This nice Blogger theme is compatible with various major web browsers. You can put a little personal info or a welcome message of your blog here. Go to "Edit HTML" tab to change this text.
RSS

Tuesday, 6 October 2009

POTRET, HAKIKAT, DAN TARGET ANAK TAMAN KANAK-KANAK DALAM BELAJAR NILAI-NILAI KEAGAMAAN

A. Potret Kegiatan Anak Taman Kanak-kanak Dalam belajar Nilai-nilai Keagamaan
Salah satu kelemahan dari Garis-garis Besar Kegiatan Belajar Taman Kank-kanak 1994, yang berdampak pada munculnya keaneka-ragaman peyelenggaraan program tersebut yang dilakukan oleh Taman Kanak-kanak di seluruh negeri ini. Bahkan secara pribadi penulis menemukan data dari hasil observasi para mahasiswi PGTK FIP Universitas Jakarta sejak tahun 2000 sampai 2004, ada sekitar 60% Taman Kanak-kanak yang tidak mempunyai kurikulum yang jelas tentang pengembangan nilai-nilai keagaman tersebut.
Ketidak jelasan ini merupakan indikasi betapa kita kurang adil dalam memperlakukan anak didik dalam hal pembentukkan kepribadiannya dan pengembangan berbagai potensi yang ada pada diri anak.. Bila kondisi seperti ini dibiarkan begitu saja, tentu jangan salahkan anak bila dalam perkembangan hidupnya anak mengarah pada penguasaan potensi akademik belaka, dan sangat minim dalam penguasaan aspek nilai-nilai keagamaan.

B. Hakikat Belajar Anak Taman Kanak-kanak Pada Nilai-nilai Keagamaan
Dunia pendidikan secara makro, tampaknya cukup beralasan bahwa untuk dapat menuju masyarakat pembelajar baru diperlukan sedikitnya 3 langkah pembaharuan, yaitu dalam hal melakukan program pengajaran ketertinggalan pelajaran di sekolah, mendifinisikan ulang apa yang harus diajarkan di sekolah, dan mempolakan kurikulum ke dalam 4 pilar dengan penilaian diri dan pelatihan keterampilan hidup sebagai komponen kuncinya (Gordon Dryden et.a! 1999:84).
Willian Dagett mengatakan dunia yang akan ditinggali anak-anak kita berubah lebih cepat dari pada sekolah-sekolah kita (Dagett dalam Gordon. D, 1999: 102). Salah satu hal yang patut kita kaji ulang dalam kaitannya dengan proses kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-kanak saat ini adalah melakukan inovasi dalam pendekatan pembelajarannya. Sebab anak usia Taman Kanak-kanak pada hakikatnya memiliki keunikan yang membedakannya dengan usia pada strata berikutnya. Maka, pendekatan pembelajarannya pun seyogyanya mempertimbangan aspek serta kemampuan anak itu sendiri (Developmentally Appropriate Practice).
Peter Kline dalam Gordon D. (1992:22) mengatakan: belajar akan efektif jika dilakukan dalam suasana menyenangkan. Kaitannya dengan hakikat belajar anak Taman Kanak-kanak pada nilai-nilai keagamaan, seharusnya kita memahami bahwa hal itu harus berorentasi pada fungsi pendidikan Taman Kanak-kanak itu sendiri. Kita ketahui bahwa fungsi pendidikan di Taman Kanak-kanak adalah fungsi adaptasi, fungsi pengembangan dan fungsi bermain (Bernard van leer Foundation, 2002: 13-15). Berkaitan dengan fungsi pengembangan, peranan pendidikan anak usia prasekolah adalah dalam rangka mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki anak. Setiap unsur potensi yang dimiliki anak membutuhkan suatu situasi atau lingkungan yang dapat menumbuhkan kembangkan potensi tersebut ke arah perkambangan yang optimal sehingga menjadi potensi yang bermanfaat bagi anak itu sendiri maupun lingkungannya.
Hakikat belajar anak Taman Kanak-kanak pada waktu mempelajari apapun termasuk nilai-nilai keagamaan, secara garis beasarnya dapat dikategorikan menjadi 6 prinsip dasar penyelenggaraan pendidikan di Taman Kanak-kanak. Ke enam prinsip tersebut adalah :
1. Prinsip pengamatan, menyerapan segala informasi melalui indera penglihatan yang kemudian dikirim ke pusat syaraf.
2. Prinsip peragaan, Segala aspek pengetahuan atau informasi yang dipandang/dilihat baik kokret maupun abstrak seperti pesan-pesan moral dan sikap keagamaan harus diperagakan secara langsung oleh pendidik maupun secara bersama-sama dilakukan/ditirukan oleh anak itu sendiri. Melalui aktivitas peragaan ini, anak dapat menangkap suatu pesan atau informasi secara langsung dan konkret.
3. Prinsip bermain untuk belajar, suatu kondisi aktivitas yang dirancang secara terprogram dan mengandung esensi tujuan yang jelas. Tujuan yang dimaksud adalah belajar.
4. Prinsip otoaktivitas, mengandung makna bahwa anak menunjukan keaktifannya yang tumbuh atas dorongan dari dalam dirinya sendiri.
5. Prinsip kebebasan, diberikan dalam rangka membangun rasa tanggungjawab sesuai dengan kemampuannya, seperti diizinkan untuk membuat keputusan, memilih, dan diberikan kesempatan untuk hal-hal tertentu.
6. Prinsip keterkaitan dan keterpaduan adalah suatu hal yang secara faktual melekat pada diri anak usia prasekolah. (Bernad van leer Foundation. 2002: 16-21).
C. Target
Sasaran yang hendak dicapai pada saat kita akan mengembangkan nilai-nilai keagamaan pada anak Taman Kanak-kanka adalah mewarnai pertumbuhan dan perkembangan dari diri mereka. Target ini didasarkan pada dua pemikiran bahwa pada hakikatnya anak:
1. Dilahirkan dalam keadaan suci maka ayah dan ibunya yang turut menentukan mau menjadi pemeluk agama apa kelak di kemudian hari.
2. Pada awal kehidupannya anak yang normal tentu akan melalui tahapan tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan (tinjauan psikologis).Atas dasar itulah maka kita sebagai pendidik, diharapkan akan mampu memberi warna keagamaan pada setiap pertumbuhan dan perkembangannya secara maksimal.
Dari target diharapkan akan muncul suatu dampak positif yang berkembang pada dimensi kemanusiaan anak itu sendiri, yang meliputi fisik, akal pikirannya, akhlak, perasan kejiwaan, estetika, dan kemampuan sosialisasinya diwarnai dengan nilai keagamaan.