This nice Blogger theme is compatible with various major web browsers. You can put a little personal info or a welcome message of your blog here. Go to "Edit HTML" tab to change this text.
RSS

Wednesday, 14 October 2009

PENANGANAN GANGGUAN W ICARA ANAK AUTIS DENGAN MENGGUNAKAN SPEECH THERAPY DENGAN METODE ABA (APPLIED BEHA¬VIOUR ANALYSIS)

A. Latar Belakang
Pendidikan di Taman Kanak-kanak diperuntukkan bagi ana usia 4 samapi 6 tahun. Pendidikan ini bertujuan untuk memfasilitasi seluruh aspek perkembangan anak supaya dapat berkembang secara maksimal dan merupakan suatu upaya untuk mempersiapkan anak masuk sekolah dasar. (Kurikulum Taman Kanak-kanak, 2004). Pada masa kanak-kanak merupakan masa (golden age) yaitu masa keemasan dalam perkembangan anak, dalam masa golden age ada sebagian anak mengalami gangguan dalam perkembangan psikisnya. Perkembangan psikis yang timbul harus segera mendapat penanganan supaya anak dapat hidup normal.
Pada kehidupan yang serba modern ini banyak gangguan yang terjadi pada masa perkembangan anak salah satunya yaitu anak menjadi autis. Autis pada anak disebabkan oleh kesibukan orang tua yang semuanya bekerja membuat peran dalam mendidik anak cenderung berkurang yang meng¬akibat¬kan ku¬rangnya ikatan emosional de¬ngan anaknya, karena peran orang tua banyak dialihkan pada pem-bantu, baby sister, dan pengasuh. Hal lain akibat dari kurang per¬hatian terhadap perkembangan anak, yakni ter¬lambat¬nya identifikasi per¬kembangan anak.
Saat orang tua menyadari keterlambatan per¬kembangan anak maka ibu segera mem¬bawa anaknya untuk konsultasi dengan dokter atau psikiater anak. Bila di diagnosis autisme, bia¬sanya didasari tanda-tanda se¬perti tidak pernah mentap atau tersenyum ketika diajak bercanda, tidak bisa bermain dengan anak lainnya, lebih tertarik pada benda diban¬dingkan dengan manusia, tidak ada kontak mata, kesulitan ber¬komunikasi, menunjukkan amarah yang meledak-ledak disertai temper tantrum (ke¬tidak mampuan anak untuk meng¬komu¬nikasikan keinginan maupun kebutuhan), me¬lukai diri sendiri (self abuse), hiperaktivitas, dan tingkah laku motorik yang berulang-ulang (Jawa Pos, Agustus 2005).
Salah satu ciri autisme adalah adanya kelambanan berbicara, kelambanan ini perlu segera ditangani salah satu alternatif penanganannya dapat menggunakan terapi wicara (speech therapy) dengan metode ABA (Applied Beha¬viour Analysis). Metode ABA (Applied Beha¬viour Analysis) adalah ilmu yang menggunakan prosedur perilaku untuk membantu individu membangun kemampuan dengan ukuran nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. (Y. Azwandi, 2005). Metode ABA (Applied Behavior Analysis) ini bertujuan untuk membentuk perilaku atau menguatkan perilaku positif dan mengurangi atau menghilangkan perilaku yang negatif atau tidak diinginkan. Upaya penanganan di atas diharapkan dapat membantu mengatasi gangguan wicara anak usia dini yang ngalami autisme.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas disusun rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah pengertian dan gejala anak autis?
2. Faktor apa yang menjadi penyebab anak autif?
3. Bagaimana cara menangani gangguan wicara pada anak autis?

C. Tujuan
Tujuan dari penulisan ini sebagai berikut:
1. Mengetahui dan memahani pengertian dan gejala anak autis.
2. Mengetahui faktor penyebab anak autis.
3. Meurumuskan upaya penanganan untuk anak mengatasi gangguan wicara anak autis.

