5. Ajaklah mereka bertanya apa akibat dari hubungan yang buruk antara salah satu bagian lapangan terbang dengan bagian lainnya. Misalkan bagian pendaratan tertidur dan sebuah pesawat sudah minta mendarat.
6. Simulasikan apa yang akan terjadi.
7. Ajak anak berbicara mengenai kaitan-kaitan dan makna-makna.

Bahan-bahan yang digunakan:
Karyawisata, karton manila, dan spidol

Evaluasi/Refleksi:
Amati kecermatan dan ketepatan anak-anak mengadakan pengamatan dan menghasilkan pemahaman tentang mata rantai sistem dan makna sebuah aktifitas di lapangan terbang.

PENUTUP
Ada banyak cara menghasilkan suasana dimana kecerdasan jamak menjadi konsep dasar dalam proses pendidikan. Sepanjang melakukan hal tadi, suatu filsafah yang menjadi tumpuannya adalah bahwa para pelajar/anak atau murid adalah mereka yang dilayani dan diberikan suasana yang memungkinkan mereka bertumbuh. Mereka tidak dicetak atau dipaksa menjadi sesuatu yang tidak cocok dengan kemampuan khas dan minat mereka. Dengan kata lain, pendidik berfungsi sebagai bidan yang membantu proses kelahiran seorang bayi. Dengan sabar ia menolong proses tadi berjalan, serta dengan bijak saja dan waspada. Kebanggannya ialah apabila hasil dari proses tadi bertumbuh dan berkembang.

f: multipleinteliggences