D. Analisis Permasalahan
Seorang anak yang mengalami autis, akan mengalami tanda-tanda se¬perti tidak pernah mentap atau tersenyum ketika diajak bercanda, tidak bisa bermain dengan anak lainnya, lebih tertarik pada benda diban¬dingkan dengan manusia, tidak ada kontak mata, kesulitan ber¬komunikasi, menunjukkan amarah yang meledak-ledak disertai temper tantrum (ke¬tidak mampuan anak untuk meng¬komu¬nikasikan keinginan maupun kebutuhan), me¬lukai diri sendiri (self abuse), hiperaktivitas, dan tingkah laku motorik yang berulang-ulang. Kesulitan untuk berbicara pada anak autis perlu mendapat penanganan,anak autis di lembaga anak usia dini i perlu mendapat perlakukan yang khusus, sehingga seorang guru dalam memfasilitasi anak perlu melihat kondisi anak.
Autisme berasal dari kata “auto’ yang berarti sendiri. Penyandang autisme seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Istilah autisme baru diper¬kenalkan sejak tahun 1913 oleh Leo Kanner, sekalipun kelainan itu sudah ada sejak berabad-abad yang lampau. Au¬tisme bukan suatu gejala penyakit tetapi berupa sindroma (kumpulan gejala) di¬mana terjadi penyimpangan per¬kem¬bangan sosial, kemam¬puan berbahasa, dan kepedulian terhadap se¬kitar sehingga a¬nak autisme seperti hidup da¬lam dunia¬nya sen¬diri (Handojo, 2003).
Autisme adalah suatu keadaan di¬mana seseorang anak berbuat semau¬nya sen¬diri baik cara berfikir maupun berperilaku. Keadaan ini mulai terjadi sejak usia masih muda, biasanya sekitar usia 2-3 tahun. Au¬tisme bisa mengenai siapa saja, baik sosio-ekonomi mapan maupun kurang, anak-anak atau¬pun de¬wasa dan semua etnis (Faisal Ya¬tim da¬lam Kasih, 2006).
Dapat disimpulkan utisme merupakan sindroma yang sangat kompleks. Ditandai dengan ciri-ciri kurangnya kemampuan interaksi sosial dan emosional, sulit dalam komu¬ni¬kasi timbal ba¬lik, minat terbatas, dan perilaku tak wajar di¬sertai gerakan ber¬ulang tanpa tujuan (stereo¬tipic).
1. Gejala Anak Autis
Bila di diagnosis autisme, bia¬sanya didasari tanda-tanda se¬perti tidak pernah mentap atau tersenyum ketika diajak bercanda, tidak bisa bermain dengan anak lainnya, lebih tertarik pada benda diban¬dingkan dengan manusia, tidak ada kontak mata, kesulitan ber¬komunikasi, menunjukkan amarah yang meledak-ledak disertai temper tantrum (ke-tidakmampuan anak untuk meng¬komu¬nikasikan keinginan maupun kebutuhan), me¬lukai diri sendiri (self abuse), hiperaktivitas, dan tingkah laku motorik yang berulang-ulang (Jawa Pos, Agustus 2005). Khusus dalam gangguan kualitatif dalam bidang komu¬nikasi seperti ditunjukkan oleh minimal satu dari gejala-gejala dibawah ini:
a. Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tak berkembang (dan tidak ada usaha untuk meng¬imbangi komu¬nikasi dengan cara lain tanpa bicara).
b. Bila bisa bicara, biasanya tidak dipakai untuk komunikasi sering menggunakan bahasa aneh dan diulang-ulang.
c. Cara bermain kurang variataif, ku¬rang imajinatif, dan kurang bisa meniru.


2. Faktor Penyebab Anak Autis
Penyebab anak autis di lembaga anak usia dini, khususnya Taman Kanak-kanak penyebab anak autis dikarenakan pola asuh orang tua yang salah. Orang tua cenderung sibuk dengan segala aktifitasnya, sehingga antara anak dan orang tua tidak ada komunikasi. Tidak adanya komunikasi antara orang tua dan anak berakibat pada anak cenderung temper tantrum (ketidakmampuan anak untuk meng¬komu¬nikasikan keinginan maupun kebutuhan), me¬lukai diri sendiri (self abuse), hiperaktivitas, dan tingkah laku motorik yang berulang-ulang.
Penyebab autisme sendiri masih be¬lum jelas benar bagaimana terjadinya gejala (potologi) dari autisme. Beberapa petunjuk me¬¬¬ng¬¬arah pada kelainan di otak kecil (cere¬bellum), kelainan organik seperti pheny¬hetonarin, tuberous scle¬rosis, fragile x syn¬drome, congenital rubella syndrome, dan ke-racunan timbal (Pb). Namun pada kebanyakan kasus anak dengan autistic tidak dapat ditemu¬kan dasar penyebabnya. Be¬berapa faktor yang disebut sebagai pemicu adalah: faktor genetika, zat kimia beracun, kontaminasi logam berat, vaksinasi virus gluten dan casein, jamur, usus berpori.
( http://fpsikologi.wisnuwardhana.ac.id).

E. Pemecahan Masalah
1. Penanganan
Penanganan yang dapat dilakukan sebagai berikut:
Mengoptimalkan Peran orang tua dalam penyem¬buhan anak penderita autisme sangatlah pen¬ting. Se¬lain harus melakukan peng¬obatan secara me¬dis, orang tua juga di¬tun¬tut bijak dan sabar me¬ng¬hadapi kon¬disi anak. Sebagian besar karena orang tua tidak bijak dan sabar meng¬hadapi kondisi anak. Sebagian besar karena orang tua tidak paham dengan pe¬nya¬kit anaknya. Mereka hanya meng¬andalkan terapi tanpa berusaha mencari tahu berbagai hal yang baik dan yang buruk selama proses penyembuhan dalam.
Selain itu sangat perlu dipahami oleh para orang tua bahwa terapi harus dimulai sedini mung¬kin sebelum usia 5 tahun. Perkem¬bangan paling pesat dari otak ma¬nusia terjadi pada usia 2-3 tahun. Oleh ka¬rena itu penata laksanaan terapi setelah usia 5 tahun hasilnya berjalan lebih lambat.
Upaya yang dapat dilakukan untuk menanganani anak autis dengan menggunakan terapi. Jenis terapi yang digunakan antara lain: Terapi Perilaku, Terapi Okupasi/menguatkan otot, Terapi Wicara, Sosialisasi dengan menghilang¬kan perilaku tak wajar, - Terapi Biomedik (obat, vitamin, mineral, food supplemen, Sosialisasi ke sekolah regular, - Sekolah Khusus.

2. Penggunakan Speech Therapy Dengan Metode ABA (Applied Beha-viour Analysis) untuk anak autis.
Penerapan speech therapy dengan metode ABA (Applied Beha¬viour Analysis) untuk anak autis dilakukan sebagai berikut:
Dalam penerapannya, metode ABA (Applied Behavior Analysis) ini
menggunakan konsep A (Antecedent), B (Behavior), dan C (Consequence). Artinya penerapan metode ABA (Applied Behavior Analysis) ini harus ada
instruksi, respon yang muncul setelah adanya instruksi dan konsekuensi yang
didapatkan anak setelah merespon instruksi. Pada lembaga pendidikan anak usia dini khususnya di Taman Kanak-kanak dapat dilakukan dengan menggunakan permainan kata. Langkah-langkah yang dapat dilakukan:
1. Guru menyediakan kartu gambar dan kata.
2. Guru mengajak anak untuk mengucapkan kata dengan meniru ucapkan guru, sehingga dengan begitu anak akan berusaha mengucapkan kata-kata dari guru setelah guru mengucapkan, seperti itu lama kelamaan di harapkan anak dapat berbicara lebih baik.

F. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Anak Autis adalah anak yang mengalami sindroma yang sangat kompleks. ditandai dengan ciri-ciri kurangnya kemampuan interaksi sosial dan emosional, sulit dalam komu¬ni¬kasi timbal ba¬lik, minat terbatas, dan perilaku tak wajar di¬sertai gerakan ber¬ulang tanpa tujuan (stereo¬tipic). gejala ini biasanya telah terlihat sebelum usia 3 tahun.
2. Faktor-faktor yang menyebabkan anak autis adalah faktor genetika, zat kimia beracun, kontaminasi logam berat, vaksinasi virus gluten dan casein, jamur, usus berpori.
3. Cara Penanganan gangguan wicara anak autis di Taman Kanak-kanak, dengan menggunakan metode ABA (Applied Behavior Analysis), yang dilakukan dengan menggunakan kartu kata.

G. DAFTAR PUSTAKA
Azwandi, Y. 2005. Mengenal Dan Membantu Penyandang Autisme. Jakarta: Depdiknas.

Departemen Pendidikan Nasional.2004. Kurikulum 2004 Standart Kompetensi Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal. Jakarta.: Depdiknas.

Handoyo, Y.2003.Autisme.Jakarta : PT. Buana Ilmu Populer

Jawa Pos. 7 Agustus.Visite.2005

Kasih, M..2006. Pengaruh Pemahaman Tentang Autisme Terhadap Pe¬nerimaan Ibu Yang Memiliki A¬nak Autisme Di Pusat Terapi Anak Dengan Kebutuhan Khusus A Plus Malang.Universitas Wisnuwardhana Malang.

Wijaya , Nurwachid Subchan. Pemahaman Tentang Autisme Terhadap Penerimaan Orang Tua Yang Memiliki Anak Autisme. http://fpsikologi.wisnuwardhana.ac.id diakses 17 Mei2009.